-->
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Highlights

PPID
SKM
perpus_digital
WBS
Saber Pungli
satu-layanan
WBK
Sigap UPG
Ejurnal
TV-TANI
Lapor.go.id
Kalender Tanam

Kalender Kegiatan

Social Media

Video

Download

Online

Terdapat 24 Tamu online

Polling

Apakah Situs Web Ini Informatif ?
 

Statistik

Jumlah Kunjungan Konten : 837769
Menuju Kopi Indonesia yang Berdaulat dan Berdaya Saing PDF Cetak E-mail
Artikel
Oleh Arifa Chan   
Kamis, 05 Mei 2016 22:00

Keunggulan citarasa kopi-kopi spesialti di Indonesia di mata dunia memang sudah tidak diragukan lagi. Hal ini diungkapkan oleh Direktur Pengembangan Usaha dan Investasi Ir. Jamil Musanif, selaku moderator dalam acara dialog interaktif dengan tema "Serba-serbi Kopi Indonesia bersama Coffee Lovers Indonesia (CLI)" pada ajang 16th Agro Expo 2016 yang diadakan di Jakarta International Expo (5/5/2016).

Hampir seluruh kopi spesialti di Indonesia mendapatkan skor di atas 80 untuk citarasanya dan salah satu kopi Java Preanger dari Gunung Puntang kawasan Bandung Timur Jawa Barat, menjadi juara dalam ajang Specialty Coffee Association of America Expo di Atlanta Amerika Serikat beberapa waktu yang lalu (14-17/04/2016).

Hal ini tidak lepas dari peran para petani, penguasaha kopi, dan instansi terkait dalam menciptakan dan menjaga kualitas dari masing-masing kopi spesialti. Kesadaran para petani dalam menggunakan benih unggul, budidaya, dan pasca panen yang baik menjadi kunci utama dalam menciptakan kopi spesifik lokasi yang bermutu tinggi.

Bambang Sriono, seorang pengusaha kopi yang juga merupakan Ketua Asosiasi Petani Kopi Indonesia (APEKI) Bondowoso mengatakan bahwa citarasa kopi sangat dipengaruhi lingkungan sekitarnya selain dari mutu benih, penerapan teknologi budidaya, dan cara pengolahan yang baik. Hal ini sejalan dengan yang disampaikan oleh Kepala Seksi Administrasi Sub Direktorat Indikasi Geografis Saky Septiono, SH, MH yang menjelaskan bahwa saat ini daerah penghasil lebih banyak mendapat perhatian karena menjadi penentu kekhasan dan spesifikasi citarasa kopi itu sendiri. Untuk itu, indikasi geografis sangat diperlukan disamping menjaga produktivitas dan kualitas citarasa kopi tersebut.

Indikasi geografis adalah suatu bentuk perlindungan hukum terhadap asal suatu barang sebagaimana merek dagang yang sudah ada. Saky menambahkan, walaupun banyak keraguan dari para petani atau pengusaha kopi tentang pentingnya dan manfaat indikasi geografis, hal tersebut dapat menjaga keberlanjutan produk indikasi geografis dari segala bentuk pemalsuan atau klaim branded dari pihak luar. Dengan indikasi geografis, produk kopi spesialti yang bercitarasa tinggi di tiap daerah mendapat payung hukum dan ter-branded.

Terkait hal itu, salah satu penikmat dan pecinta kopi berpendapat, hendaknya kopi-kopi spesialti di Indonesia dapat terbebas dari penjajahan model baru saat ini. Dimana produk-produk kopi dengan citarasa terbaik Indonesia di-branded oleh pihak asing dan dikonsumsi kembali oleh rakyat Indonesia, sehingga mengurangi nilai tambah yang didapat petani maupun pengusaha kopi.

Dalam kesempatan tersebut, Direktur Tanaman Tahunan dan Penyegar Dr. Ir. Dwi Praptomo Sudjatmiko, MS menjelaskan bahwa konsumsi kopi di Indonesia meningkat 15% setiap tahunnya, sedangkan peningkatan produksinya masih sangat rendah jika dibandingkan dengan luas areal yang dimiliki. Pemerintah, dalam hal ini Direktorat Jenderal Perkebunan, menjadi pengemban tugas utama dalam meningkatkan produktivitas kopi Indonesia, dan sangat mendukung peningkatan kualitas citarasa kopi berikut olahannya, serta pemanfaatan indikasi geografis sebagai pelindung produk agar dapat memberikan nilai tambah bagi seluruh pihak yang terkait dan menjaga identitas citarasa kopi Indonesia di mata dunia. (Arifa Chan)

.

 

Artikel terkait