Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
TV-TANI
SKM
Sigap UPG
pui-balittri
WBS
PPID
Pakar Kopi
Kalender Tanam
Lapor.go.id
Saber Pungli
perpus_digital
Ejurnal
WBK
satu-layanan
LPSE

Kalender Kegiatan

Video

Social Media

Download

Online

Terdapat 16 Tamu online

Polling

Apakah Situs Web Ini Informatif ?
 

Statistik

Jumlah Kunjungan Konten : 1667453
Potensi Klon Lokal sebagai Sumber Bibit Kakao PDF Cetak E-mail
Berita Internal
Oleh Yulius Ferry   
Kamis, 15 Oktober 2020 07:30

Tanaman kakao telah dikembangkan 30 tahun yang lalu. Pengembangan tanaman kakao salah satunya selain dengan Somatik Embriogenesis (SE) juga dengan bibit hibrida. Bibit hibrida berasal dari kebun yang dibangun dengan menanam secara bersama-sama (poliklonal) 4-5 klon kakao, dengan harapan akan terjadi perkawinan silang antar klon-klon yang ditanam. Perkawinan terbuka (open polination), walaupun ada klon yang dianggap sebagai pejantan (polen) adalah SCa 6, sedangkan yang lain sebagai pohon induk. Namun bisa saja terjadi perkawinan dimana bunga jantan (polen) berasal dari bukan klon pejantan (SCa) tetapi dari klon yang lain. Demikianlah terjadi perkawinan antar klon yang ditanam pada kebun induk, dan bibit yang dihasilkan merupakan bibit hibrida hasil perkawianan terbuka tersebut.

Di lapangan bibit hibrida yang dikembangkan tersebut menjadi beragam baik bentuk, warna buah maupun genetiknya, demikian juga dengan produksinya. Dibeberapa daerah muncul individu (aksesi) yang produksi tinggi sekali, namun ada juga yang sangat jelek. Hal tersebut terjadi disebabkan oleh perkawinan yang terbuka tersebut, tidak diketahui pejantan yang membuahi bunga betina pohon induk, sehingga daya gabungnya menjadi tidak jelas. Klon Bl50 yang berasal dari Kabupaten 50 Kota, Sumatera Barat, salah satu contoh klon berdasarkan seleksi pada populasi tanaman yang berasal dari pertanaman bibit hibrida tersebut. Hal yang sama akan ditemui di daerah lain, individu-individu yang mempunyai produksi yang tinggi.

Tanaman kakao termasuk tanaman spesifik lokasi, artinya tanaman yang baik pada suatu daerah belum tentu sama baiknya di daerah lain yang berbeda. Artinya mendatang bibit kakao yang baik dari satu daerah, tidak lebih baik di daerah lainnya. Sebaliknya menyediakan bibit lokal di lokasi yang sama akan lebih baik dibandingkan dengan mendatang dari daerah lain. Klon lokal telah beradaptasi di daerah tersebut.

Dengan demikian untuk penyediaan bibit kakao, sebaiknya mencari kakao unggul lokal yang terdapat di daerah tersebut. Sehingga sumber bibit kakao menjadi lebih banyak (setiap sentra produksi kakao), tidak terfokus pada suatu sumber bibit yang jumlahnya terbatas dan belum beradaptasi. Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (Balittri) sebagai pemegang mandat tanaman penyegar (kakao) dapat ditugaskan dalam menseleksi untuk mendapat klon unggul lokal  di daerah-daerah sentra pertanaman kakao.

Lokasi spesifik dapat dibagi menurut pulau dengan daerah yang memiliki luas areal terluas di pulau tersebut. Berdasarkan hal tersebut akan diperoleh sekitar 13 daerah sebagai sentra produksi bibit di Indonesia (Tabel 1).

Tabel 1. Daerah sumber bibit kakao spesifik lokasi (unggul lokal)

No.

Kepulauan

Daerah sumber bibit dan pengembangan

1.

Sumatera

(1) Aceh, (2) Sumatera Barat, dan (3) Lampung

2.

Jawa

(4) Jawa Timur

3.

NTT/NTB /Bali

(5) NTT

4.

Kalimantan

(6) Kalimanta Barat, (7) Kalimantan Timur dan (8)Kalimantan Utara

5.

Sulawesi

(9) Sulawesi Tengah, (10) Selatan, (11) Tenggara dan Barat

6.

Maluku dan Papua

(12) Maluku Utara dan (13) Papua Barat

Daerah yang belum memiliki sumber bahan tanaman unggul lokal, segera melakukan usulan melepas klon unggul lokal. Sedangkan daerah yang telah memeiliki klon unggul lokal segera memproduski bibit.

 

Artikel terkait