-->
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Highlights

TV-TANI
Kalender Tanam
Saber Pungli
satu-layanan
WBS
Sigap UPG
Lapor.go.id
PPID
SKM
perpus_digital
WBK
Ejurnal

Kalender Kegiatan

Social Media

Video

Download

Online

Terdapat 14 Tamu online

Polling

Apakah Situs Web Ini Informatif ?
 

Statistik

Jumlah Kunjungan Konten : 876490

Warning: copy() [function.copy]: php_network_getaddresses: getaddrinfo failed: Name or service not known in /var/home/vhosts/balittri/public/plugins/content/mavikthumbnails.php on line 674

Warning: copy(http://balittri.litbang.deptan.go.id/images/stories/Lada%20Organik.png) [function.copy]: failed to open stream: No such file or directory in /var/home/vhosts/balittri/public/plugins/content/mavikthumbnails.php on line 674

Warning: copy(http://balittri.litbang.pertanian.go.id/images/stories/Lada%20Organik.png) [function.copy]: failed to open stream: Connection refused in /var/home/vhosts/balittri/public/plugins/content/mavikthumbnails.php on line 674
Pertanian Organik, Salah Satu Cara Mengembalikan Kedaulatan Petani PDF Cetak E-mail
Artikel
Oleh Administrator   
Selasa, 19 Juli 2011 19:36

Pertanian yang selaras dengan alam disebut dengan “pertanian organik”. Pertanian ini kembali pada teknik bertani tanpa pupuk kimia dan pestisida. Pasar produk organik semakin meningkat, sejalan dengan meningkatnya keinginan masyarakat untuk menggunakan produk sehat tanpa tercemar bahan kimia. Bagi petani menggunakan pupuk organik memberikan kesempatan untuk tidak bergantung kepada pupuk pabrikan, sehingga petani menjadi mandiri dan berdulat, karena  petani memiliki semua bahan untuk pembuat pupuk organik sehingga mereka lebih bebas dari ketergantungan dari pihak lain.

Sejak revolusi hijau lebih dari 60 tahun yang lalu, penggunaan bahan kimia pada lahan pertanian  meningkat sangat tajam. Dosis pemupukan semakin tahun semakin meningkat, bila tahun 1950 dosis pemupukan padi hanya sekitar 100 kg per ha, pada tahun 2009 menjadi 500 kg per ha. Kondisi ini tidak hanya menyebabkan petani sangat tergantung pada pupuk anorganik tetapi juga telah merusak lahan, membunuh serangga madu dan meningkatnya kandungan bahan kimia pada produk pertanian. Rachel Carson pada tahun 1962 mengatakan bahwa “kita dihadapkan pada dua jalan bercabang. Jalan yang satu, yang telah kita tempuh selama ini, adalah jalan tol yang mulus yang memungkinkan kita memacu kecepatan, tapi pada akhirnya menuju bencana. Jalan lainnya untuk ditempuh, sangat sepi, tapi hanya itulah yang akan membawa kita ke tujuan akhir pelestarian bumi ini”. Jalan pertama adalah metode bertani yang mengandalkan pupuk kimia dan pestisida. Sebaliknya jalan kedua adalah metode bertani selaras dengan alam atau kemudian dikenal dengan pertanian organik.

Produk pertanian organic sangat diminati konsumen sehingga harganya hampir 5 kali lipat dibandingkan dengan produk pertanian konvensional, hal ini menyebabkan produsen pupuk anorganik juga membuat pupuk organic dan pestisida nabati. PT. Pupuk Kalimantan Timur telah membangun pabrik pupuk organic berkapasitas 3.600 ton per tahun dengan merek Zeorganik. Kedepan, mereka menargetkan produksi pupuk organic mencapai 10.0000 ton per tahun. PT. Pupuk Sriwijaya (Pusri) juga mengembangkan pupuk organic yang diberi nama Pusri Plus dengan kapasitas produksi sebesar 100.000 ton per tahun.  Pupuk organic pabrikan ini masuk ke pasar dan memenuhi kebutuhan petani, kembali menguasai petani dan petani menjadi ketergantungan.

Dari hasil beberapa penelitian dan pengalaman petani menunjukan bahwa pemberian bahan organic selama tiga tahun berturut-turut memberikan panen yang sama dengan menggunakan pupuk anorganik. Artinya petani tidak perlu kuatir bahwa produktivitasnya akan selalu rendah dan tidak menguntungkan.

Ketersediaan bahan baku pupuk organic di pedesaan cukup banyak, teknologi pembuatan pupuk organic sudah sangat banyak, mulai dari bakteri pembusuknya sampai pada cara memperkaya unsure haranya sesuai dengan komposisi hara yang sesuai. Pengetahuan ini yang  harus dimiliki petani, melalui sekolah-sekolah lapang dan penyuluhan. Pada tahap pertama kita harus yakin bahwa petani mampu meracik pupuk organik sesuai dengan kebutuhannya, kemudian baru pengetahuan lainnya. Dengan demikian petani akan terlepas dari ketergantungan pupuk dari pihak lain dan berdaulat dalam berusahatani.

Pertanaman lada terintegrasi dengan ternak merupakan salah satu budidaya lada terpadu, yang memberikan kesempatan kepada petani untuk menyediakan pupuk organic bagi tanaman ladanya. Satu hektar tanaman lada dengan tiang panjat hidup dari tanaman glirisedia dan penutup tanah dengan tanaman arachis pentoi, cukup menyediakan pakan 6 ekor kambing atau 1 ekor sapi. Ternak ini dengan berangkasan lainnya akan menghasilkan pupuk organic sebanyak lebih kurang 8 ton/tahun atau dapat memenuhi kebutuhan pupuk 1600 batang tanaman lada setiap tahunnya. Kunci dari penyediaan sendiri pupuk organic ini adalah, bagaiamana petani harus mempunyai hewan peliharaan sebagai sumber bahan organik. (Yulius Ferry/Email: yulius_ferry@yahoo.com)