-->
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Highlights

TV-TANI
Kalender Tanam
Saber Pungli
satu-layanan
WBS
Sigap UPG
Lapor.go.id
PPID
SKM
perpus_digital
WBK
Ejurnal

Kalender Kegiatan

Social Media

Video

Download

Online

Terdapat 25 Tamu online

Polling

Apakah Situs Web Ini Informatif ?
 

Statistik

Jumlah Kunjungan Konten : 872690
Optimalisasi Pemanfaatan Bahan Baku Tanaman Industri dan Usaha Meningkatkan Nilai Ekonominya PDF Cetak E-mail
Artikel
Oleh Administrator   
Selasa, 19 Juli 2011 18:00

Bahan baku dari tanaman industri sampai saat ini belum diolah secara optimal, padahal dari bahan baku tersebut dihasilkan bahan baku sampingan ikutannya yang berpotensi diolah menjadi produk lain yang bernilai ekonomis. Bila ini dapat dilakukan kemungkinan besar nilai tanaman industri akan meningkat lebih baik lagi.

Tanaman tebu mulai dibudidayakan di Indonesia sejak tahun 8000 sebelum masehi (SM). Namun baru digunakan sebagai sumber bahan pemanis di Pulau jawa pada zaman Aji Saka sekitar tahun 75 M. Pada abad ke XVII baru berdiri industri gula di sekitar selatan Batavia, yang dikelola oleh orang-orang China bersama para pejabat VOC. Pengolahan gula saat itu masih sangat sederhana. Pada abad XIX , industri gula yang lebih modern yang dikelola oleh orang-orang Eropa mulai bermunculan. Pabrik gula (PG) modern pertama didirikan di daerah Pamanukan (Subang) dan Besuki (Jawa Timur). Pada zaman Culturstesel, Van den Bosch memperlakukan peraturan bahwa semua aktivitas PG dikuasai  oleh pemerintahan colonial Belanda. Kebijakan ini berhasil baik, dimana 10 tahun kemudian gula dari Jawa mampu mendominasi pasar dunia. Perkembangan berikutnya, beberapa PG mulai bermunculan di Jawa dengan dukungan pembangunan infrastruktur besar-besaran terutama dalam penyediaan sarana irigasi.
 
Kebangkitan industri gula di Jawa pada masa itu sebenarnya terkait dengan perubahan teknologi. Sejak Culturstelsel diberlakukan teknologi industri gula Jawa sebagian mengadopsi teknologi pengolahan gula bit di Eropa. Selain itu, dukungan para peneliti di Belanda yang difasilitasi oleh pemerintah ikut terlibat dalam pengembangan industri Gula Jawa. Mereka saling bertukar informasi tentang teknologi prosesing gula tebu dan gula bit. Industri gula Jawa pada akhirnya berkembang cukup pesat dan bahkan menjadi acuan bagi industri gula tebu dunia. Inovasi teknologi prosesing gula tebu yang dimulai abad XIX tersebut, kemudian disempurnakan dengan berbagai inovasi teknologi di Abad XX dan bertahan hingga saat ini. Melalui sejarah panjang tersebut tanaman tebu baru bernilai ekonomis, dengan makin berkembangnya teknologi budidaya dan prosesing hasil.
 
Saat ini nilai tanaman jarak pagar   hanya ditentukan oleh produk minyak yang dihasilkannya, padahal dari produk lain yang berasal dari hasil ikutan pengolahan minyak tersebut seperti ampas sisa pengepresan, gliserol dan sebagainya juga bernilai ekonomi. Setiap menghasilkan 1 ton biosolar dari jarak pagar bersamaan dengan itu dihasilkan antara lain; 6 ton kulit buah (kapsul), 3 ton ampas pengepresan dan 0,18 ton gliserol. Bahan-bahan ini dapat diolah menjadi produk-produk lain yang bermanfaat dan bernilai ekonomis. Kulit kapsul dapat dijadikan  kompos organic, pestisida nabati; ampas pengepresan dapat digunakan untuk pembuatan briket, biogas, kompos dan lain-lain; sedangkan gleserol dapat dijadikan sebagai bahan baku industri kimia dan industri lainnya. Sehingga nilai jarak pagar akan jauh lebih tinggi dibandingkan hanya dari nilai minyaknya saja.
 
Tanaman melinjo (Gnetum gnemon Linn) yang selama ini dikenal dengan emping melinjo, stike dan makanan ringan lainnya. Sebenarnya mempunyai kandungan flavonoid dari senyawa polifenol yang berguna sebagai antioksidan yang dapat menghancurkan radikal bebas dan meningkatkan daya tahan tubuh. Kandungan flavonoid ini menunjukan bahwa buah melinjo berpotensi untuk diolah menjadi produk lain yang bernilai ekonomi lebih tinggi dari sekedar emping melinjo. 
 
Kayumanis (Cinamomum burmanii) hanya dihargai sebagai tanaman penghasil kulit kayumanis, padahal setiap menghasilkan 1 ton kulit kayumanis bersamaan dengan itu diperoleh; 3,75 ton daun dan 5 m3 kayu gergajian, dan 7,5 ton kayu cabang/ranting. Dari daun tanaman kayumanis akan diperoleh minyak atsiri, kayu gergajian dapat digunakan sebagai bahan bangunan, meubiler, dan sebagainya sedangkan kayu cabang/ranting dapat diolah menjadi kayu partikel board. Penggunaan kulit kayumanis di dalam negeri dapat ditingkatkan, selain sebagai bahan penyedap makanan, juga sebagai bahan pencampur minuman kesehatan, obat-obatan dan sebagainya. Saat ini sudah tersedia produk minuman kesehatan yang mencampurkan bubuk kulit kayumanis dengan teh, sirup kayumanis dan lain-lain. Peningkatan konsumsi ini diharapkan dapat meningkatkan nilai ekonomi dari tanaman kayumanis di masa depan. Untuk menjadikan kayu kayumanis bernilai tinggi, harus dimulai dari sejak pemeliharaan tanaman seperti pembuangan cabang dan ranting di batang utama sampai setinggi 4 meter dari permukaan tanah, agar batang berbentuk sempurna, tidak cacat oleh bekas cabang atau ranting. 
 
Hal yang sama juga terjadi pada tanaman gambir, dengan kandungan katechin yang tinggi (>45%) berpotensi untuk diolah menjadi beberapa macam produk. Selain berguna untuk bahan penyamak atau bahan farmasi, katechin sebagai polifenol alami berpotensi untuk dijadikan bahan perekat pada industri kayu lapis. Perekat dari katechin ini lebih ramah lingkungan karena lebih alami dibandingkan dengan perekat sintetis yang berasal dari minyak bumi. Selain itu katechin juga dapat digunakan sebagai bahan baku industri tinta seperti tinta untuk pemilu. Tinta pemilu ini malah diimpor dari India yang diketahui sebagai Negara pengimpor gambir dari Indonesia. Bila dapat diproduksi sendiri di dalam negeri, nilai ekonomi gambir akan meningkat sesuai dengan kegunaannya yang lebih banyak dan beragam.
 
Masih banyak tanaman industri yang sudah dibudidayakan namun harganya masih sangat rendah. Rendahnya harga dari produk tanaman tersebut selain disebabkan oleh mutu yang kurang baik tetapi juga oleh nilai yang diberikan hanya terhadap fungsi utama dari produk tersebut, sedangkan hasil samping sebagai ikutannya sama sekali tidak bernilai hanya dianggap limbah. Oleh sebab itu   teknologi prosesing harus terus berkembang agar diperoleh cara pengolahan yang efisien dan lebih menguntungkan terhadap hasil samping atau bahan ikutan dari tanaman industri tersebut, sehingga dapat dinilai sebagai bahan baku yang berharga dari sebuah industri.  (Yulius Ferry/Balittri)