-->
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Highlights

TV-TANI
Kalender Tanam
Saber Pungli
satu-layanan
WBS
Sigap UPG
Lapor.go.id
PPID
SKM
perpus_digital
WBK
Ejurnal

Kalender Kegiatan

Social Media

Video

Download

Online

Terdapat 26 Tamu online

Polling

Apakah Situs Web Ini Informatif ?
 

Statistik

Jumlah Kunjungan Konten : 872693
PERAN STRATEGIS INDUSTRI BENIH DALAM GERAKAN NASIONAL PENINGKATAN PRODUKTIVITAS KARET DI INDONESIA PDF Cetak E-mail
Info Teknologi
Oleh Administrator   
Senin, 04 Maret 2013 00:00

Benih menjadi pintu gerbang (entry point) utama suatu kehidupan, termasuk bagi kehidupan tanaman. Perannya menjadi lebih strategis bagi tanaman perkebunan yang berumur panjang dan sifat usahanya tahunan. Kesalahan penanaman akibat penggunaan benih yang tidak unggul, akibatnya akan dirasakan selama puluhan tahun. Produktivitas tanaman rendah, masa pengembalian investasi sangat lambat, dan tingkat keuntungan usaha menjadi lebih rendah. Padahal tiga kriteria tersebut menjadi pertimbangan utama bagi usaha di bidang perkebunan, selain aspek sosial dan lingkungan.

Rendahnya produktivitas karet Indonesia merupakan akibat langsung dari banyaknya tanaman karet yang berasal dari benih asalan atau benih sapuan. Kebanyakan tanaman karet ditanam tidak menggunakan benih unggul, khususnya tanaman karet rakyat. Rendahnya produktivitas tersebut telah menjadi masalah utama sejak dekade 1980 an hingga saat ini disamping rendahnya mutu karet yang dihasilkan. Sebagai gambaran, produksi karet perkebunan rakyat (PR) saat ini hanya 0,7 ton/Ha/tahun. Produktivitas karet PR ini jauh lebih rendah dibandingkan produktivitas karet Perkebunan Besar yang sudah mencapai 1.1 ton/ha/tahun.

Produktivitas tanaman karet Indonesia ini masih berada di bawah potensi yang mampu dicapai, yaitu 1.6 ton/ha/tahun.  Artinya produktivitas riil yang dicapai saat ini baru sekitar 60% dari potensinya. Secara umum, produktivitas tanaman karet Indonesia ini masih lebih rendah dibanding­kan karet negara-negara pesaing. Produktivitas tanaman karet di Thailand sudah mencapai 2.0 ton/ha/tahun. Karet Malaysia juga mendekati 2 ton/hektar/tahun, sedangkan India yang karetnya juga didominasi oleh perkebunan rakyat seperti Indonesia, sudah mencapai 1,5 ton/hektar/tahun.

Masalah rendahnya produktivitas tanaman ini telah menimbulkan kesulitan dalam meningkatkan peran komoditas karet dalam perekonomian nasional, disamping menjadi faktor pembatas untuk meningkatkan pendapatan petani karet di Indonesia. Salah satu upaya untuk meningkatkan pertumbuhan subsektor perkebunan dapat dilakukan dengan melakukan peremajaan, rehabilitasi, dan perluasan kebun.

Namun demikian, kegiatan peremajaan, rehabilitasi dan perluasan kebun tersebut terkendala oleh keterbatasan dalam penyediaan dana dan benih tanaman. Masalah lain yang sering timbul adalah hilangnya sumber pendapatan petani untuk sementara waktu, langkanya sumber dana serta sulitnya akses untuk mendapatkan dana, tingkat bunga yang tidak kompetitif, dan jumlah dana yang relatif besar untuk ukuran petani. Pengalaman menunjukkan bahwa pada beberapa tahun terakhir ini, akselerasi produktivitas tanaman karet melalui kegiatan rehabilitasi dan peremajaan tanaman berjalan lambat. Perluasan tanaman untuk meningkatkan produksi juga relatif stagnan, kecuali untuk beberapa komoditas unggulan, seperti kelapa sawit.

Benih unggul tanaman karet yang dianjurkan  dewasa ini terdiri atas tiga klasifikasi, yaitu: (1) klon penghasil lateks: BPM 24; BPM 107; BPM 109; IRR 104; PB 217 dan PB 260; (2) klon penghasil lateks dan kayu: AVROS 2037; BPM 1; IRR 5; IRR 32; IRR 39; IRR 112; IRR 118; PB 330; PB 340; RRIC 100; dan (3) klon penghasil kayu: IRR 70; IRR 71; IRR 72; IRR 78.

Pembibitan tersebut mencanagkan peremajaan karet seluas 350.000 ha, melalui program Grakana Nasional (GERNAS). Gernas Karet tersebut dilaksanakan pada tahun 2013-2015. Apabila kegiatan peremajaan ini akan dilakukan dalam dua tahun saja, maka kebutuhan akan benih karet masing-masing menjadi 9.333.500 batang benih karet setiap tahun. Bila kegiatan peremajaan dilakukan selama lima tahap atau lima tahun, maka kebutuhan benih karet unggul setiap tahunnya juga mencapai 56.000.000 batang benih.

Karena perannya yang sangat strategis, maka adopsi benih unggul karet akan menjadi basis penentu tahap kegiatan-kegiatan selanjutnya. Dua aspek penting yang tidak boleh dilupakan dalam penyediaan benih unggul karet tersebut adalah aspek teknis penyediaan benih dan aspek kesiapan kelembagaan petani untuk mengadopsi benih karet ungggul tersebut.   Aspek teknis harus diperhitungkan dengan seksama, sebab industri benih unggul karet ini masih belum berkembang sementara jumlah yang dibutuhkan jumlahnya sangat besar (jutaan benih), pengembangan komoditas sering tidak sinkron dengan potensi penyediaan benih, khususnya penyediaan batang bawah dan entres, serta tidak sesuainya lokasi kebun induk/kebun entres  dengan lokasi penyebaran areal pengembangan.

Karena perannya yang sangat strategis, maka adopsi benih unggul karet akan menjadi basis penentu tahap kegiatan-kegiatan selanjutnya. Dua aspek penting yang tidak boleh dilupakan dalam penyediaan benih unggul karet tersebut adalah aspek teknis penyediaan benih dan aspek kesiapan kelembagaan petani untuk mengadopsi benih karet ungggul tersebut.

Aspek teknis harus diperhitungkan dengan seksama, sebab industri benih unggul karet ini masih belum berkembang sementara jumlah yang dibutuhkan jumlahnya sangat besar (jutaan benih), pengembangan komoditas sering tidak sinkron dengan potensi penyediaan benih, khususnya penyediaan batang bawah dan entres, serta tidak sesuainya lokasi kebun induk/kebun entres  dengan lokasi penyebaran areal pengembangan.

Untuk penyediaan batang atas Pemerintah melaluia Dirjenbun sudah mengembangkan kebun-kebun entres yang tersebar dibeberapa daerah sentra karet. Aspek kesiapan kelembagaan juga perlu diperkuat sebab tingkat adopsi penggunaan teknologi benih unggul di perkebunan rakyat masih rendah, sehingga diperlukan upaya mobilisasi yang bersifat massal dan cepat. Keberhasilan adopsinya tidak sekedar memerlukan penyuluhan, melainkan juga kegiatan advokasi atau pendampingan. (Bedy Sudjarmoko/bedy_sm@yahoo.com/).