-->
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Highlights

Saber Pungli
SKM
WBS
Ejurnal
WBK
PPID
Kalender Tanam
Sigap UPG
perpus_digital
TV-TANI
satu-layanan
Lapor.go.id

Kalender Kegiatan

Social Media

Video

Download

Online

Terdapat 30 Tamu online

Polling

Apakah Situs Web Ini Informatif ?
 

Statistik

Jumlah Kunjungan Konten : 976940

Warning: copy() [function.copy]: php_network_getaddresses: getaddrinfo failed: Name or service not known in /var/home/vhosts/balittri/public/plugins/content/mavikthumbnails.php on line 674

Warning: copy(http://balittri.litbang.deptan.go.id/images/stories/Tanaman%20Bambu.jpg) [function.copy]: failed to open stream: No such file or directory in /var/home/vhosts/balittri/public/plugins/content/mavikthumbnails.php on line 674

Warning: copy(http://balittri.litbang.pertanian.go.id/images/stories/Tanaman%20Bambu.jpg) [function.copy]: failed to open stream: Connection refused in /var/home/vhosts/balittri/public/plugins/content/mavikthumbnails.php on line 674
Potensi Bambu Sebagai Tanaman Konservasi Daerah Aliran Sungai PDF Cetak E-mail
Artikel
Oleh Administrator   
Senin, 18 Juli 2011 15:54

 Degradasi lahan di Indonesia, khususnya di Daerah Aliran Sungai (DAS) pada bagian hulu dan terlebih lagi pada bagian hilir lajunya terus meningkat dan bahkan terkesan tidak terkendali.  Yang berdampak merusak pada tatanan siklus hidrologi, sehingga ketika musim  penghujan  sering  terjadi banjir,  dan  saat  musim  kemarau terjadi  krisis  air.  Harus  disadari bahwa tindakan konservasi  alam dalam rangka pemulihan hutan dan lahan serta fungsi DAS dengan menggunakan tanaman  kayu  sangat  mahal  dan  membutuhkan perawatan maupun waktu yang lama.  Menyikapi kondisi demikian, pemerintah perlu melakukan kebijakan jangka pendek untuk mengatasinya, adapun langkah bijaksana yang dapat diambil dalam jangka pendek terutama untuk melindungi DAS adalah dengan menggunakan bambu sebagai tanaman konservasi.

Selain memiliki keunggulan untuk memperbaiki sumber tangkapan air yang sangat baik, sehingga mampu meningkatkan water storage (cadangan air bawah tanah)   secara nyata, maka pertimbangan menggunakan bambu sebagai tanaman konservasi adalah karena bambu merupakan tanaman yang mudah ditanam serta memiliki pertumbuhan yang sangat cepat,   tidak membutuhkan perawatan khusus, dapat tumbuh pada semua jenis tanah,   tidak membutuhkan  investasi besar,   sudah  dewasa  pada  umur  3  –  5 tahun dan dapat di panen setiap tahun tanpa merusak rumpun serta memiliki toleransi tinggi terhadap gangguan alam  dan kebakaran. Disamping itu,   bambu juga memiliki kemampuan peredam suara yang  baik  dan  menghasilkan  banyak  oksigen  sehingga  dapat ditanam  di daerah pemukiman maupun dipinggir jalan raya.
Tanaman bambu mempunyai sistem perakaran serabut dengan akar rimpang yang sangat kuat, meskipun berakar serabut pohon bambu sangat tahan terhadap terpaan angin kencang. Perakarannya tumbuh sangat rapat dan menyebar ke segala arah, serta memiliki struktur yang unik karena terkait secara horizontal dan vertikal, sehingga  tidak  mudah  putus  dan  mampu  berdiri  kokoh  untuk menahan erosi dan tanah longsor di sekitarnya, disamping itu lahan di bawah tegakan bambu menjadi sangat stabil dan mudah meresapkan   air. Dengan   karakteristik   perakaran   seperti   itu, memungkinkan tanaman ini menjaga sistem hidrologis yang menjaga ekosistem    tanah  dan  air, sehingga  dapat  dipergunakan  sebagai tanaman konservasi.
Kecepatan pertumbuhan bambu dalam menyelesaikan masa pertumbuhan vegetatifnya merupakan tercepat dan tidak ada tanaman  lain  yang  sanggup   menyamainya.   Dari beberapa hasil penelitian, kecepatan pertumbuhan vegetatif bambu dalam 24 jam berkisar 30 cm – 120 cm tergantung dari jenis- nya. Sebuah   keajaiban pertumbuhan yang tidak dapat ditemukan pada tanaman  lain.  Selain  itu, bambu memiliki umur yang panjang dalam siklus hidupnya, dapat mencapai  30 - 100 tahun bahkan lebih tergantung dari jenisnya.
Bambu juga tahan kekeringan dan bisa tumbuh baik di lahan curam,  sehingga bambu mempunyai potensi untuk menahan long- sor. Walaupun kadang-kadang dijumpai banjir atau tanah longsor yang menghanyutkan rumpun bambu. Itu bisa terjadi pada rumpun bambu yang tumbuh soliter (rumpun tersendiri). Kalau bambu ditanam   berderet   menyerupai   teras   pada   sebuah   lereng   dan membentuk sabuk gunung, dimana akar bambu akan saling terkait dan mengikat antar rumpun, maka kekuatannya sangat luar biasa. Rumpun bambu berikut serasah di bawahnya juga mampu menahan top soil   hingga tidak hanyut tergerus run off air hujan. Sehingga kemampuan   tanaman   bambu   untuk   mencegah   erosi   maupun longsor dapat diandalkan.
Bambu merupakan salah satu jenis tanaman perintis, sehingga untuk tumbuh tidak membutuhkan persyaratan tumbuh yang teramat rumit sebagaimana tanaman lain. Adapun syarat tumbuh yang baik untuk pertumbuhan bambu adalah sebagai berikut : (1)  pada semua jenis tanah terutama jenis tanah dengan tekstur berpasir sampai berlempung, berdrainase baik,   pH tanah yang dikehendaki antara 5,6 – 6,5; (2)  pada dataran rendah maupun dataran tinggi  hingga ketinggian 1.500 m dpl; (3) dengan iklim tipe A hingga C (Schmidt – Ferguson) dengan suhu udara 270   – 360 C dan kelembaban udara ± 80 %, walaupun demikian bambu dapat tumbuh di lahan sangat kering  dengan  tipe  iklim  D  seperti  di  kepulauan  Nusa  Tenggara Timur.
Perbanyakan tanaman bambu yang biasa dilakukan adalah dengan  cara  vegetatif  melalui  stek  batang  atau  stek  rhizoma. Adapun  untuk mendapatkan bibit secara massal dalam waktu relatif singkat  dengan  cara  mudah  dan  biaya  murah  adalah  dengan menggunakan metoda perbanyakan cangkokan cabang/ranting. Bahan untuk mencangkok berupa kantong plastik bening ukuran 0,5 kg dengan media sabut kelapa. Sabut direndam air, lalu dimasukkan ke dalam kantong plastik,. setelah dipadatkan dan ujungnya diikat, kantong berisi media disayat sebagian. Pangkal cabang yang akan dicangkok dimasukkan ke bagian yang tersayat lalu diikat erat-erat. Dalam  waktu  kurang  dari  satu  bulan  akar  sudah  tumbuh,  dan cabang baru bisa diambil setelah akar yang kelihatan pada bungkus plastik itu berwarna coklat,  ujung cabang dipotong tinggal 1,5 meter sebelum disemai di polybag.
Berdasarkan sifat karakteristik tanaman bambu tersebut, maka beberapa negara Asia seperti China dan India telah menggunakannya sebagai tanaman utama konservasi tanah dan air, yang   selain   untuk   memperbaiki   dan   meningkatkan   sumber tangkapan  air  serta mencegah erosi,  juga mampu meningkatkan ekonomi masyarakat melalui aneka kerajinan serta kebutuhan konstruksi.  Hasil studi Akademi Kehutanan Beijing (1998)  yang melakukan studi banding pada hutan pinus dan bambu pada beberapa DAS di China, mendapatkan bahwa hutan bambu mampu menambah  240%  air  bawah  tanah  lebih  besar  dibanding  hutan pinus.  Saat ini dari seluas 4,3 juta ha hutan bambu yang telah ditanam di China, telah mampu menghasilkan bambu sebanyak 14,2 juta ton/tahun yang memberi kontribusi yang positif terhadap perekonomian masyarakatnya.
Utthan Centre sebuah LSM di India, pada tahun 2004 telah melakukan penanaman hutan bambu seluas 106 ha dalam upaya konservasi  pada lahan bekas penambangan batu, dimana dalam jangka waktu 4 tahun permukaan air bawah tanah meningkat 6,3 meter dan seluruh areal penanaman menghijau serta memberi pekerjaan kepada sekitar 80% penduduk setempat melalui industri kerajinan  bambu.  Dengan  demikian,  dari  sisi ekologis  tanaman bambu memiliki kemampuan menjaga keseimbangan lingkungan karena sistem perakarannya dapat mencegah erosi dan mengatur tata air. Dan dari sisi ekonomi, tanaman bambu mampu memberikan peningkatan pendapatan masyarakat di sekitarnya dalam waktu 3-5 tahun setelah tanam, waktu yang relatif cepat apabila dibandingkan dengan komoditas kayu.
Oleh karena itu, keberhasilan upaya konservasi tanah dan air melalui   penanaman   bambu   di   China   maupun   India,   sudah seharusnya memberikan dorongan bagi Indonesia untuk melakukan gebrakan secara nasional untuk menyelamatkan sumber daya alam hutan dan lahan khususnya DAS dan sumber tangkapan air lainnya, dengan melakukan gerakan konservasi menggunakan tanaman bambu, sehingga  kedepan   ancaman   banjir  maupun   longsor dimusim   penghujan   serta   krisis   air   dimusim   kemarau   dapat dieliminir, berikut dapat meningkatkan nilai tambah pendapatan masyarakat disekitarnya melalui pengembangan industri berbasis bambu (Usman Daras dan Juniaty Towaha/Email:balittri@gmail. com).