-->
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Highlights

TV-TANI
Kalender Tanam
Saber Pungli
satu-layanan
WBS
Sigap UPG
Lapor.go.id
PPID
SKM
perpus_digital
WBK
Ejurnal

Kalender Kegiatan

Social Media

Video

Download

Online

Terdapat 20 Tamu online

Polling

Apakah Situs Web Ini Informatif ?
 

Statistik

Jumlah Kunjungan Konten : 872712
Studi Banding Teknik Budidaya dan Pascapanen Kakao Dinas Perkebunan Kabupaten Alor PDF Cetak E-mail
Artikel
Oleh Administrator   
Jumat, 17 April 2015 09:53

Studi Banding Kabupaten Alor ke BalittriPakuwon -- Pada tanggal 8 – 9 April 2019, Balittri menerima rombongan studi banding dari Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur. Tujuan studi banding adalah dalam rangka meningkatkan kemampuan teknis apratur pemerintah desa dalam mendukung sub sektor perkebunan. Hadir dalam rombongan tersebut enam orang kepala desa lingkup Kabupaten Alor didampingi oleh Bapak Mohamad Kamran, SE, MM selaku Kabid Sarana dan Prasarana Pertanian dan Yadi Hinglir, SP selaku Kasi Perluasan Areal Dinas Perkebunan Kabupaten Alor. Setelah disambut secara resmi oleh Kepala Tata Usaha Balittri, Ir. Cecep Firman, peserta studi banding kemudian disuguhi pemaparan materi mengenai teknik budidaya dan pasca panen kakao.

Ir. Handi Supriadi menjelaskan pentingnya pemahaman mengenai persiapan bahan tanaman dan syarat tumbuh tanaman kakao. Untuk memperoleh bahan tanam unggul kakao diperlukan proses yang panjang (15–20 tahun) mulai tahapan koleksi plasma nutfah, seleksi galur/klon harapan, uji multilokasi hingga pengajuan pelepasan varietas baru. Setiap varietas/klon unggul kakao (baik dari kelompok Lindak maupun Mulia) memiliki karakteristik yang unik. Salah satu sifat unggul yang penting adalah ketahanan terhadap hama dan penyakit, seperti busuk buah, VSD dan PBK. Teknik perbanyakan bahan tanam kakao saat ini bervariasi, seperti sambung pucuk, okulasi, setek dan sambung samping, dapat diterapkan secara langsung oleh petani di lapangan. Penanaman tanaman penaung juga menjadi topik yang menarik. Contoh tanaman penaung adalah pisang dan kelapa yang dapat melindungi tanaman kakao dari suhu maksimum sekaligus memperbaiki struktur tanah dan menekan serangan hama penyakit. Jenis tanaman naungan tersebut juga dapat memberikan tambahan pendapatan bagi petani perkebunan.

Pada sesi pemaparan pascapanen kakao, Ir. Juniaty Towaha menjelaskan teknik pemanenan buah hingga pengolahan biji kakao menjadi cokelat. Pemanenan buah disarankan menggunakan alat bantu berupa gunting agar tidak mengganggu pertumbuhan bunga di sekitarnya. Selain itu, pemecahan kulit buah kakao tidak disarankan menggunakan benda tajam, seperti golok, karena dapat melukai biji kakao dan menurunkan mutunya. Tahapan fermentasi biji menjadi topik yang hangat karena masih banyak petani yang belum paham penerapannya. Selama ini proses fermentasi sering diabaikan karena dianggap menyita waktu dan petani pada umumnya ingin segera menjual hasi panennya. Dari hasil diskusi diketahui bahwa sebagian petani Alor tanpa disadari sudah menerapkan proses fermentasi meskipun belum optimal. Petani biasa memasukkan buah kakao yang telah dikupas ke dalam karung goni dan kemudian digantung selama kurang lebih dari 5 hari. Dengan sedikit penyempurnaan teknis fermentasi tersebut maka mutu biji yang dihasilkan akan lebih baik.

Di hari kedua, peserta studi banding dipandu untuk melihat secara langsung praktik budidaya kakao di Kebun Percobaan Pakuwon dan pengolahan biji kakao menjadi cokelat di AWWI.  (Elsera Tarigan, Balittri)