-->
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Highlights

WBS
SKM
satu-layanan
PPID
WBK
Kalender Tanam
Sigap UPG
Ejurnal
Pakar Kopi
Saber Pungli
perpus_digital
Lapor.go.id
TV-TANI
pui-balittri

Kalender Kegiatan

Social Media

Download

Online

Terdapat 53 Tamu online

Polling

Apakah Situs Web Ini Informatif ?
 

Statistik

Jumlah Kunjungan Konten : 1253345
Menuju Indonesia sebagai Produsen Biofuel Terbesar di Dunia, Balittri Mengembangkan B100 PDF Cetak E-mail
Berita Internal
Oleh Intan Nurhayati dan Nur Kholis Firdaus   
Jumat, 22 Februari 2019 07:30

“Inilah masa depan Indonesia,” demikian ditegaskan Menteri Pertanian Republik Indonesia, Dr. Andi Amran Sulaiman saat meninjau pengembangan biodiesel 100% (B100) di Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (Balittri), Sukabumi (21/2). Inovasi teknologi B100 yang dikembangkan oleh tim peneliti Balittri yang dipelopori oleh Ir. Dibyo Pranowo.  Penelitian ini sudah dilakukan sejak tahun 2006 dengan berbagai komoditas tanaman penghasil bahan bakar nabati (BBN), antara lain kemiri sunan, jarak pagar, jarak kepyar, kemiri sayur, karet, kepuh, pongamia, nyamplung, dan kelapa sawit. Pada kesempatan yang sama, Amran melihat berbagai jenis BBN dan produk  hasil samping yang telah dihasilkan.

Meskipun Indonesia masih memiliki cadangan minyak bumi yang cukup besar, namun terus menipis dan diperkirakan habis dalam 20 tahun. Demikian pula cadangan batu bara dan gas bumi, akan habis pada masanya. Untuk itu, pengembangan BBN untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri mutlak dilakukan. Indonesia berpotensi tinggi untuk tampil menjadi produsen BBN terbesar di dunia mengingat kekayaan hayati yang kita miliki. Kebijakan untuk mengembangan BBN sudah dipelopori dengan diterbitkannya Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2006 tentang Biofuel, dimana kementerian maupun pemerintah daerah diwajibkan untuk ikut terlibat dalam pengembangan BBN.

Di hadapan para wartawan yang turut serta meliput, Amran menjelaskan berbagai nilai tambah yang akan diraih dengan pengembangan BBN di Indonesia, di antaranya menyelamatkan devisa, menguntungkan negara, menyejahterakan petani dan terutama ramah lingkungan. Di samping itu, masyarakat di Indonesia pun akan turut merasakan langsung manfaatnya dengan pemanfaatan BBN yang lebih efisien dan ekonomis. Satu liter B100 dapat digunakan untuk menempuh jarak 13,1 km, atau setara dengan Rp 600/km sementara dengan satu liter solar fosil  digunakan untuk 9,6 km, atau setara dengan Rp 1.000/km.

“Ketika energi fosil habis, kita sudah aman,” tambahnya pula. Selanjutnya, Amran menguji coba kendaraan operasional yang sudah menggunakan B100 dan melihat reaktor pengolahan biodiesel yang diciptakan dan dikembangkan oleh tim peneliti Balittri. Ke depannya, pengembangan B100 ini akan melibatkan Kementerian ESDM dan Kementerian Perindustrian dan Perdagangan.

 

Artikel terkait