Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
TV-TANI
SKM
Sigap UPG
pui-balittri
WBS
PPID
Pakar Kopi
Kalender Tanam
Lapor.go.id
Saber Pungli
perpus_digital
Ejurnal
WBK
satu-layanan
LPSE

Kalender Kegiatan

Video

Social Media

Download

Online

Terdapat 25 Tamu online

Polling

Apakah Situs Web Ini Informatif ?
 

Statistik

Jumlah Kunjungan Konten : 1667511
PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT KOPI DI CIWIDEY PDF Cetak E-mail
Info Teknologi
Oleh Arlia Dwi Hapsari, Gusti Indriati dan Khaerati   
Rabu, 01 April 2020 07:30

Ciwidey merupakan salah satu wilayah di Jawa Barat yang didominasi oleh dataran tinggi. Salah satu tanaman perkebunan yang dibudidayakan di daerah ini adalah kopi Arabika. Beberapa varietas unggul kopi Arabika ditanam di wilayah ini antara lain Sigarar Utang, Ateng Super dan Lini S795. Petani kopi Ciwidey tergabung dalam Kelompok Tani Itikurih yang mengelola berbagai usaha kopi, meliputi perbenihan, budidaya, hingga pengolahan dan pemasaran produk kopi serta hasil sampingannya. Kopi ditanam di lahan-lahan miring/lereng pegunungan pada ketinggian 1200-1300 mdpl. Menurut laporan petani, hama dan penyakit tanaman yang umumnya menyerang antara lain, embun jelaga, kutu putih, penggerek batang, penggerek buah kopi (PBKo), penyakit akar, rinyuh/rayap, dan busuk buah.

Saat musim hujan, serangan jamur dan busuk buah dapat mencapai 20-30%. Dampak dari serangan hama dan penyakit secara keseluruhan terhadap penurunan produksi sekitar 20%. Dalam pengendalian hama dan penyakit tanaman, petani kopi di Ciwidey telah melakukan pengendalian secara mekanik dan ramah lingkungan.

  1. Untuk penggerak batang, batang yang terserang dipotong, dibelah, kemudian dibuang.
  2. Untuk PBKo, dipasang antraktan sebagai perangkap, namun menurut petani hasilnya masih kurang efektif.
  3. Petani juga mengenal beberapa tanaman di sekitar lingkungannya yang berpotensi sebagai pestisida nabati meskipun belum dimanfaatkan secara maksimal, antara lain arkuse/kacang babi/tephrosia, kembang kuning/kipait, suren, dan kilaler. Tephrosia yang juga merupakan salah satu tanaman penaung kopi, diekstrak daunnya, digunakan sebagai pestisida nabati untuk pengendalian hama penggerek. Berdasarkan keterangan petani, beberapa jenis kopi lebih tahan atau lebih rentan terhadap hama dan penyakit tertentu, diantaranya kopi Ateng lebih kuat untuk penggerek, Kartika rentan karat daun, dan Lini S 795 agak rentan jamur. Pemilihan dan penggunaan varietas tanaman yang tahan merupakan langkah pertama dalam teknik pengendalian hama terpadu.

Secara umum, petani masih menggunakan pestisida kimia yang mudah dijumpai di pasaran, diantaranya berbahan aktif klorpirifos. Dosis yang digunakan adalah 1cc/1L air. Pestisida diaplikasikan dengan cara disemprotkan menggunakan hand sprayer untuk mengurangi embun jelaga. Sedangkan untuk pengendalian PBKo, dilakukan penyemprotan pada waktu akan keluar bunga 1 bulan sekali. Untuk penggerek batang, aplikasi pestisida dengan cara disuntikkan ke lubang gerekan di batang, kemudian lubang masuk gerekan ditutup dengan tanah, dan apabila berhasil, hasilnya akan terlihat 3 hari kemudian, yang ditandai dengan kondisi tanaman yang semula layu menjadi segar kembali. Namun demikian, tingkat adopsi teknologi pengendalian hama dan penyakit tanaman secara terpadu perlu ditingkatkan dan didorong penggunaannya, untuk mengurangi pestisida kimia dan dampaknya terhadap lingkungan.

 

Artikel terkait