Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
TV-TANI
SKM
Sigap UPG
pui-balittri
WBS
PPID
Pakar Kopi
Kalender Tanam
Lapor.go.id
Saber Pungli
perpus_digital
Ejurnal
WBK
satu-layanan
LPSE

Kalender Kegiatan

Video

Social Media

Download

Online

Terdapat 22 Tamu online

Polling

Apakah Situs Web Ini Informatif ?
 

Statistik

Jumlah Kunjungan Konten : 1667496
POTENSI TANAMAN KEMIRI SUNAN SEBAGAI TANAMAN REKLAMASI PDF Cetak E-mail
Info Teknologi
Oleh Yulius Ferry   
Rabu, 21 Oktober 2020 09:05

Seringkali upaya reklamasi lahan bekas tambang mengalami kegagalan karena tidak membawa dampak ekonomis bagi masyarakat di lingkungannnya. Reklamasi dengan menggunakan tanaman akasia tidak memberikan apapun bagi masyarakat di sekitarnya, selain kayu bakar. Dan pada akhirnya banyak tanaman yang mati karena dirusak untuk kayu bakar. Begitu pula halnya dengan tanaman karet karena yang ditanam bukan karet penghasil lateks, melainkan untuk kayu bakar.

Tanaman kemiri sunan selain menghasilkan buah yang berpotensi sebagai bahan baku biodiesel yang bernilai ekonomi. Selain itu, guguran daun tanaman kemiri sunan juga dapat meningkatkan kandungan  bahan organik di dalam tanah secara lebih cepat, sehingga tanah menjadi subur dan segera bisa digunakan sebagai lahan pertanian. 

Lahan  bekas tambang luas dan belum termanfaatkan. Tidak jarang lahan bekas tambang tersebut menjadi sumber malapetaka seperti banjir bandang dan sebagainya. Banjir bandang yang terjadi di Kendari pada  bulan Juli tahun 2020  adalah salah satu contoh bencana akibat alih fungsi hutan lindung menjadi lahan tambang. Demikian juga dengan telaga-telaga di lahan bekas tambang, selain airnya yang beracun, banyak korban yang tenggelam di telaga-telaga tersebut. walaupun banyak juga telaga yang dapat digunakan untuk pengembangan ikan.

Tanaman kemiri sunan (Reutalis trisperma L) adalah salah satu tanaman famili karet-karetan (Eoforbia). Mudah beradaptasi di beberapa lingkungan seperti tanah gambut, tanah pasir, tanah liat , dan tanah bekas tambang. Tanaman ini pun tumbuh dengan baik pada tanah dengan pH rendah <5 dan banyak dikembangkan di dataran rendah sampai tinggi seperti daerah Sumedang, Garut dan Tasik Malaya di Jawa Barat. Daerah bekas tambang timah di Bangka, daerah bekas tambang batu bara di Kalimantan Timur, dan daerah Batang Karang di Pulau Buru. Tanaman ini pertumbuhannya sangat cepat, pada umur 5 tahun telah mencapai tinggi batang hingga 3-4 meter, dengan kanopinya yang rimbun.

Mempunyai sifat menggugurkan daun sehingga dapat menambah bahan organik dalam tanah, dan 2-3 bulan kemudian rimbun kembali. Pada umur 5 tahun, tanaman kemiri sunan juga telah mulai berproduksi, sebesar 50 kg/pohon/tahun, dan akan terus meningkat sesuai dengan pertambahan umur. Pada umur 10 tahun produksi tanaman kemiri sunan mencapai 150 kg/pohon/tahun atau  hampir 13 ton/ha/tahun. Pada umur 25 tahun, tanaman akan mencapai puncak produksinya dengan menghasilkan 300 kg/pohon atau 28 ton/ha/tahun. Kernel buah (daging biji) kemiri sunan mengandung 56% minyak atsiri, yang berpotensi digunakan sebagai bahan pembuat biodiesel pengganti solar.

Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (Balittri) telah menguji coba biodiesel dari minyak kemiri sunan dengan kendaraan dari Jakarta-Bali-Jakarta dengan hasil yang sangat memuaskan. Seratus persen minyak biodiesel dari kemiri sunan dapat digunakan sebagai pengganti solar, tidak hanya  untuk mesin statis namun juga mesin bergerak seperti kenderaan roda empat. Tanaman kemiri sunan juga berumur sangat panjang (ratusan tahun). Pada umur 30 tahun, diameter batang kemiri sunan bisa mencapai 2-3 meter, sehingga berpotensi sekali menjadi sumber kayu bangunan yang makin langka.

Tanaman kemiri sunan sangat potensial dijadikan tanaman reklamasi dan bernilai ekonomis. Buah kemiri sunan tidak perlu dipanen, namun akan jatuh dengan sendirinya jika telah matang. Masyarakat dapat mengumpulkannya dan menjual ke pabrik atau pedagang pengumpul. Hal ini tentu saja akan membawa dampak positif bagi perekonomian masyarakat.

Masa berbuah kemiri sunan sekitar 4 bulan dalam satu tahun, dan kemampuan orang mengumpulkan biji kemiri sunan dapat mencapai 60 kg/hari kerja.  Dengan harga biji sebesar Rp. 2.000/kg, maka pendapatan yang diperoleh dapat mencapai Rp. 120.000/hari selama 4 bulan atau sebesar Rp. 14.400.000,- .

 

Artikel terkait