-->
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Highlights

Pakar Kopi
Kalender Tanam
satu-layanan
WBS
WBK
TV-TANI
Saber Pungli
Sigap UPG
Lapor.go.id
Ejurnal
pui-balittri
SKM
perpus_digital
PPID

Kalender Kegiatan

Video

Social Media

Download

Online

Terdapat 33 Tamu online

Polling

Apakah Situs Web Ini Informatif ?
 

Statistik

Jumlah Kunjungan Konten : 1254077
Workshop Konsultasi Nasional Sustainable Lowland Agriculture for Development in Indonesia (SLADI) ke 2 PDF Cetak E-mail
Artikel
Oleh Bariot Hafif   
Jumat, 11 Oktober 2019 07:30

Keberadaan lahan dataran rendah (low land)  yang cukup luas di Indonesia khususnya lahan gambut dan lahan pasan surut, telah menarik perhatian Worl Agroforestry Center (ICRAF) dan Bank Dunia untuk ikut berkontribusi dalam perencanaan pengembangan, khususnya untuk pertanian berkelanjutan. Dataran Rendah yang dimaksud adalah lahan yang berada pada ketinggian ≤ 40 m dpl. Lahan-lahan tersebut banyak dikawasan Pantai Timur Sumatera, Kalimantan bagian Selatan dan Papua. Rencangan Program Nasional yang diberi judul “Sustainable Lowland Agriculture for Development in Indonesia (SLADI)” yang draf disainnya telah dibuat oleh ICRAF, dikonsultasikan dengan para Pakar Bidang Ilmu terkait dari berbagai Institusi, baik yang berada di kawasan tersebut maupun pakar-pakar bidang ilmu terkait dari Perguruan Tinggi dan peneliti. Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (Balittri) ikut berkontribusi dengan mengirim wakil Dr. Ir. Bariot Hafif, MSc.

Terkait dengan pembangunan pertanian di dataran rendah, ICRAF dengan program “SLADI”  diantaranya menyusun draft rancangan pelaksanaan good Agriculture practice (GAP) berbasis Landscape, untuk pengembangan komoditas-komoditas unggulan seperti padi, kopi, kakao, kelapa dalam, kelapa sawit, sagu dan beberapa komoditas lainnya serta pengembangan budidaya perikanan. Acara yang berlansung selama 2 hari (9-10 Oktober) dimulai dengan siding pleno dan diikuti dengan siding kelompok secara parallel. Sidang Pleno dan Diskusi Paralel antara lain membahas GAP, penilaian potensi pasar untuk masing-masing komoditas, opsi-opsi intervensi untuk perbaikan rantai nilai dan sebagainya. Balittri sebagai Balai yang bertanggungjawab melakukan penelitian tanaman indusrti, khususnya tanaman kopi, mencoba untuk memberi masukan, khusus pada tanah gambut lebih baik mengembangkan kopi Liberika dibanding Robusta. Tanaman kopi Liberika diusulkan sebagai komoditas prioritas, karena hasil penelitian mendapatkan tanaman ini sangat adaptif terhadap lahan gambut, Namun beberapa Narsum menilai pengembangan kopi Liberika, kurang tepat karena konsumennya dinilai masih terbatas. Tetapi Balittri mencoba mengingatkan bahwa perlu adanya upaya untuk membuka pasar baru selain pasar ekspor ke Malaysia dan Singapura. Selain harga yang cukup baik kopi ini juga berpotensi dalam konservasi karbon gambut.

 

Artikel terkait