-->
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Highlights

Kalender Tanam
SKM
TV-TANI
Saber Pungli
WBS
WBK
Lapor.go.id
perpus_digital
PPID
Sigap UPG
satu-layanan
Ejurnal

Kalender Kegiatan

Social Media

Video

Download

Online

Terdapat 20 Tamu online

Polling

Apakah Situs Web Ini Informatif ?
 

Statistik

Jumlah Kunjungan Konten : 897496
Membangun Bahan Seleksi Varietas Unggul Kakao PDF Cetak E-mail
Artikel
Oleh Dani   
Rabu, 13 Juli 2016 22:00

Peneliti Balittri dihadapkan pada tantangan untuk menghasilkan varietas unggul kakao dengan sifat potensi daya dan mutu hasil tinggi, sekaligus tahan hama penggerek buah (PBK), penyakit busuk buah (BBK), dan penyakit layu pembuluh (VSD). Meskipun disadari bahwa upaya menggabungkan semua sifat unggul tersebut ke dalam varietas/klon tunggal bukan pekerjaan mudah, peneliti Balittri tetap bergerak maju dengan mulai membentuk populasi seleksi. Peneliti kakao Balittri, Cici Tresniawati, S.P., M.Si., menjelaskan bahwa saat ini telah diperoleh populasi hibrida antar klon sebanyak sepuluh kombinasi. Lima klon tetua yang digunakan adalah ICCRI 03, TSH 858, ICS 13, DR 1, dan Sca 6. Sifat daya hasil tinggi dimiliki oleh tiga klon pertama. Klon DR 1 termasuk dalam kelompok kakao mulia berbiji putih yang dikenal memiliki kualitas tinggi, sedangkan klon Sca 6 merupakan sumber sifat ketahanan terhadap hama dan penyakit utama di atas.

Hasil Persilangan Buatan Antar Klon Kakao

Populasi hibrida antar klon tersebut ditanam di Kebun Percobaan Pakuwon dan saat ini telah mencapai umur dua tahun sejak tanam. Karakterisasi tahap awal dilakukan untuk mengetahui adanya keragaman dalam populasi. Hasil pengamatan menunjukkan adanya variasi karakteristik morfologi antar individu dalam populasi meskipun berasal dari tetua yang sama. Sebagai contoh, populasi hibrida yang berasal dari kombinasi tetua DR 1 x Sca 6 menujukkan variasi waktu berbuah, jumlah buah, ukuran buah, dan warna buah. Hal ini merupakan bukti bahwa klon-klon tetua yang digunakan bersifat heterosigot. Adanya variasi yang tinggi dalam populasi memberikan peluang untuk melakukan seleksi individu/pohon induk dengan dukungan teknologi penanda molekuler (marker asssisted selection = MAS). (Dani)

 

Artikel terkait