-->
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Highlights

SKM
Kalender Tanam
perpus_digital
Pakar Kopi
pui-balittri
Ejurnal
satu-layanan
Lapor.go.id
Sigap UPG
WBK
PPID
Saber Pungli
WBS
TV-TANI

Kalender Kegiatan

Video

Social Media

Download

Online

Terdapat 13 Tamu online

Polling

Apakah Situs Web Ini Informatif ?
 

Statistik

Jumlah Kunjungan Konten : 1152747
CARA PERBANYAKAN KAKAO DI GUNUNG KIDUL PDF Cetak E-mail
Info Teknologi
Oleh Administrator   
Kamis, 21 November 2013 09:50

Kakao merupakan salah satu komoditas perkebunan yang mempunyai peranan cukup penting dalam perekonomian nasional, khususnya sebagai penyedia lapangan kerja, sumber pendapatan dan devisa negara. Salah satu daerah yang sedang mengembangkan kakao adalah Kabupaten Gunung Kidul. Luas areal tanaman kakao di Gunung Kidul mencapai 1.116,7 ha dengan produksi rata-rata 0,75 ton/ha dengan melibatkan 8.752 kepala keluarga (KK) tani.


Benih kakao di Gunung Kidul berasal dari Medan, Sumatera Utara dan Jember, Jawa Timur yang ditanam pertama kali pada tahun 1988. Benih tersebut adalah hibrida hasil persilangan antara Forastero (bulk cocoa atau kakao lindak) dengan Criolo (fine cocoa atau kakao mulia). Dari berbagai jenis yang ditanam terdapat dua jenis yang tergolong unggul karena tahan Helopeltis dan busuk buah. Selain itu mutu kakaonya tergolong baik, hal ini diperkirakan karena adanya pengaruh faktor lingkungan tumbuh, yaitu kadar kapur tinggi.

Sumber benih kakao  di Kabupaten Gunung Kidul salah satunya terdapat di Dusun Plumbungan, Desa Putat Kecamatan Patuk. Lokasinya mudah dicari karena di desa itu juga terdapat pembuatan kerajinan topeng yang terkenal. Pembibitan kakao dikoordinir oleh Kelompok Tani Ngudi Subur yang diketuai Slamet Raharjo. Selain pembibitan kakao di lokasi tersebut juga  terdapat sarana untuk pelatihan  perbanyakan bahan tanam sampai ke pengolahan hasilnya. Daerah yang sedang mengembangkan kakao dalam skala besar seperti Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara pernah mengirim petaninya untuk belajar tentang perbanyakan dan pengolahan kakao.

Perbanyakan Bahan Tanam
Salah satu usaha untuk memperoleh keseragaman produktivitas dan mutu biji kakao, adalah dengan menggunakan perbanyakan secara klonal. Ada beberapa cara dalam perbanyakan klonal  namun yang tingkat keberhasilannya tinggi dan mudah dilaksanakan adalah dengan menggunakan metode sambung samping, seperti yang dilakukan oleh Kelompok Tani Ngudi Subur. Tanaman kakao yang berproduksi rendah dapat ditingkatkan produktivitasnya dengan disambung samping menggunakan klon unggul sebagai batang atasnya. Selain itu sambung samping juga dapat digunakan untuk mengganti pertanaman yang rentan terhadap hama atau penyakit dengan klon yang tahan.

Keberhasil sambung sambung dipengaruhi oleh beberapa faktor sebagai berikut: (1) batang bawah dan atas (entres) harus sehat, (2) entres sedapat mungkin terhindar dari dehidrasi dan (3) tenaga sambung yang terampil. Batang bawah yang sehat ditandai dengan mudahnya kulit batang dikelupas dan warna kambiumnya putih bersih. Entres berasal dari klon yang produksinya tinggi dan stabil serta tahan terhadap hama dan penyakit utama kakao. Entres diambil dari ujung cabang plagiotrop yang sedang dorman dengan warna hijau kecoklatan dan sudah berkayu.

Entres yang sudah dipotong idealnya harus segera disambung pada hari yang sama, namun apabila lokasinya jauh maka harus dikemas terlebih dahulu agar tetap segar saat disambung. Pengemasan dapat dilakukan secara sederhana menggunakan kulit batang pisang namun ada juga yang dibalut dengan serbuk gergaji, dilapis kertas Koran dan plastic lalu digulung dan dimasukkan ke dalam dos.

Pada perlakuan yang kedua tingkat ketahanannya akan lebih lama. Tenaga penyambung harus sudah terampil sehingga tingkat keberhasilannya bias tinggi. Pelaksanaan sambung samping agak rumit dan membutuhkan ketelitian tinggi. Awalnya pada batang bawah dengan ketinggian kurang lebih 50-70 cm dari permukaan tanah ditoreh menggunakan pisau okulasi secara vertikal sejajar kulit batang kakao.

Berdasarkan pengalaman di lapang apabila agak tinggi maka entres cepat berkembang dengan baik namun untuk menjadi buah lama, sebaliknya kalau terlalu rendah,  entres lama pertumbuhannya tetapi  cepat berbuah. Dengan fenomena tersebut maka petani cenderung memilih di bagian tengah. Panjang torehan sekitar 5 cm dengan jarak antar torehan 1-2 cm atau seukuran dengan garis tengah entres yang akan disisipkan.

Penorehan dilakukan sampai menyentuh kambium. Lalu ujung atas torehan dipotong miring ke bawah sampai menyentuh kambium. Entres yang telah disiapkan dengan panjang sekitar 12 cm pangkalnya disayat miring sehingga berbentuk seperti baji. Kulit batang ditarik ke bawah sekitar 3 cm dan entres disisipkan secara perlahan lalu kulit batang ditutup kembali.


Entres dikerodong dengan plastik kemudian diikat erat dengan tali rafia sehingga air hujan tidak masuk ke dalam sayatan dan sayatan dapat menempel dengan baik. Penutupan dapat juga dilakukan dengan plastik lembaran yang diikat pada masing-masing ujungnya dengan tali rafia, cara yang kedua ini banyak dilakukan di daerah Gunung Kidul.




Dua sampai tiga minggu setelah penyambungan, hasil sambungan diperiksa keberhasilannya. Apabila entres masih segar maka penyambungan berhasil namun jika kering atau busuk maka gagal (mati). Pengecekan ini dilakukan tanpa membuka kerodong entres. Penyambungan yang gagal dapat diulang pada sisi berlawanan dengan letak penyambungan awal.

Plastik kerodong entres dibuka setelah tunas pada entres sudah mencapai 2 cm. cara pembukaan plastik kerodong dengan disobek dari ujung tanpa melepas tali ikatannya sehingga plastik akan menggantung di tali hal ini untuk mengantisipasi belum menyatunya entres dengan batang.  Pelaksanaan sambung samping yang dilakukan Kelompok Tani Ngudi Subur, Gunung Kidul dapat dilihat pada Gambar 1.


Produksi rata-rata biji kering kakao di Desa Putat pada tingkat petani hanya 0,8 kg/pohon/tahun  dengan rendemen 31% dan kadar air 10%. Apabila perawatannya dilakukan secara intensif dapat menghasilkan 1,5 - 2 kg/pohon/tahun biji kering.   Karena bermutu tinggi, kakao asal Putat banyak diminati oleh konsumen, salah satunya adalah PT. Pagilaran  Yogyakarta  yang menjalin kerjasama dengan Kelompok Tani Ngudi Subur. Semua kakao asal Patuk baik yang sudah difermentasi maupun yang belum dibeli oleh perusahaan tersebut dengan harga  Rp.20.000/kg.        (Ilham N.A. Wicaksono dan Handi Supriadi )