Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Lapor.go.id
Saber Pungli
perpus_digital
Ejurnal
WBK
satu-layanan
LPSE
TV-TANI
SKM
Sigap UPG
pui-balittri
WBS
PPID
Pakar Kopi
Kalender Tanam

Kalender Kegiatan

Video

Social Media

Download

Online

Terdapat 28 Tamu online

Polling

Apakah Situs Web Ini Informatif ?
 

Statistik

Jumlah Kunjungan Konten : 1667884
TEKNOLOGI PENGENDALIAN TERPADU HAMA PENGGEREK BUAH KAKAO (PBK) PDF Cetak E-mail
Info Teknologi
Oleh Dewi Nur Rokhmah   
Rabu, 29 Januari 2020 07:30

Penggerek buah kakao (PBK) Conopomorpha cramerella merupakan hama tanaman kakao yang paling penting saat ini dan memiliki bioekologi yang khas. Hama ini sulit dideteksi keberadaannya dan sulit dikendalikan karena selama stadium larva berada dalam buah kakao. Mengingat semakin luasnya penyebaran hama PBK dan besarnya kerugian yang ditimbulkannya maka perlu segera diupayakan metode penanggulangan yang efektif dan efisien. Pengendalian hama ini tidak mungkin hanya mengandalkan satu teknologi pengendalian, tetapi harus dilaksanakan dalam satu paket teknologi pengendalian hama terpadu (PHT).

Gambar 1. Gejala serangan (A), kerusakan (B), dan larva (C) hama PBK

Gambar 2. Morfologi kulit buah kakao yang tahan terhadap PBK

Gambar 3. Proses pembuatan pupuk organik dari limbah kebun kakao

Gambar 4. Kegiatan pemangkasan pemeliharaan secara rutin

Gambar 5. Penyarungan buah kakao dengan plastik

Paket teknologi PHT PBK sebagai berikut:

  1. Penanaman atau sambung samping dengan klon ICCRI 07 dan Sulawesi 03 yang terbukti tahan PBK untuk kegiatan peremajaan dan rehabilitasi kebun kakao rakyat di wilayah endemik PBK.
  2. Melakukan pemupukan berimbang dengan memadukan pupuk kimia dan pupuk organik yang memanfaatkan serasah daun kakao, buah kakao terinfeksi hama dan penyakit, kulit kakao dan limbah perkebunan kakao lainnya.
  3. Melakukan pemangkasan secara periodik. Hal ini dilakukan mengingat bahwa salah satu kelemahan imago PBK adalah tidak menyukai sinar matahari langsung sehingga bila dilakukan pemangkasan yang teratur akan dapat menekan populasi hama. Disamping itu, pemangkasan bentuk pohon kakao dengan membatasi tinggi tajuk tanaman maksimum 3-4 meter akan memudahkan saat pengendalian hama dan pemanenan.
  4. Melakukan panen sering pada saat buah masak awal dengan rotasi 1 minggu. Kegiatan panen ini harus segera diikuti dengan pemecahan buah pada hari itu juga, kemudian kulit buah dikumpulkan dan dibenamkan ke dalam tanah serta ditimbun tanah setebal 20 cm. Kegiatan ini akan secara signifikan dapat memutus siklus hidup dari PBK.
  5. Melakukan sanitasi kebun dengan cara membersihkan areal kebun dari daun-daun kering, tanaman tidak sehat, ranting kering, kulit buah maupun gulma yang berada di sekitar tanaman. Kondisi lingkungan yang bersih ini tidak sesuai dengan lingkungan untuk berkembangnya hama PBK.
  6. Melakukan penyarungan buah muda berukuran 5–8 cm dengan plastik. Teknik penyarungan buah ini sangat efektif dan efesien apabila dilakukan pada tanaman kakao yang pohonnya masih pendek atau pohon kakao hasil sambung samping. Kantong plastik yang digunakan dapat menggunakan bekas mie instan atau bungkus makanan lainnya. Teknisnya sangat mudah, yaitu dengan cara mengikatkan ujung bagian atas dari kantong plastik pada tangkai buah dan bagian ujung bawah dari buah dibiarkan tetap terbuka. Dengan penyelubungan buah tersebut, imago betina tidak bisa meletakkan telur pada kulit buah sehingga buah akan terhindar dari serangan PBK.
  7. Memelihara predator PBK berupa semut hitam (Dolichoderus thoracicus). Semut ini juga telah terbukti mampu mengendalikan hama Helopeltis spp. Cara yang paling mudah untuk memelihara semut hitam adalah dengan meletakkan sarang semut yang terbuat dari lipatan daun kelapa atau daun kakao, kemudian diberi larutan gula merah.


Pemanfaatan Teknologi Budidaya Kakao oleh Petani di Mamuju, Sulawesi Barat

Bapak Haji Abdul Malik (HAM) merupakan salah satu tokoh tani di Kelurahan Babanga, Kecamatan Kalukku, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. Beliau menyampaikan ucapan terima kasih atas dukungan teknologi pengolahan limbah kebun dan pengendalian hama dan penyakit kakao yang dilakukan oleh team peneliti dari Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (Balittri) Sukabumi. Salah satu ungkapan testimoni Beliau : ”Berkat teknologi pembuatan pupuk organik yang memanfaatkan limbah kebun kakao dan kotoran sapi  dan teknologi pengendalian hama dan penyakit yang diajarkan oleh team Peneliti dari Balittri,  kebun kakao saya sekarang subur, bebas dari serangan hama PBK dan penyakit busuk buah, serta dapat berproduksi sepanjang tahun”.

 

Artikel terkait