-->
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Highlights

Kalender Tanam
Saber Pungli
satu-layanan
WBS
Sigap UPG
Lapor.go.id
PPID
SKM
perpus_digital
WBK
Ejurnal
TV-TANI

Kalender Kegiatan

Social Media

Video

Download

Online

Terdapat 18 Tamu online

Polling

Apakah Situs Web Ini Informatif ?
 

Statistik

Jumlah Kunjungan Konten : 872765
Ekspor Biji Kakao Diperkirakan Turun 29 Persen PDF Cetak E-mail
Artikel
Oleh Administrator   
Rabu, 28 November 2012 13:45

Ekspor biji kakao nasional tahun 2012 diperkirakan turun 29 persen menjadi 150 ribu ton dari 210 ribu ton tahun lalu. Kantor berita Reuters, Senin, 15 Oktober 2012, melaporkan penurunan ekspor biji kakao seiring meningkatnya kapasitas penggilingan dalam negeri. Tujuan utama ekspor biji kakao adalah ke Malaysia dan Amerika Serikat.

Perusahaan penggilingan kakao nasional juga mengimpor biji kakao kualitas tinggi dari Afrika untuk kemudian dicampur dengan produk kakao lokal. Langkah itu untuk memperbaiki rasa dan warna tepung kakao yang kemudian diolah menjadi biskuit dan minuman cokelat.

Impor biji kakao Indonesia dari Afrika bervariasi, bergantung pada produksi biji dan penggilingan lokal. Diperkirakan angka impor mencapai 20-31 ribu ton tahun ini. Tahun 2013, impor biji kakao diperkirakan naik menjadi 100 ribu ton.

Dari sisi produksi, Indonesia memiliki lahan perkebunan kakao seluas 1,5-1,6 juta hektare. Berdasarkan data Kementerian Pertanian, dari angka itu, sebanyak 65 persen di antaranya berlokasi di Sulawesi dan 15 di Sumatera. Sedangkan sisanya di Jawa, Bali, Kalimantan, Maluku, dan Papua.

Petani memiliki 95 persen dari total lahan perkebunan kakao, sedangkan sisanya dimiliki oleh badan usaha milik negara dan swasta.

Meski demikian, kualitas produksi kakao Indonesia sedang mengalami penurunan. Pemerintah berupaya meningkatkan produksi karena tanaman kakao kebanyakan sudah ditanam sejak 1980-an sehingga rentan terkena penyakit.

Banyak di antara petani, yang memiliki lahan perkebunan kurang dari 1 hektare, masih minim teknologi tanam. Dengan rendahnya harga jual kakao, para petani kesulitan untuk membeli pupuk atau pestisida bagi kebun kakao mereka.

Produksi kakao Indonesia tahun ini diperkirakan tidak jauh berbeda dengan tahun lalu, yaitu sebesar 435 ribu hingga 450 ribu ton. Tahun lalu, realisasi produksi kakao nasional sebesar 435 ribu ton. Perkiraan stagnasi produksi akibat musim kemarau yang panjang dan hama tanaman.

Akibat rendahnya teknologi pertanian dan penyebaran hama tanaman, pemerintah memangkas angka produktivitas kebun kakao dari 1,1 ton per hektare menjadi 660 kilogram per hektare dalam lima tahun terakhir. Pada 2006, produksi kakao nasional sempat menyentuh rekor 621.873 ton. Namun, sejak saat ini. produksi tidak pernah mencapai 600 ribu ton per tahun.

Produk biji kakao Indonesia dikenal memiliki kualitas rendah karena bentuknya kecil dan meninggalkan banyak sampah sehingga harganya rendah. Utamanya karena biji kakao Indonesia tidak difermentasi sehingga harus dicampur dengan biji kakao impor untuk memproduksi tepung kakao.

Pada 2009, pemerintah Indonesia meluncurkan program untuk mendorong produksi kakao nasional menjadi 600 ribu ton per tahun pada 2013 dengan anggaran senilai US$ 350 juta. Program ini memberikan pupuk gratis untuk meningkatkan produktivitas tanaman kakao di lahan seluas 145 ribu hektare dan mengembangkan bibit pohon kakao yang lebih baik.

Program ini juga mencakup peremajaan pohon kakao di lahan seluas 235 ribu hektare. Sekitar 700 ribu hektare kebun kakao yang rusak juga ditanami kembali dengan pohon baru. Namun survei independen pada Juli 2012 mengungkapkan, penanaman pohon kakao baru itu dinilai tidak efektif. Banyak pohon kakao yang masih baru sudah mati dan banyak petani akhirnya beralih bisnis ke budidaya kelapa sawit sebagai gantinya.

Dari sisi industri, konsumsi cokelat di Indonesia memiliki potensi tumbuh pada masa mendatang. Saat ini, konsumsi tahunan cokelat masyarakat Indonesia hanya 0,2 kilogram per orang dibandingkan 0,6 kilogram per orang di Malaysia dan 10 kilogram per orang di Eropa.

Untuk meningkatkan kapasitas penggilingan biji kakao nasional, pemerintah meningkatkan pajak ekspor biji kakao hingga 15 persen April 2010. Kebijakan bea ekspor diputuskan setiap bulannya berdasarkan harga kakao ekspor.

Perusahaan penggilingan utama nasional adalah PT General Food Industries, anak perusahaan Petra Foods Limited, perusahaan yang berbasis di Singapura. Kemudian ada beberapa perusahaan swasta lain, seperti PT Bumi Tangerang, PT Effem Indonesia, dan perusahaan terbuka PT Davomas Abadi Tbk.

Perusahaan asal Malaysia, Guan Chong Berhad, telah membangun pabrik penggilingan kakao dengan kapasitas 150 ribu ton per tahun di Pulau Batam. Perusahaan asal Amerika Serikat, Cargill dan Barry Callebaut, juga tertarik berinvestasi US$ 150 juta untuk pabrik penggilingan kakao di Indonesia.

Kapasitas produksi penggilingan biji kakao nasional diperkirakan mencapai 350 ribu ton tahun ini dan diperkirakan akan naik menjadi 600 ribu ton di 2013. (REUTERS | ABDUL MALIK)

Sumber : http://tempo.co