Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
LPSE
Ejurnal
Kalender Tanam
TV-TANI
WBS
pui-balittri
satu-layanan
PPID
Saber Pungli
WBK
Sigap UPG
Lapor.go.id
Pakar Kopi
perpus_digital
SKM

Kalender Kegiatan

Video

Social Media

Download

Online

Terdapat 21 Tamu online

Polling

Apakah Situs Web Ini Informatif ?
 

Statistik

Jumlah Kunjungan Konten : 1590445
Teknologi Inovasi Balitbangtan dalam HPS : Tak Hanya Isapan Jempol PDF Cetak E-mail
Artikel
Oleh Tri Joko Santoso   
Kamis, 30 April 2020 08:00

Perhelatan Hari Pangan Sedunia (HPS) ke 39 yang sudah berakhir sekitar 6 bulan yang lalu, tepatnya tanggal 2-5 November 2019, menyisakan berita yang menggembirakan. Pasalnya, teknologi Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) terkait dengan pengelolaan pertanaman kakao saat ini membuahkan hasil. Produktivitas kakao meningkat sangat signifikan. Petani sangat senang dan berterimakasih atas teknologi Balitbangtan tersebut. Teknologi yang dimaksud adalah teknologi untuk menginduksi pembuahan kakao di luar musim dan waktu itu telah diperkenalkan oleh Kepala Balitbangtan.

HPS yang mengambil lokasi di Desa Pudambu, Kecamatan Angata, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, ini menampilkan Inovasi teknologi kakao Balitbangtan yakni teknologi perbenihan dan budidaya kakao. Yang menarik, salah satu inovasi teknologi yang diperkenalkan adalah inovasi teknologi pembuahan kakao di luar musim yang dikembangkan oleh Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (Balittri). Panen raya kakao pada umumnya terjadi pada bulan Mei dan Juni.

Di luar bulan-bulan tersebut, panen akan mengalami penurunan. Pembuahan di luar musim panen memungkinkan untuk meningkatkan produkvitas kakao. Tahapan teknologi inovasi tersebut, diantaranya adalah: 1) aplikasi pupuk majemuk/extra yang dikombinasikan dengan pupuk hayati (puhay) yang didahului penggunaan pupuk organik dan aplikasi hormon pembungaan, 2) pemangkasan tanaman kakao secara terbatas, 3) pembersihan lumut pada batang untuk mencegah serangan layu buah, 4) penataan saluran air dan pembuatan rorak untuk persiapan penyiraman pada musim kemarau, 5) melakukan penyerbukan buatan, dan 6) penggunaan biopestisida untuk mengendalikan hama penyakit seperti pestisida nabati biotris untuk penggerek buah kakao (PBK), biofungisida Trichoderma untuk penyakit busuk buah kakao (BBK) dan metabolit sekunder Trichoderma untuk penyakit vascular streak dieback (VSD).

Saat ini, petani kakao di sekitar lokasi temu lapang HPS merasa sangat senang. Melalui Prof. Dr. Rubiyo, M.Si  para petani menuturkan secara langsung bahwa mereka dengan bangganya bercerita tentang hasil produksi kakao yang meningkat secara signifikan. Hampir setiap minggu, bisa memanen sekitar 400 kg biji basah. Menurut perhitungan, dengan harga sebesar 10 ribu/kg biji basah, maka pendapatan yang mereka peroleh sekitar 4 juta rupiah per minggu atau sekitar Rp 16 juta/bulan. Sebenarnya harga jual biji kakao akan lebih mahal kalau dapat dijual dengan kondisi biji kering. Namun karena masih terkendala tidak adanya tempat pengeringan yang layak maka terpaksa mereka menjual biji basah.

Peran pemerintah untuk mendukung peningkatan produktivitas dan mutu produk kakao masih sangat diharapkan. Utamanya untuk sarana dan prasarana budidaya dan teknologi pascapanen. Sebagai contoh, penyediaan sarana untuk proses pengeringan biji kakao akan sangat membantu meningkatkan nilai jual kakao. Ditambah lagi, penyediaan teknologi pengolahan kakao menjadi produk olahan seperti coklat bubuk, permen coklat dan lain-lain akan memberi nilai tambah tersendiri untuk komoditas kakao. Semoga ini menjadi motivasi untuk melakukan lompatan inovasi lainnya demi kejayaan petani di Indonesia.

Kondisi sebelum dan saat HPS.

Kondisi 6 bulan pasca HPS.

 

Artikel terkait