Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Highlights

TV-TANI
WBS
WBK
Saber Pungli
Ejurnal
perpus_digital
Sigap UPG
Lapor.go.id
PPID
Kalender Tanam
satu-layanan

Kalender Kegiatan

Social Media

Video

Download

Online

Terdapat 25 Tamu online

Polling

Apakah Situs Web Ini Informatif ?
 

Statistik

Jumlah Kunjungan Konten : 726644
Mengenal Potensi Kopi Arabika di Pengunungan Latimojong PDF Cetak E-mail
Artikel
Oleh Dani   
Senin, 22 Februari 2016 10:59

Luwu - Gunung tertinggi di Sulawesi Selatan, yaitu gunung Latimojong, menjadi terkenal ketika pesawat terbang berbadan kecil, Aviastar, ditemukan sudah menjadi puing di salah satu lokasi. Kejadian tersebut hendaknya menjadi pelajaran bahwa puncak tertingginya yang mencapai > 3.400 m dpl  tidak boleh dianggap enteng oleh pilot pesawat terbang berpengalaman sekalipun.

Namun, di balik kisah kelam tersebut, Gunung Latimojong menyimpan potensi sosial ekonomi yang tinggi. Bupati Luwu, Ir. H. Andi Mudzakkar, MH,  bercita-cita suatu saat wilayah pegunungan tersebut berubah menjadi kawasan agrowisata yang mendatangkan nilai tambah secara ekonomi bagi masyarakatnya. Salah satu potensi  yang sedang sedang dikembangkan saat ini adalah kopi Arabika di Desa Boneposi, Ulusalu, Tibussang, dan Lambanan. Akhir-akhir ini mulai dikenal produk kopi unik dari daerah tersebut yang diberi nama ”kopi Bisang”, meskipun belum ada penjelasan ilmiah mengenai hewan sejenis musang yang disebut Bisang tersebut.

Wilayah pegunungan Latimojong yang berada pada ketiggian > 1.000 m dpl dengan curah hujan rata-rata > 2.000 mm per tahun dinilai cocok untuk budidaya kopi Arabika. Hanya saja, budidaya kopi Arabika oleh petani di empat desa tersebut pada umumnya masih belum menerapkan teknologi anjuran sehingga produktivitas dan mutu hasilnya belum optimal. Varietas kopi Arabika yang disukai petani saat ini diduga berasal dari galur Catimor dengan ciri-ciri perawakannya pendek (katai), dompolan buah rapat, dan relatif cepat berbuah. Meskipun demikian, masih terdapat populasi varietas Typica yang sudah dikembangkan sejak masa kolonial Belanda dengan kondisi yang umumnya dibiarkan tidak terawat.

Gambar 1. Contoh varietas kopi Arabika yang dikembangkan di pegunungan Latimojong

Bagi petani kopi, masalah utama yang dihadapi dalam produksi kopi adalah serangan hama dan penyakit. Hama penggerek buah kopi (PBKo), intensitas serangannya mulai meresahkan. Akibat serangan hama tersebut biji kopi yang dipanen banyak yang rusak berlubang hingga membusuk sehingga menurunkan mutu hasil dan harganya rendah. Petani sangat mengharapkan inovasi teknologi pengendalian hama dan penyakit kopi yang efektif dan murah agar dapat menekan kehilangan hasil secara maksimal. Penggunaan pestisida kimia dihawatirkan akan menimbulkan resistensi hama dan penyakit, meninggalkan residu kimia berbahaya pada produk, serta mencemari tanah dan air. Peran institusi litbang sangat diperlukan dalam penyediaan teknologi pengendalian hama dan penyakit tanaman kopi yang ramah lingkungan. (Dani)

 

Artikel terkait

script type="text/javascript"> $(document).ready(function(){ $('body').append(""+""); });