-->
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Highlights

satu-layanan
Lapor.go.id
Saber Pungli
SKM
WBS
Ejurnal
PPID
Kalender Tanam
WBK
Sigap UPG
perpus_digital
TV-TANI

Kalender Kegiatan

Social Media

Video

Download

Online

Terdapat 16 Tamu online

Polling

Apakah Situs Web Ini Informatif ?
 

Statistik

Jumlah Kunjungan Konten : 980671
Pelepasan Kakao BL 50, Kakao Unggulan dari Sumatera Barat PDF Cetak E-mail
Artikel
Oleh Arlia Dwi Hapsari   
Jumat, 21 April 2017 15:54

Bertepatan dengan Hari Kartini, Jumat (21/04/2017) merupakan momen istimewa bagi keluarga besar Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (Balittri) karena tanaman kakao BL 50 telah resmi dilepas sebagai varietas unggul.

Tim Penilai dan Pelepas Varietas (TP2V) Tanaman Perkebunan yang dipimpin oleh ketua tim Ir. H. Muhammad Anas, M.Si., melalui Sidang Pelepasan Varietas Tanaman Perkebunan Tahun 2017, menyetujui untuk melepas tanaman kakao yang diusulkan oleh Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Lima Puluh Kota bekerja sama dengan Balittri, sebagai varietas unggul dengan nama kakao BL 50 tipe varietas klon.

Selain itu, diumumkan pula bahwa kakao BL50 merupakan salah satu komoditas yang akan dilaunching oleh Presiden RI pada acara PENAS di Aceh pada bulan Mei mendatang.

 

Tanaman kakao BL50 merupakan klon unggul lokal dari Sumatera Barat, yang dikembangkan oleh petani setempat melalui hasil seleksi partisipatif yang kemudian diberi nama BL 50 (singkatan dari Balubuih Lima Puluh Kota). Selain di Kabupaten Lima Puluh Kota, kakao BL 50 juga telah menyebar luas di wilayah Payakumbuh dan Tanah Datar.

Buah kakao BL 50 terlihat menarik karena ukurannya yang lebih besar dibanding kakao lain, demikian juga dengan ukuran bijinya. Bentuk buah lonjong serta berwarna merah marun saat matang. Potensi produksi yang mencapai 3,69 ton/ha/th merupakan keunggulan yang jarang dimiliki oleh varietas lain, sehingga sangat dianjurkan untuk dibudidayakan. Dengan pelepasan kakao BL 50, diharapkan dapat mendukung pengembangan perkebunan kakao di Indonesia serta membantu meningkatkan pendapatan petani. (Arlia Dwi Hapsari/Tajul Iflah)