-->
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Highlights

PPID
Lapor.go.id
Kalender Tanam
Ejurnal
perpus_digital
Sigap UPG
TV-TANI
Saber Pungli
SKM
WBS
WBK
satu-layanan

Kalender Kegiatan

Social Media

Video

Download

Online

Terdapat 23 Tamu online

Polling

Apakah Situs Web Ini Informatif ?
 

Statistik

Jumlah Kunjungan Konten : 926681
5 Unsur SPI Demi Capai Good Governance di Balittri PDF Cetak E-mail
Berita Internal
Oleh Lia Anggraini   
Rabu, 12 Desember 2018 07:30

Selasa, (11/12) Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (Balittri) mengadakan acara Sosisalisasi Sistem Penegendalian Intern (SPI) dalam rangka memberi pemahaman dan coaching kepada seluruh ASN (Aparatur Sipil Negara). Acara yang berlangsung ruang aula Balittri ini dibuka langsung oleh Kasie Yantek dan Jaslit, Dr. Ir. Samsudin, M.Si. Acara  ini merupakan upaya Balittri untuk terus menjadi lembaga yang berintegritas dalam terciptanya good governance. Suparmadi, S.E., M.A., dan Drh. Pujo Harmadi, M.P. dari Inspektorat Jenderal juga hadir sebagai narasumber untuk memberikan materi berkaitan SPI ini.

Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang SPIP menjelaskan bahwa sistem pengendalian intern merupakan sebuah proses menyeluruh pada tindakan manajerial dan teknis pada suatu organisasi yang dilakukan secara terus menerus oleh pimpinan, pejabat fungsional serta seluruh pegawai, untuk memberikan keyakinan yang memadai atas tercapainya tujuan organisasi.

Dalam penyelenggaraan SPI, terdapat level maturitas atau kematangan suatu lembaga/instansi yang dapat dijadikan indikator kualitas kinerja di sebuah lembaga/instansi penyelenggara negara. Level tersebut mulai dari rintisan, berkembang, terdifenisi, terkelola dan terukur, hingga tahap optimum. Drh. Pujo Harmadi, M.P. menegaskan bukan usia instansi yang menjadi penentu kualitas pengendalian intern yang baik, melainkan 5 (lima) komponen yang harus diperhatikan. 5 (lima) unsur sistem pengendalian yang dimaksud terdiri dari, Lingkungan pengendalian (kebijakan dan SOP), Penilaian Resiko, kegiatan pengendalian, informasi dan komunikasi, serta pemantauan pengendalian intern. Ia pun menambahkan yang menjadi penanggung Jawab SPI bukanlah satuan pelaksana, melainkan dibangun oleh penanggung jawab kegaiatan. Oleh karenanya SPI bukan hanya tanggung jawab pemimpin melainkan juga penerapannya dapat diaksanakan di tataran anggota.

Pada kesempatan yang sama, peserta melakukan dialog interaktif dengan narasumber terkait pelaksanaan sistem pengendalian intern ini. Kegiatan ini tentunya menambah pemahaman lebih bagi seluruh pegawai Balittri, mengenai akuntabilitas semua penyelenggaraan pemerintahan. Termasuk hal-hal apa saja yang harus dilaporkan berkaitan dengan transparansi seluruh pelaksaanan kegiatan di lingkup Balittri.

Melalui penerapan SPI diharapkan dapat membangun budaya pengawasan terhadap seluruh lembaga khussunya di Balittri, sehingga dapat mendeteksi penyimpangan serta meminimalisir terjadinya tindakan yang dapat merugikan negara. Pada akhirnya implementasi dari SPIP sangat bergantung pada komitmen seluruh pejabat dan pegawai instansi pemerintah demi terwujudnya akuntabilitas dan tata kelola pemerintahan yang baik.

 

Artikel terkait