-->
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Highlights

Ejurnal
TV-TANI
Lapor.go.id
Kalender Tanam
PPID
SKM
perpus_digital
WBS
Saber Pungli
satu-layanan
WBK
Sigap UPG

Kalender Kegiatan

Social Media

Video

Download

Online

Terdapat 13 Tamu online

Polling

Apakah Situs Web Ini Informatif ?
 

Statistik

Jumlah Kunjungan Konten : 837676
Pengolahan Kopi Giling Basah Arabika Latimojong PDF Cetak E-mail
Artikel
Oleh Eko Heri Purwanto   
Jumat, 10 Juni 2016 19:46

Indonesia memiliki pulau-pulau yang secara historis menghasilkan kopi Arabika olah basah, yaitu : Jawa, Bali, dan Flores. Tapi penghasil Arabika terbesar, Sumatera serta Sulawesi, biasanya memproduksi kopi ‘giling basah’ atau wet hulled kopi. Termasuk Kecamatan Latimojong yang berada di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan dengan tanaman kopi Arabika seluas 2.430 Ha dan produksi pada tahun 2015 sebanyak 1.229 ton (Dishutbun Luwu, 2016) juga memproduksi kopi giling basah. Giling basah berarti "cangkang dikuliti basah", proses kopi yang dilakukan spesific di Indonesia dan menciptakan rasa tertentu. Kopi giling basah memberikan body lebih kuat  dan keasaman rendah, tetapi agak berkurang rasa manis dan aromanya. Pengolahan kopi yang biasa dilakukan adalah Petani memetik kopi sampai menghasilkan kopi gabah (HS) basah dilanjutkan dengan penggilingan dan pengeringan oleh pedagang pengumpul.

Mesin pengupas kulit buah kopi penjemuran kopi HS basah

Proses awal giling basah sama seperti pengolahan basah. Petani memetik kopi dan mengupas kulit buahnya menggunakan mesin pulper, hampir masing-masing petani mempunyai mesin pulper sendiri baik yang manual atau menggunakan engine. Hasilnya dibersihkan dari kotoran, kulit kopi yang terikut dan biji hitam akibat serangan hama. Kemudian mereka memfermentasi kopi dengan beberapa cara - dalam kantong polypropylene, bak plastik, atau bak beton, untuk memudahkan menghilangkan lapisan buah (lendir). Setelah fermentasi semalam, lendir dapat dicuci bersih dan didapatkan kopi gabah (HS) basah. Petani hanya mengeringkan selama satu atau dua hari dengan penjemuran diatas terpal dan segera menjualnya ke pedagang pengepul dengan harga saat ini +/- Rp 14.000 per liter. Dengan cara ini petani mendapatkan uang dari hasil kopi mereka lebih cepat tanpa harus melalui proses pengolahan yang lama.

 Mesin Giling Basah (wet huller) Penjemuran kopi labu

Pedagang pengumpul yang berada di Desa Kadundung selanjutnya mengupas cangkang kopi dengan mesin khusus (huller basah) ketika kopi masih memiliki kadar air sekitar 25-35%. Mesin huller basah cukup besar, menghasilkan banyak gesekan dan transfer panas biasanya menggunakan penggerak mesin mobil atau truk. Mesin ini menggunakan banyak gesekan untuk merobek dan menghilangkan cangkang yang melekat erat pada biji kopi yang masih basah. Jika masih terlalu basah, gesekan dari huller basah dapat memotong-motong kopi atau menghancurkan ujungnya. Setelah proses ini akan dihasilkan biji kopi beras yang masih basah berwarna putih dan sering disebut sebagai ‘kopi labu’. Kopi labu selanjutnya dikeringkan selama 2 – 3 hari sampai dihasilkan biji kopi kering dengan kadar air sekitar 12% berwarna kehijauan. (EHP)

 

Artikel terkait