-->
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Highlights

Sigap UPG
Lapor.go.id
PPID
SKM
perpus_digital
WBK
Ejurnal
TV-TANI
Kalender Tanam
Saber Pungli
satu-layanan
WBS

Kalender Kegiatan

Social Media

Video

Download

Online

Terdapat 19 Tamu online

Polling

Apakah Situs Web Ini Informatif ?
 

Statistik

Jumlah Kunjungan Konten : 874780
Taman Sain Pertanian (TSP) Lahan Rawa Banjar Baru Kalimantan Selatan Miniatur Sistem Petanian Lahan Rawa Indonesia PDF Cetak E-mail
Artikel
Oleh Bariot Hafif   
Senin, 22 Oktober 2018 07:30

Dengan topik “Pertanian Lahan Rawa Mendukung Indonesia Menuju Lumbung Pangan Dunia 2045”, Menteri Pertanian, Dr. Andi Amran Sulaiman, MP, meresmikan keberadaan TSP Lahan Rawa yang berlokasi di Banjarbaru Provinsi Kalimantan Selatan. Peresmian TSP Lahan Rawa Banjarbaru bersamaan dengan dibukanya penyelenggaraan “Pekan Pertanian Rawa Nasiional (PPRN) II”, yang diadakan selama 4 hari yaitu dari tanggal 17 – 20 Oktober 2018. Acara ini juga dihadiri oleh Kepala Balitbangtan, Prof (R) Dr. Muhammad Syakir, MS, beberapa Dirjen Kementan dan Pejabat Eselon  II dan III lingkup Balitbangtan, sementara Pemda Provinsi Kalsel diwakili oleh Sekwilda Provinsi Kalsel yang mewakili Gubernur Kalsel, juga hadir  Bupati Kabupaten Barito Kuala, Wakil Walikota Banjarbaru dan beberapa anggota DPRD TK. I dan II. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah kehadiran para kelompok petani lahan rawa, para penyuluh pertanian, pemuda tani dan pelajar Sekolah Kejuruan Pertanian, Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) dan masyarakat tani lahan rawa lainnya.

Kehadiran Menteri Pertanian pada acara tersebut sangat penting artinya dalam memotivasi masyarakat petani lahan rawa. Seperti dikemukakan Mentan, seandainya pengelolaan lahan rawa untuk pertanian dilakukan sebagaimana  teknologi yang diterapkan pada TSP lahan rawa, tidak disangsikan lagi, 10 juta hektar lahan rawa di Indonesia akan mempunyai arti sangat penting dalam mendukung pencapaian Indonesia sebagai Lumbung Pangan Dunia pada tahun 2045. Pengujian di TSP mendapatkan, teknologi budidaya padi dengan dukungan varietas unggul dapat meningkatkan produktivitas padi lahan rawa dari 2 ton/ha menjad 6 ton/ha, demikian pula budidaya jagung dengan menanam varietas penghasil 2 tongkol sudah menaikkan produktivitas jagung lahan rawa dari produktivitas 5 ton/ha menjadi 10 ton/ha.

Sangat disayangkan, saat ini sebagian besar lahan rawa di Indonesia sedang tidur dan petaninya juga lebih suka tidur. Di Kalimantan Selatan sendiri tersedia lahan rawa potensial sekitar 500.000 ha, sebagian besar juga dalam keadaan tidur, dan yang digarap untuk tanaman pangan (padi) rata-rata hanya memiliki Indeks Pertanaman (IP) 100 dengan produktivitas 2 ton/ha. Menjadi pertanyaan besar Menteri adalah kenapa sumberdaya air yang berlimpah di sekeliling lahan rawa, yang terlihat dari udara berupa banyaknya sungai-sungai yang mengalir, airnya belum bisa dimanfaatkan untuk budidaya tanaman?. Sudah sepatutnya air berlimpah tersebut dimanfaatkan, sehingga IP 100 di lahan rawa bisa berubah menjadi IP 300. Kedepan ini harus menjadi bagian utama kebijakan pertanian.

Saat ini tayangan teknologi pertanian lahan rawa pada TSP Lahan Rawa, masih lebih menonjolkan teknologi budidaya tanaman pangan dan sayuran. Sementara pengelolaan lahan rawa untuk tanaman industri belum terlihat.  Saat kunjungan dilakukan pada pertanian sistem surjan,  tanah guludan terlihat dimanfaatkan untuk penanaman tanaman jeruk.  Tanaman industri seperti kelapa dalam,  kelapa sawit, karet dan tanaman penyegar seperti kakao, dan kopi, juga dapat dikembangkan pada guludan tersebut. Diharapkan pada masa yang akan datang, TSP lahan rawa juga menampilkan teknologi pertanian terkait pengelolaan lahan rawa untuk tanaman industri.

 

Artikel terkait