-->
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Highlights

Ejurnal
TV-TANI
Lapor.go.id
Kalender Tanam
PPID
SKM
perpus_digital
WBS
Saber Pungli
satu-layanan
WBK
Sigap UPG

Kalender Kegiatan

Social Media

Video

Download

Online

Terdapat 24 Tamu online

Polling

Apakah Situs Web Ini Informatif ?
 

Statistik

Jumlah Kunjungan Konten : 837730
Bisang dan Kopi Arabika Bercitarasa dari Latimojong PDF Cetak E-mail
Artikel
Oleh Arifa Chan   
Kamis, 09 Juni 2016 05:21

Bisang atau kusang yang dikenal sebagai hewan endemik di Sulawesi merupakan sejenis kuskus dengan ciri-ciri kecil, gerakan lambat, bulu abu-abu, memiliki wajah pendek, dengan mata menonjol, hidung telanjang tak berbulu, dan ekor panjang menyerupai tikus. Dua kaki depan berfungsi seperti tangan, memiliki lima jari yang semuanya tajam, kecuali ibu jari kaki belakangnya jari-jari kaki dengan kuku besar terdapat pada jari-jari kaki yang tersisa dari kaki belakang, sehingga bisang dapat berpegang pada dahan.

Bisang terkenal setelah kopi bisang dari kecamatan Latimojong mulai didengungkan sebagai kopi spesialti yang serupa dengan kopi luwak yang terlebih dahulu dikenal. Namun masih terdapat kontroversi tentang bisang sebagai hewan atau istilah bahasa daerah yang berarti memungut buah kopi overripe yang jatuh ke tanah hingga saat ini.

Untuk menjawab keraguan dan sebagai informasi awal tentang kontroversi tersebut Pusat Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Puslitbang Perkebunan) bekerjasama dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Luwu melakukan ekplorasi dan riset terkait kopi Bisang. Melalui tim peneliti dari Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (Balittri) dan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sulawesi Selatan (BPTP Sulsel), Puslitbang Perkebunan berhasil mengidentifikasi dan mengamati perilaku hewan yang disebut Bisang tersebut.

Hewan nocturnal tersebut menyukai buah kopi yang masak dan yang masih segar. Bisang sangat pemilih dan dapat mengetahui jika buah kopi tersebut telah terkontaminasi lama atau baru dipetik, dan lebih menyukai buah kopi yang dipetik atau dimakan langsung dari dahan pohon kopi. Hewan tersebut mencari makan pada malam hari dan mampu bergelantungan pada dahan pohon kopi dengan ekornya. Bergerak dari dahan ke dahan dengan kaki belakangnya yang lebih besar dan lebar.

Oleh karena itu, jenis kopi yang cenderung disukai adalah kopi Arabika varietas typica atau keturunan hasil persilangan alami Robusta dan Arabika yang dikenal sebagai kopi lokal salongge karena berperawakan besar dengan batang kopi tumbuh tegak lurus ke atas dan beruas-ruas serta memiliki penampilan tajuk yang tinggi mencapai 3,5 − 4 m.

Dari hasil pengamatan diketahui bahwa diantara buah kopi yang disediakan dari berbagai ukuran dan jenis atau varietas kopi Arabika, Bisang lebih memilih kopi dengan buah besar dan berdaging tebal terlebih dahulu untuk dimakan. Selain memakan langsung buah kopi yang disodorkan, Bisang dapat menggunakan kaki depannya sebagai tangan untuk memegang buah kopi yang akan dimakan.

Buah kopi yang dimakan dikunyah selama kurang lebih 4 – 6 menit sebelum biji kopi dimuntahkan, dan dimakan satu per satu dengan selang waktu 2-3 menit per buah tanpa memuntahkan biji sebelumnya. Biji kopi yang dimuntahkan berbentuk seperti biji kopi setelah proses depulping dan terkadang dimakan kembali oleh bisang. Setelah dikunyah kembali, biji dimuntahkan dalam keadaan pecah atau hancur. Diduga bisang menyukai lendir yang terdapat pada biji kopi, hal itu tunjukkan dengan dimuntahkan kulit buah kopi yang kurang disukai atau yang terlalu keras dan tetap mengunyah bijinya. Dan terkadang saat mencicipi buah kopi yang kurang disukai, buah tersebut langsung dibuang setelah gigitan pertama.

Dimalam hari bisang akan berperilaku lebih aktif, dan dapat makan lebih banyak. Buah bekas gigitan atau biji-biji kopi yang telah dimuntahkan inilah yang ditemukan oleh petani berserakan di tanah di pagi hari. Sehingga petani yang berniat memetik buah kopi, tinggal memungut buah atau biji kopi tersebut tanpa melakukan proses depulping.

Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui perilaku bisang, jenis kopi yang disukai, dan biji-biji dari muntahan dari hewan tersebut lebih dalam lagi, serta pengaruhnya terhadap mutu dan citarasa kopi dari biji-biji tersebut. (Arifa Chan)

 

Artikel terkait