-->
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Highlights

WBS
WBK
TV-TANI
Saber Pungli
Sigap UPG
Lapor.go.id
Ejurnal
pui-balittri
SKM
perpus_digital
PPID
Pakar Kopi
Kalender Tanam
satu-layanan

Kalender Kegiatan

Video

Social Media

Download

Online

Terdapat 42 Tamu online

Polling

Apakah Situs Web Ini Informatif ?
 

Statistik

Jumlah Kunjungan Konten : 1254027
Diskusi Mengurai Permasalahan Hulu-Hilir Industri Kakao Indonesia PDF Cetak E-mail
Berita Internal
Oleh Nur Ajijah   
Senin, 28 Oktober 2019 07:30

Permasalahan penting kakao di Indonesia pada saat ini adalah terus menurunnya produktivitas dan produksi kakao nasional yang diprediksi sudah mencapai level yang sangat rendah yaitu 200.000 kg biji kering/tahun sementara kapasitas terpasang industri kakao di dalam negeri mencapai 800.000 kg biji kering/tahun. Kondisi ini mengakibatkan mandeknya industri kakao nasional akibat ketidak tersediaan bahan baku. Impor bahan baku menjadi hal yang tidak dapat dihindari lagi. Berbagai hal terkait upaya untuk meningkatkan produktivitas dan produksi kakao nasional serta menggairahkan kembali industri kakao di dalam negeri telah didiskusikan di dalam FGD (Focus Group Discussion) bertajuk "Regulasi Hulu Hilir Industri Kakao Indonesia" di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta (28/10).

FGD yang dilaksanakan dalam rangkaian acara menuju Indonesia Internatinal Cocoa Conference yang akan diselenggarakan oleh Asosiasi Kakao Indonesia (ASKINDO) didukung Kemenko Perekonomian di Nusa Dua, Bali 14-15 November 2019 ini dihadiri oleh berbagai stakeholder kakao antara lain Asosiasi Industri Kakao Indonesia (AIKI), Dewan Kakao Indonesia, ASKINDO, Direktorat Jenderal Perkebunan (Dirjenbun), Partnership for Indonesias Sustainable Agriculture (PISAgro), Cocoa Sustainability Partnership (CSP), Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka) dan Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (Balittri). Dalam diskusi yg dipimpin oleh Deputi bidang pangan dan pertanian Mushdalifah Mahmud, Direktur CSP menyampaikan rencana subsidi pupuk spesifik kakao dan roadmap program 2019-2030 menuju protas kakao 2000 kg/ha sementara AIKI menyampaikan permasalahan dan peluang pengembangan industri kakao di Indonesia serta usulan pentingnya meninjau kembali regulasi terkait bea masuk dan bea keluar untuk bahan baku biji dan produk olahan kakao. Dalam kesempatan tersebut Balittri menyampaikan usulan kemungkinan dibentuknya konsorsium kakao yang beranggotakan seluruh stakeholder kakao untuk menyatukan persepsi dan langkah sehingga penyelesaian permasalahan kakao tidak bersifat sektoral.

 

Artikel terkait