-->
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Highlights

WBS
Lapor.go.id
SKM
Saber Pungli
perpus_digital
Pakar Kopi
Ejurnal
satu-layanan
Kalender Tanam
TV-TANI
WBK
Sigap UPG
pui-balittri
PPID

Kalender Kegiatan

Video

Social Media

Download

Online

Terdapat 29 Tamu online

Polling

Apakah Situs Web Ini Informatif ?
 

Statistik

Jumlah Kunjungan Konten : 1197068
Pengenalan Budidaya Kopi “Good Agriculture Practices (GAP)” ke Petani Desa Sukanagara Soreang Bandung PDF Cetak E-mail
Artikel
Oleh Bariot Hafif   
Kamis, 18 April 2019 07:30

Satu lagi wilayah sentra produksi kopi, khususnya kopi Arabika di Provinsi Jawa Barat, yang diperkenalkan akan Budidaya Kopi “Good Agriculture Practices (GAP)”, adalah anggota Kelompok Tani “Giri Mukti” di desa Sukanagara, Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung. Pada tanggal 9 April 2019, Peneliti Ahli Utama Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (Balittri) Dr. Bariot Hafif M.Sc, bersama Staf Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat dan Kabupaten Bandung, mengadakan pertemuan dengan anggota Poktan tersebut di desa Sukanagara, dengan acara utama memberi pemahaman petani akan pentingnya budidaya GAP dalam usahatani kopi Arabika. Dalam kesempatan tersebut, selain acara pertemuan di ruangan untuk memberi pemahaman GAP, antara lain bagaimana memelihara kopi agar produktif secara sehat, dan menjaga kelestarian sumberdaya lahan, juga dilakukan kunjungan ke lahan kebun kopi petani untuk memberi masukan ke petani bagaimana cara pemangkasan dalam pemeliharaan kopi. dan menjaga kelestarian sumberdaya lahan dengan praktek konservasi lahan, yang adalah bagian dari cara budidaya GAP.

Dari kunjungan ke kebun kopi petani terindikasi, petani daerah tersebut belum begitu memahami bagaimana pentingnya tindakan pemangkasan dalam hal pemeliharaan kopi. Saat di lapangan kepada petani diminta untuk membandingkan sendiri tampilan buah/dompol antara pohon kopi rimbun yaitu terlalu banyak daun akibat cabang utama tidak dikurangi (4-5 cabang) dan banyak tumbuh tunas-tunas air, dengan buah pada pohon yang kebetulan cabang utama hanya 2 dan tidak terlalu rimbun. Demikian pula pada lahan juga belum ada terlihat tindakan petani yang mengarah ke konservasi lahan. Salah satu tindakan konservasi yang disarankan adalah pembuatan rorak atau sengketan di antara pohon kopi di daerah berlereng tersebut.

 

Artikel terkait