-->
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Highlights

TV-TANI
Kalender Tanam
Saber Pungli
satu-layanan
WBS
Sigap UPG
Lapor.go.id
PPID
SKM
perpus_digital
WBK
Ejurnal

Kalender Kegiatan

Social Media

Video

Download

Online

Terdapat 29 Tamu online

Polling

Apakah Situs Web Ini Informatif ?
 

Statistik

Jumlah Kunjungan Konten : 876447
SERBA SERBI PEMANGKASAN KAKAO DI LAPANGAN PDF Cetak E-mail
Info Teknologi
Oleh Administrator   
Selasa, 09 Juli 2013 00:00

Produktivitas tanaman kakao petani masih sangat rendah, hanya mencapai 600 kg/ha/tahun, padahal produktivitas di perkebunan swasta dan negara mencapai 800-900 kg/ha/tahun. Rendahnya produktivitas kakao masyarakat disebabkan oleh beberapa hal antara lain, tidak menggunakan klon unggul, serangan hama dan penyakit serta penerapan teknik budidaya yang belum sesuai. Salah satu teknik budidaya yang belum diterapkan hampir disemua tempat di Kabupaten Aceh Timur adalah pemangkasan tanaman kakao dengan baik, karena dianggap pemangkasan tanaman akan merusak tanaman dan menurunkan hasil.


Kabupaten Aceh Timur merupakan daerah sentra produksi kakao di Aceh, dengan luas pertanaman 11.940 ha dan produksi 7.222 ton (Dirjenbun, 2009). Produktivitas kakao di daerah ini sebesar 852 kg/ha/tahun, lebih tinggi dibandingkan dengan produktivitas rata-rata nasional (811 kg/ha/tahun), lebih rendah dibandingkan dengan produktivitas di Kabupaten Aceh Tenggara yang mencapai 1.199 kg/ha/tahun, perkebunan negara ( 941 kg/ha/tahun) dan perkebunan swasta (979 kg/ha/tahun).

Jumlah petani kakao di Kabupaten Aceh Timur sebanyak 10.824 KK dengan kepemilikan lahan rata-rata 1,10 ha/kk dan jumlah tegakan tanaman kakao hanya 400 pohon/ha. Rendahnya produktivitas tanaman kakao di Kabupaten Aceh Timur tidak hanya disebabkan oleh jumlah tegakan yang rendah, juga disebabkan oleh penerapan teknik budidaya yang belum sesuai seperti tidak melakukan pemangkasan secara teratur, sanitasi kebun dan serangan hama dan penyakit.


Pembinaan petani kakao di Kabupaten Aceh Timur selain dilakukan oleh pemerintah daerah melalui Dinas Perkebunan dan Balai penyuluhan juga pernah dibina oleh LSM Kemang. Pembinaan dari LSM Kemang meliputi cara penyiapkan benih yang baik, pemangkasan, pengolahan hasil (fermentasi), dan pembentukan koperasi petani kakao. Namun setelah pembinaan berakhir teknologi tersebut kembali tidak dilaksanakan, bahkan koperasinyapun mengalami stagnasi.


Badan Litbang Pertanian melengkapi pembinaan yang telah dilakukan oleh Dinas Perkebunan, Penyuluhan dan LSM dengan melakukan kegiatan-kegiatan antara lain: (1) Bimbingan teknis budidaya kakao terpadu yang dipusatkan di Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Peunaron (2) Denfarm gelar teknologi budidaya kakao secara terpadu di Desa Pante Rambong Kecamatan Pante Bidari dan Desa Arul Pinang Kecamatan Peunaron Kabupaten Aceh Timur, masing-masing seluas 2 hektar.

Denfarm ditujukan agar adopsi teknologi budidaya kakao dapat berlangsung secara alami, petani perserta secara aktif menerapkan semua teknologi budidaya yang telah mereka terima. Tanaman kakao yang digunakan sudah berumur 16 tahun, dengan kondisi percabangan tanaman yang tidak teratur, sanitasi yang sangat minim, tanpa naungan dan drainase yang belum sesuai.


Pelaksanaan Denfarm meliputi memperbaiki bentuk kanopi tanaman kakao agar percabangannya lebih teratur melalui pemagkasan, sanitasi kebun, pembuatan rorak, pemupukan, pengendalian hama peggerek buah, pangaturan tanaman pelindung dan sambung samping untuk memperbaiki tanaman yang rusak dan berasal dari benih asalan. Kegiatan denfarm ini diharapkan dapat mengurangi serangan hama penggerek buah kakao (PBK), Vascular Steak Dieback (VSD), dan meningkatkan mutu tanaman sehingga produktivitas meningkat.


Terdapat perbedaan pengalaman antara petani dengan pelaksana dalam melakukan pemangkasan. Menurut petani pemangkasan menyebabkan tanaman kakao menjadi rusak, cabang dan ranting menjadi kering dan akhirnya mati. Membiarkan tanaman rimbun dengan cabang dan ranting yang tumbuh dimana-mana pada batang utama malah lebih memperlihatkan pertumbuhan tanaman yang subur, dengan buah yang juga tumbuh diranting tanaman walapun ukuran buah menjadi kecil.

Pengalaman petani tersebut tidak salah, karena pada kondisi tanaman tidak mempunyai tanaman pelindung, pemangkasan dapat menyebabkan kekeringan. Hal ini terjadi disebabkan oleh tingginya intersepsi cahaya yang jatuh ke permukaan tanah sehingga penguapan meningkat.


Pada kondisi tersebut pemangkasan tetap dapat dilakukan terutama pemangkasan untuk membuang tunas air, cabang dan ranting yang mati dan tidak produktif. Contoh pemangkasan yang membentuk kanopi tanaman kakao yang baik akhirnya dapat mereka terima.  Pemangkasan selanjutnya dilakukan oleh petani, sehingga semua kanopi tanaman kakaonya menjadi baik dengan percabangan yang seimbang, bentuk kanopi yang proposional, tidak tinggi dengan  bunga yang mulai tumbuh pada batang dan cabang. (yulius Ferry dan Maman Herman)