-->
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Highlights

WBS
WBK
TV-TANI
Saber Pungli
Sigap UPG
Lapor.go.id
Ejurnal
pui-balittri
SKM
perpus_digital
PPID
Pakar Kopi
Kalender Tanam
satu-layanan

Kalender Kegiatan

Video

Social Media

Download

Online

Terdapat 73 Tamu online

Polling

Apakah Situs Web Ini Informatif ?
 

Statistik

Jumlah Kunjungan Konten : 1253932
Balittri Berpartisipasi pada FGD “Analisis Kebijakan Potensi Pengembangan Lahan Rawa untuk Tanaman Perkebunan” PDF Cetak E-mail
Artikel
Oleh Tri Joko Santoso   
Senin, 21 Oktober 2019 15:30

Beberapa dekade ke depan, dunia termasuk Indonesia dihadapkan adanya indikasi krisis pangan dan energi. Salah satu peluang yang tersedia untuk pemanfaatan pertanian adalah pada lahan rawa. Menangkap peluang ini, Kementerian Pertanian (Kementan) mencanangkan Program SERASI. Program SERASI adalah program pengelolaan lahan rawa (pasang surut/lebak) melalui optimalisasi pemanfaatan lahan rawa. Program SERASI pada tahun 2019 diarahkan untuk pemanfaatan lahan rawa dengan luas pengembangan 500 ribu hektar, dengan rincian Sumatera Selatan sebanyak 250.000 ha dan Kalimantan Selatan 250.000 ha.

 

Namun demikian, Program SERASI dari Kementan selama ini lebih difokuskan pada pengembangan untuk tanaman pangan PAJALE, belum banyak menyentuh tanaman perkebunan. Padahal, potensi tanaman perkebunan untuk dikembangkan di lahan rawa masih sangat terbuka, mengingat luas lahan rawa di Indonesia masih sangat luas, yaitu lebih dari 34 juta ha. Lahan rawa mempunyai fungsi produksi (pertanian), konservasi (lingkungan) dan infrastruktur (fasilitas umum). Oleh karena itu, penggunaannya harus mempertimbangkan ketiga aspek tersebut secara proporsional agar terjaga keberlanjutannya. Selain itu, pengelolaan infrastruktur lahan rawa masih perlu adanya regulasi yang implementatif dan berkelanjutan serta komitmen dari berbagai pihak untuk saling bersinergi. Ketika ini terjadi, maka ini dapat mewujudkan lahan rawa sebagai motor penggerak menuju Indonesia sebagai Lumbung Pangan Dunia 2045.

Berkaitan dengan permasalahan ini, pada tanggal 21 Oktober 2019, Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan (Puslitbangbun) menyelenggarakan Forum Group Discussion (FGD) Lahan Rawa bertempat di Ruang Rapat Lantai II. FGD ini mengundang para pakar dan pemangku kebijakan terkait dengan lahan rawa baik secara teknis maupun regulasi diantaranya adalah Prof. Dr. Ir. Supiandi Subiham dari IPB, Prof. Dr. Ika Mariska, Prof. Dr. M. Syakir, Prof. Dr. Deciyanto. dan Dr. I Ketut Ardana. FGD dibuka secara resmi oleh Kepala Puslitbangbun, Ir. Syafaruddin, Ph.D. Tema yang diangkat dan dipresentasikan pada FGD ini meliputi: 1) Pengembangan Komoditas Perkebunan di Lahan Rawa, 2) Kritisi Kebijakan Pengelolaan Lahan Gambut, 3) Status dan Tata Kelola Pengembangan Lahan Rawa, 4) Program Pengelolaan Lahan Rawa, dan 5) Program Pengembangan Komoditas Perkebunan di Lahan Pasang Surut.

Harapan dari adanya FGD ini adalah diperolehnya masukan dari tim pakar ke tim analisis kebijakan (anjak) Kementan untuk memetakan daerah rawa yang sesuai untuk pengembangan tanaman perkebunan. FGD juga diharapkan dapat menghasilkan poin-poin penting untuk mendukung kegiatan SERASI di masa depan. Peran Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (Balittri) terkait dengan arah pengembangan lahan rawa adalah dukungan penyediaan benih komoditas unggulan seperti kopi, karet, kakao dan sebagainya. Saat ini, sudah ada varietas kopi Liberika Meranti yang diketahui adaptif pada lahan gambut. Ini membuka peluang untuk mendukung perbenihan varietas kopi tersebut sehingga dapat dikembangkan ke lahan gambut di daerah-daerah lain. Selain itu, terkait aspek teknologi, Balittri sebagai lembaga penelitian yang berfokus pada tanaman penyegar seperti kopi, kakao, karet dan lain-lain tentunya akan melakukan penelitian yang diarahkan pada adaptasi tanaman penyegar pada lahan-lahan rawa. Langkah konkritnya adalah berupa program seleksi dan pemuliaan tanaman-tanaman seperti kopi, kakao untuk toleransi terhadap cekaman abiotik seperti kondisi masam, keracunan Fe, keracunan Al dan sebagainya. Terkait dengan regulasi, diperlukan kebijakan untuk peningkatan kapasitas dan percepatan penelitian dalam pengembangan varietas tanaman perkebunan yang toleran dan adaptif pada lahan rawa, baik lahan rawa lebak, rawa pasang surut dan gambut.

 

Artikel terkait