-->
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Highlights

PPID
Saber Pungli
WBK
Kalender Tanam
TV-TANI
pui-balittri
WBS
satu-layanan
Sigap UPG
Ejurnal
SKM
perpus_digital
Pakar Kopi
Lapor.go.id

Kalender Kegiatan

Video

Social Media

Download

Online

Terdapat 23 Tamu online

Polling

Apakah Situs Web Ini Informatif ?
 

Statistik

Jumlah Kunjungan Konten : 1257642
Kopi Sirap, Si Robusta yang Butuh Sentuhan Para Ahli PDF Cetak E-mail
Artikel
Oleh Syafaruddin   
Senin, 11 Maret 2019 07:30

Kekayaaan sumber daya alam Indonesia yang sangat melimpah merupakan aset terbesar yang harus terus dipelihara dan digali untuk dapat dimanfaatkan bagi kepentingan seluruh rakyat Indonesia. Salah satu aset terbesar ini adalah melimpahnya keaneragaman hayati flora Indonesia yang tersebar di seluruh pelosok negeri. Kopi Robusta ada di dalam jutaan jenis flora tersebut, dan masih banyak tersembunyi di berbagai belahan bumi Indonesia. Kopi-kopi ini menanti sentuhan para peneliti untuk digali keunggulannya sampai memuncak pada akhir kegiatan penelitian untuk mendapatkan varietas unggul. Informasi terkait keunikan yang tersembunyi dari beberapa Robusta ini sering didapatkan dari masyarakat dimana kopi-kopi tersebut berada. Baik dari segi kualitas rasa, maupun produktivitas yang di atas rata-rata. Sebagai tindak lanjut dari informasi tersebut, biasanya para peneliti dan penggiat kopi akan langsung ke lokasi untuk melihat secara langsung dan memutuskan untuk melakukan evaluasi terhadap materi genetik tersebut.

Di wilayah Jawa Tengah, jauh di pelosok perkampungan tepatnya di Dusun Sirap, Desa Kelurahan, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang, terdapat hamparan kopi Robusta. Ngadiyanto yang merupakan penggiat kopi sekaligus ketua kelompok tani "Rahayu 4" yang berdiri pada tahun 1998 mengatakan: "Hamparan luas kopi Robusta ini adalah milik para anggota kelompok tani yang berjumlah 40 orang dengan luasan total pertanaman sekitar 35 hektar. Kopi di sini berumur antara 15-25 tahun dan merupakan tanaman turun temurun dari leluhur" ungkapnya. Masyarakat di desa ini menggantungkan mata pencarian dari bercocok tanam kopi, yang dijual dalam bentuk biji kering ataupun sudah dalam bentuk olahan (serbuk kopi). Pembeli ada yang datang langsung sebagai langganan tetap dan terkadang petani juga menjual ke wilayah ibu kota provinsi. Ngadiyanto menambahkan, "Rata-rata penduduk mempunyai kebun kopi, disamping tanaman-tanaman buah seperti durian, nangka dan alpukat. Sebagian penduduk sudah mempunyai alat pemroses kopi menjadi kopi bubuk. Namun demikian belum terlihat adanya kelembagaan hulu-hilir" lanjutnya.

Perkebunan kopi rakyat di kawasan daerah perbukitan dengan ketinggian sekitar 800 m dpl ini menjadi salah satu destinasi wisata lokal yang sudah viral di media sosial. Kawasan wisata ini belum disentuh oleh pemerintah daerah, sehingga masih dikelola oleh organisasi pemuda dan organisasi peduli lingkungan. Kawasan Kopi sirap ini berada dalam deretan kawasan lereng gunung kelir, ke arah barat tepatnya di Desa Sirap, makanya dikenal dengan kopi "Sirap". Di kampung Sirap ini ada sebuah cafe yang berada di sekitar perkebunan kopi, didukung dengan penataan landscape untuk swafoto. Pengunjung banyak menghabiskan waktu di sini sambil menikmati seduhan kopi lokal yang ditemani penganan ringan seperti singkong dan pisang goreng.

Penjajagan awal untuk mengevaluasi keunggulan kopi Sirap ini telah dilakukan oleh Kepala Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (Balittri) Ir. Syafaruddin, Ph.D dan Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Tengah, Dr. Harwanto. Pada kesempatan kunjungan kali ini, diperoleh banyak informasi langsung dari ketua kelompok tani "Rahayu 4", Ngadiyanto. Mulai dari sejarah perkopian di wilayah ini, keunggulan dan keunikan kopi Sirap sampai kepada kondisi terkini, yaitu menjadi destinasi wisata lokal yang terus mendapat perhatian para penikmat kopi dengan sentuhan alami. Kedua Kepala Balai bersepakat untuk mengeksplor lebih detail lagi, dan segera menurunkan tim peneliti untuk melakukan evaluasi terhadap keunggulan kopi Sirap. Selanjutnya akan menjadi agenda kegiatan penelitian sampai dilakukan pelepasan varietas unggul kopi robusta Sirap. Semoga upaya ini mendapat dukungan juga dari masyarakat dan pemerintah setempat, sehingga kopi Sirap dapat bertengger pada jajaran kopi-kopi unggul Indonesia.