-->
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Highlights

SKM
TV-TANI
Saber Pungli
WBS
WBK
Lapor.go.id
perpus_digital
PPID
Sigap UPG
satu-layanan
Ejurnal
Kalender Tanam

Kalender Kegiatan

Social Media

Video

Download

Online

Terdapat 12 Tamu online

Polling

Apakah Situs Web Ini Informatif ?
 

Statistik

Jumlah Kunjungan Konten : 899958
Rapat /FGD Koordinasi Strategi Pemanfaatan Keanggotaan Indonesia Pada Internasional Cocoa Organization (ICCO) PDF Cetak E-mail
Artikel
Oleh Handi Supriadi   
Sabtu, 12 November 2016 17:59

Rapat dilaksanakan di Ditjen Multilateral, Kementerian Luar Negeri,  pada hari Jumat 11 November 2016, dihadiri 24 orang peserta yang berasal dari Kementerian Luar Negeri, Kementerian Pertanian (Badan Litbang Pertanian (Balittri dan Puslitbangtan) dan Ditjenbun), Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian,  Pemda Nangroe Aceh Darussalam, Pemda Sultra, Pemda Sulteng dan Asosiasi Kakao (DEKAINDO, APIKCI,  AIKI). Acara dipimpin oleh  Direktur Perdagangan, Perindustrian Investasi, Hak Kekayaan Intelektual, Ditjen Multilateral, Kemenlu (Tri Purnajaya).

Hasil rapat adalah sebagai berikut :

  1. International Cocoa Organization (ICCO) didirikan pada tahun 1973 dan merupakan organisasi kerjasama internasional dibawah UN (United Nations) dan berdiri berdasarkan International Cocoa Agreement (ICA) tahun 1972.   Berdasarkan data ICCO (per 17 Januari 2015), jumlah anggota mencapai 52 yang terdiri 23 negara produsen dan 29 negara konsumen.
  2. Manfaat yang diterima Indonesia sebagai anggota ICCO yaitu :
    • Dapat mengakses data kakao dunia, supply demand, hasil-hasil study dan penelitian
    • Indonesia mengajukan beberapa proyek :  (1) Cocoa Safe : sudah selesai, laporan sudah disampaikan ke ICCO. Ada rencana akan dilanjutkan, tetapi masih menunggu kepastian donor;  (2) Study on the Methods for Controlling VSD Disease in Cocoa : menunggu  adanya donor; (3) Improving Cocoa Productivity Through Holistic Approaches for the Management of Black Pod Disease : menunggu adanya donor.
    • "Organize a two-day workshop on the current status, challenges and prospects of the Indonesian cocoa sector, bringing together key stakeholders“ (Dalam work programme 2016/2017)
    • Memperoleh kesempatan mengikuti seminar Cocoa on Futures Markets and Econometric Modeling di Bali tahun 2015, secara gratis untuk sejumlah peserta.
    • Meminta bantuan ICCO agar bea masuk produk olahan kakao Indonesia ke Uni Eropa diturunkan menjadi 0% (saat ini berkisar 5-7%) seperti Afrika
    • Dua orang petani kakao dari Sulawesi diundang (dengan pembiayaan dari ICCO) hadir dalam WCC2 tahun 2014 di Belanda
    • Indonesia terpilih menduduki sejumlah posisi (Vice Chairman International Cocoa Council periode 2016/2017 (Tri Purnajaya), Anggota AF Committee 2016/2017, Anggota WG Review ICA).
  3. Rencana pemanfaatan keanggotaan Indonesia ke depan
    • Melanjutkan lobi ke ICCO agar Indonesia  memperoleh penurunan tarif bea masuk produk kakao Indonesia ke EU menjadi 0%.
    • Mengikuti seminar-seminar dalam rangka capacity building; dan memanfaatkan hasil-hasil penelitian dan studi yang dilakukan ICCO
    • Memanfaatkan networking untuk melobby anggota ICCO yang lain, sepeti misalnya menuju penghasil kakao specialty, single origin, asosiasi produsen kakao/cokelat di Eropa dan Amerika.
    • Memanfaatkan posisi Indonesia dalam sejumlah badan-badan ICCO untuk mendorong pendanaan proyek usulan Indonesia.
    • ICCO  sebaiknya menggunakan data resmi dari pemerintah Indonesia seperti Ditjenbun dan BPS
    • Balittri mengusulkan kegiatan : (1) pemupukan kakao spesifik lokasi dan (2) Peningkatan produktivitas kakao melalui gerakan : panen sering, pangkas sering, pemupukan dan sanitasi kebun kakao, Penguatan kelembagaan petani kakao