Warning: Wrong parameter count for array_unique() in /var/home/vhosts/balittri/public/plugins/content/facebooklikeandshare.php on line 1111

Warning: Invalid argument supplied for foreach() in /var/home/vhosts/balittri/public/plugins/content/facebooklikeandshare.php on line 1112
2nd APKASI International Trade and Investment Summit (AITIS) 2014
Warning: copy() [function.copy]: php_network_getaddresses: getaddrinfo failed: Name or service not known in /var/home/vhosts/balittri/public/plugins/content/mavikthumbnails.php on line 674

Warning: copy(http://www.litbang.deptan.go.id/berita/one/1700/file/picture) [function.copy]: failed to open stream: No such file or directory in /var/home/vhosts/balittri/public/plugins/content/mavikthumbnails.php on line 674

Warning: copy(http://balittri.litbang.pertanian.go.id/berita/one/1700/file/picture) [function.copy]: failed to open stream: Connection refused in /var/home/vhosts/balittri/public/plugins/content/mavikthumbnails.php on line 674
2nd APKASI International Trade and Investment Summit (AITIS) 2014 Cetak
Artikel
Oleh Administrator   
Selasa, 15 April 2014 00:00

Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI) kembali menggelar kegiatan promosi perdagangan dan investasi bertaraf international. Kegiatan bertajuk APKASI International Trade and Investment Summit (AITIS) 2014 ini  mempertemukan pelaku bisnis dalam dan luar negeri dengan para pengambil kebijakan di daerah dan juga para pelaku bisnis kabupaten. Acara tersebut dibuka oleh Menteri Koordinator Perekonomian, Hatta Radjasa dan dihadiri antara lain Para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu dan Kepala Institusi dalam maupun luar negeri. Menteri Pertanian, Menteri Pariwisata dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal pada pembukaan berkesempatan menjadi keynote speaker, dengan mengungkapkan peran serta ketiga institusi tersebut. Tema yang diangkat pada AITIS 2014 ini adalah ‘Kemitraan Ekonomi Global Berkelanjutan’, tema ini sangat sesuai untuk menghadapi dan mengantisipasi berlangsungnya pasar ASEAN 2015, berupaya mendorong agar para pelaku usaha di daerah dapat menjalin hubungan dagang dengan banyak negara sehingga mampu menerobos sekaligus memenangkan persaingan pasar di ASEAN bahkan pasar Internasional,” ungkap Ketua Umum APKASI Isran Noor.

Badan Litbang Pertanian (Balitbangtan) ikut berpartisipasi didalam Pameran ini dengan mengangkat tema ‘Kemiri Sunan, Sumber Pengganti Minyak Fosil’. Pada pameran ini Balitbangtan menampilkan benih varietas Kemiri Sunan 1 dan 2, berbagai poster penunjang Kemiri Sunan sebagai sumber pengganti minyak fosil khususnya biodiesel, buku teknologi perkebunan, leaflet dan menayangkan video agro inovasi Kemiri Sunan. Melalui tema ini Balitbangtan ingin mengajak Pemerintah Daerah untuk melakukan investasi dengan melakukan penanaman tanaman Kemiri Sunan. Prospek Kemiri Sunan sebagai pengganti bahan bakar fosil diharapkan dapat berkembang lebih luas lagi.

Tanaman kemiri sunan dapat hidup di sepanjang tahun. Kemiri sunan atau Reutealis trisperma (Blanco) Airy Shaw adalah tanaman yang banyak tumbuh di negara tropis. Saat ini tanaman ini banyak tumbuh di Indonesia dan tersebar di daerah dataran rendah hingga sedang, baik di hutan maupun ditanam di sekitar perkotaan. Dari sisi produktivitas minyak, kemiri sunan lebih baik ketimbang tanaman penghasil minyak nabati lain, seperti sawit, jarak pagar atau nyamplung. Kelebihan lain, tanaman ini sudah mulai berbuah pada umur empat tahun. Puncak berbuah diumur delapan tahun. Produktivitas 1 pohon kemiri sunan bisa mencapai 50-300 kg/tahun dan kemampuan produksi hingga pohon berusia 50 tahun.  Lebih jauh produksi biji kering per hektar sekitar 14-16 ton, atau setara dengan 8-9 ton crude oil dan akan menghasilkan 6-7 ton biodiesel. Rendeman minyak kasar kemiri sunan sekitar 52% dari kernel. Rendeman biodiesel mencapai 88% dari minyak kasar, sementara sisanya berupa gliserol. Biodiesel yang dihasikan kemiri sunan sudah termasuk kategori B-50 artinya komposisi solarnya 50% dan biodiesel 50%. Sehingga kedepan Kemiri Sunan diharapkan dapat menunjang kebutuhan BBN (Bahan Bakar Nabati) apabila diaplikasikan secara bersama-sama.

Sumber : Badan Litbang Pertanian