-->
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Highlights

Ejurnal
Saber Pungli
Kalender Tanam
WBK
PPID
Lapor.go.id
perpus_digital
TV-TANI
satu-layanan
pui-balittri
Pakar Kopi
WBS
Sigap UPG
SKM

Kalender Kegiatan

Video

Social Media

Download

Online

Terdapat 27 Tamu online

Polling

Apakah Situs Web Ini Informatif ?
 

Statistik

Jumlah Kunjungan Konten : 1150443
Roundtable Dialogue Perakit dan Pengembang Bioteknologi dengan Komisi Keamanan Hayati Produk Rekayasa Genetik PDF Cetak E-mail
Artikel
Oleh Syafaruddin   
Rabu, 13 Februari 2019 07:30

Acara Roundtable Dialogue ini diadakan di Hotel Royal Pajajaran, Bogor pada tanggal 11 Februari 2019. Dihadiri oleh Ketua Komisi Keamanan Hayati Produk Rekayasa Genetik (KKH PRG), Prof. Dr. Bambang Prasetya, Presiden MASBIOPI, Dr. Widodo Hadisaputro, Perwakilan dari Lembaga/Kementerian, Para Anggota KKH PRG, Para Anggota Tim Teknis Keamanan Hayati (TTKH PRG), dan pelaku usaha tanaman penghasil PRG, diantaranya Syngenta dan Monsanto (Bayer). Dalam kesempatan ini  Kepala Balittri Ir. Syafaruddin, Ph.D. turut hadir sebagai TTKH Lingkungan. Semua peserta berkumpul untuk mendiskusikan isu penting tentang keamanan hayati PRG. Topik ini dikatakan penting karena pada akhirnya akan berhubungan langsung dengan kehidupan, misalnya jenis makanan yang akan kita konsumsi, pakan yang akan diberikan pada ternak, serta tanaman apa yang akan kita budidayakan.

Dalam sambutannya, Ketua KKH PRG menyampaikan bahwa Indonesia terkenal kekayaan sumber daya alamnya yang melimpah, dan merupakan salah satu negara yang memiliki keanekaragaman hayati yang sangat kaya dan bernilai tinggi (mega biodiversity). Ditambahkan juga bahwa keanekaragaman hayati ini merupakan rahmat dan karunia Tuhan Yang Maha Esa bagi umat manusia, oleh karena itu perlu dikelola secara berkelanjutan agar dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan tidak merugikan kesehatan manusia maupun lingkungan. Di tatanan internasional, Indonesia telah menunjukkan komitmen untuk menjaga keanekaragaman hayati. Tahun 1994 Indonesia telah meratifikasi konvensi keanekaragaman hayati melalui Undang-undang Nomor 5 tahun 1994. Dalam konvensi tersebut dimandatkan adanya pengaturan mengenai keamanan hayati PRG yang berada di bawah Protokol Cartagena. Mengantisipasi betapa gencar dan cepatnya perkembangan bioteknologi khususnya rekayasa genetik di masa datang, Indonesia meratifikasi Protokol Cartagena tersebut melalui Undang-undang Nomor 21 Tahun 2004. Seperti diketahui, di abad 21 ini bioteknologi merupakan salah satu teknologi yang akan sangat berperan penting untuk menunjang kebutuhan hidup manusia.

Pengkajian keamanan hayati PRG wajib mengacu pada pedoman yang telah di tetapkan oleh Kementerian/Lembaga yang bertanggung jawab terhadap pelepasan dan peredaran PRG. Namun yang tidak kalah pentingnya setelah PRG beredar adalah kegiatan pengelolaan dan pemantauan risiko pasca pelepasan PRG yang mungkin terjadi. Untuk itu pemohon wajib memiliki dokumen rencana pemantauan dan evaluasi terhadap risiko-risiko yang mungkin timbul, antara lain risiko terhadap keanekaragaman hayati dan munculnya organisme sasaran yang resisten serta tindakan yang akan diambil bila muncul risiko setelah PRG tersebut dilepaskan.

Semua peserta pertemuan berharap semoga kegiatan berdiskusi hari ini akan menjadi embrio dan langkah awal untuk menjadikan PRG dapat dimanfaatkan secara lebih aman dan bertanggungjawab di seluruh bagian di republik ini. Untuk para  pemangku kebijakan dari semua elemen kementerian supaya saling bersinergi dalam mendukung dan membuat regulasi, sehingga kepentingan yang didasarkan pada kehati-hatian akan menjadi kenyataan.

 

Artikel terkait