-->
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Highlights

SKM
Ejurnal
Saber Pungli
Kalender Tanam
WBK
PPID
Lapor.go.id
perpus_digital
TV-TANI
satu-layanan
pui-balittri
Pakar Kopi
WBS
Sigap UPG

Kalender Kegiatan

Video

Social Media

Download

Online

Terdapat 42 Tamu online

Polling

Apakah Situs Web Ini Informatif ?
 

Statistik

Jumlah Kunjungan Konten : 1150424
Balittri Gelar FGD State of the Art Kemiri Sunan sebagai BBN dan Urgensi Pengembangannya di Lahan Pasca Tambang PDF Cetak E-mail
Berita Internal
Oleh Lia Anggraini   
Rabu, 27 Februari 2019 07:30

Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (Balittri) menggelar Fokus Group Discussion (FGD) dalam rangka penguatan fokus riset berbasis Bahan Bakar Nabati (BBN) di Balittri. Kepala Balittri Ir. Syafaruddin, Ph.D. ketika membuka secara resmi acara FGD menuturkan, BBN sekarang juga menjadi fokus utama Balittri, terutama tanaman kemiri sunan. "Mengingat kemiri sunan kembali menjadi mandat Balittri berdasarkan SK KepMentan RI No. 56/KPTS/LB.030/M/I/2019 tentang Mandat Penelitian pada Balai Penelitian Lingkup Puslitbangbun, maka Balittri kembali memberikan perhatian khusus untuk komoditas ini. Sampai saat ini Balittri telah melepas empat varietas unggul tanaman kemiri sunan, yaitu Kemsu 1, Kemsu 2, Kermindo 1, dan Kermindo 2”, lanjutnya. Kepala Balittri juga menyampaikan, tahun 2019 ini Balittri mendapatkan pembinaan untuk menjadi Pusat Unggulan Iptek (PUI) di bidang Bioindustri, sehingga dibutuhkan langkah-langkah strategis pemantapan terkait kebijakan penelitian.

FGD yang bertajuk “State of the Art Kemiri Sunan sebagai BBN dan Urgensi Pengembangannnya di Lahan Pasca Tambang” itu dilaksanakan di ruang rapat Balittri, Rabu (20/2) lalu. Selain peneliti Balittri, juga dihadiri oleh berbagai peneliti dari lingkup Balitbangtan, Kementerian Pertanian. FGD ini menghadirkan tiga narasumber utama yakni Dr. Susila Herlambang dan Dr. Muhammad Nurcholis dari Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Yogyakarta, serta Ir. Dibyo Pranowo selaku Peneliti Ahli Utama dari Balittri.

Menurut Dr. Susila, kemiri sunan sangat potensial untuk dijadikan sumber BBN. Selain itu, kandungan kadar minyak yang dimiliki sebanyak 50-56%, sedangkan kadar air dan kotoran sebesar 0%. Tanaman kemiri sunan merupakan tanaman multiguna, banyak manfaat yang dapat diambil setiap bagiannya. Tak hanya dapat dijadikan biodiesel, tapi juga dapat sebagai bahan biomasa, biobriket, serta kompos. Keberadaan kemiri sunan sebagai pilihan utama sumber energi terbarukan bukan sekedar sebagai pengganti BBM saja, namun juga memiliki kontrobusi terhadap kelestarian lingkungan.

Lebih lanjut, Dr. Nurcholis menyampaikan kemiri sunan sangat baik beradaptasi terhadap kondisi lahan marginal dan lahan pasca tambang. "Oleh karenanya, adalah pilihan yang tepat bila kemiri sunan dibudidayakan juga sebagai tanaman produksi juga sebagai revegetasi lahan-lahan marginal" sambungnya. Ir. Dibyo Pranowo juga selaku peneliti Balittri menegaskan, bahwa Balittri sejak tahun 2009 telah menggali potensi kemiri sunan sebagai sumber BBN. Selain penyempurnaan teknologi budidaya, teknologi pascapanen, hingga diversifikasi produk samping yang dihasilkan dari tanaman multiguna ini. Ditambahkannya, Balittri pun telah memiliki prototype mesin pengolah bahan baku menjadi produk biodiesel siap pakai.

Konsumsi akan energi primer di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya. Bahan bakar berbasis fosil pun masih menjadi sumber energi utama dalam pemenuhan kebutuhan berbagai sektor kehidupan. Tak dipungkiri kebergantungan tersebut tentunya akan menyebabkan ancaman krisis energi bagi kita. Tentu saja pengembangan energi alternatif adalah sebuah keniscayaan. Pemerintah pun terus berupaya melakukan pengembangan pemanfaatan BBN sebagai pengganti BBM. Pada akhir acara, Prof. Dr. M. Syakir (Kepala Badan periode 2015-2018) berkesempatan menyampaikan sambutannya yang intinya memberikan apresiasi atas kinerja Balittri selama ini.

Transisi dari bahan bakar fosil ke bahan bakar Nabati tentu saja akan membutuhkan proses. Ada banyak hal yang nantinya akan menjadi perhatian. Seperti siklus produksi bahan baku sampai pada pendistrubusiannya secara efektif dan efisien. Tentu saja akan bergantung pada support semua pihak, tidak saja pemerintah, melainkan juga petani, pengusahan, ilmuan, dll. FGD ini dapat menjadi momentum yang tepat bagi semua pihak dalam meningkatkan kapasitas riset dalam mendukung terwujudnya sumber energi terbarukan.

 

Artikel terkait