Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
WBS
LPSE
TV-TANI
Lapor.go.id
baittri-siap-zi
perpus_digital
Kalender Tanam
PPID
Saber Pungli
pui-balittri
SKM
WBK
Pakar Kopi
Ejurnal
satu-layanan
Sigap UPG

Kalender Kegiatan

Video

Social Media

Download

Online

Terdapat 38 Tamu online

Polling

Apakah Situs Web Ini Informatif ?
 

Statistik

Jumlah Kunjungan Konten : 1988209
Mendongkrak Prospek Agribisnis Kakao PDF Cetak E-mail
Berita Internal
Oleh Lia Anggraini   
Jumat, 07 Agustus 2020 07:30

Komoditas kakao masih tetap menjadi sumber devisa bagi negara. Meskipun tren ekspor komoditas kakao beberapa tahun belakang ini mengalami penurunan. Ir Beddy Soedjarmoko, M. Si Selaku Peneliti Ahli Utama di bidang Sosial Ekonomi Pertanian menyampaikan ada berbagai faktor yang menjadi penyebab menurunnya angka ekspor. “Kita Masih mengekspor dalam bentuk biji dan bubuk (bahan mentah), sehingga penciptaan terhadap nilai tambah relatif minim”, ungkapnya dalam acara Bimtek Kupas Tuntas Komoditas Kakao, Kamis (6/8).

Lebih lanjut Ia menambahkan sebagian besar perkebunan kakao yang ada di Indonesia merupakan perkebunan rakyat, dimana kondisinya tanamannya sudah tua dan rusak. Menurutnya, hal ini akan sejalan dengan produktivitas yang dihasilkan. Belum lagi berbagai faktor lainnya seperti perubahan iklim, peran swasta, hingga policy atau kebijakan yang melekat untuk komoditas ini. Lantas apa yang sebaiknya dilakukan untuk mengatasi permasalahan diatas. Bagi Ir. Beddy Sudjarmoko, M.Si diperlukan sebuah dukungan yang kemudian diformulasikan untuk mendorong agribisnis sektor kakao. “Kebijakan, penyediaan bahan baku, kampanye, investor dan diversifikasi merupakan strategi yang harus menjadi prioritas”, Tegasnya 

Pemerintah melalui Kementerian Pertanian tentu saja telah mengambil peranan yang penting. Semua cara terus dilakukan agar dapat mengoptimalkan ekspor kakao. Berbagai kerjasama melalui wadah diplomasi baik nasional maupun internasional dijalin dalam upaya  pengurangan tarifikasi kakao di eropa. Bahkan melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), Kementerian Pertanian meningkatkan program Bun 500 yakni dengan menyediakan benih kakao unggul. Tujuannya tentu saja  untuk meningkatkan nilai produksi kakao nasional.

Hingga saat ini, kebutuhan akan konsumsi kakao di pasar dunia khusunya Uni Eropa pun semakin meningkat. Tentu saja ini merupakan peluang yang dapat ditangkap, dengan memerhatikan segala aspek untuk meningkatkan nilai ekspor kakao. Perlu dukungan dari semua pihak, mulai dari pemerintah hingga swasta dan tentu saja stakeholder lainnya . Pada akhirnya semua upaya tersebut  akan bermuara pada peningkatan kesejahteraan petani kakao di Indonesia. Semoga.

 

Artikel terkait