-->
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Highlights

WBK
satu-layanan
Sigap UPG
Saber Pungli
SKM
TV-TANI
Kalender Tanam
Lapor.go.id
Pakar Kopi
pui-balittri
PPID
WBS
Ejurnal
perpus_digital

Kalender Kegiatan

Video

Social Media

Download

Online

Terdapat 17 Tamu online

Polling

Apakah Situs Web Ini Informatif ?
 

Statistik

Jumlah Kunjungan Konten : 1152711
USAHATANI KOPI TERPADU MODEL BALITTRI PDF Cetak E-mail
Info Teknologi
Oleh Administrator   
Senin, 20 Januari 2014 09:54

Tanaman kopi (Coffea sp) merupakan tanaman tahunan yang tidak menggunakan lahan secara maksimum seperti pada tanaman semusim (jagung, kacang tanah, padi, kedelai, dll), sehingga sangat memungkinkan untuk diusahakan secara bersamaan dengan komoditas lainnya dalam bentuk polatanam campuran. Pengembangan usahatani kopi secara monokultur, di awal pengusahaannya tidak akan memberikan pendapatan sampai tanaman berbuah pada umur 2 sampai 3 tahun setelah tanam. Kondisi ini tentunya mengakibatkan tataguna lahan tidak efisien dan memberikan dampak menurunnya gairah usahatani yang dilakukan.

Model usahatani kopi terpadu merupakan salah satu alternatif yang dapat digunakan, tidak hanya untuk meningkatkan tataguna lahan tetapi juga meningkatkan pendapatan petani secara berkelanjutan. Hal ini disebabkan karena produksi dan ragam produksi sudah diperoleh sebelum tanaman kopi menghasilkan. Model usahatani kopi dengan tanaman semusim, hortikultura, pakan ternak dan jenis tanaman lainnya yang sinergis akan dapat meningkatkan ketahanan usahatani yang dilakukan.

Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (BALITTRI) telah membangun model usahatani kopi secara terpadu dengan mengintegrasikan antara berbagai model polatanam kopi dengan ternak domba, produksi minyak atsiri, bahan bakar nabati dan produksi pupuk organik. Model usahatani kopi yang dikembangkan antara lain :  (1) Kopi + serai wangi + lamtoro + gamal. Serai wangi ditanam diantara dua barisan tanaman kopi sekaligus berfungsi sebagai penahan erosi.

Hasil hijauan dari serai wangi disuling untuk diambil minyak atsirinya, sedang limbah penyulingan difermentasi untuk tambahan pakan ternak. Tanaman lamtoro dan gamal digunakan sebagai penaung tanaman kopi, sedangkan hasil pangkasannya digunakan sebagai hijauan pakan ternak. (2) Kopi + serai wangi + kemiri sunan + gamal.

Tanaman kemiri sunan ditanam dengan jarak tanam (9,0 x 9,0)m sebagai tanaman penaung kopi, sedang tanaman gamal ditanam diantara tanaman kemiri sunan untuk menambah naungan tanaman kopi. Hasil biji dari tanaman kemiri sunan akan digunakan sebagai bahan bakar nabati baik berupa minyak kasar, biodisel, briket maupun sebagai bahan pupuk organik.

Minyak serai wangi juga dapat digunakan sebagai bahan bio-aditif untuk meningkatkan oktan number pada premium maupun menaikkan cetana number pada minyak diesel, sehingga kegiatan ini juga berperan serta sebagai sarana deseminasi dalam penyediaan bahan baku untuk bahan bakar nabati.



Ketahanan pangan dan ketahanan energi merupakan program pemerintah yang wajib didukung oleh Kementerian Pertanian. Oleh karena itu dua model polatanam kopi tersebut merupakan model yang mungkin dapat dikembangkan secara luas di sentra-sentra pengembangan, tentunya jenis komoditi tanaman sela yang akan dikembangkan disesuaikan dengan budaya dan agroekosistem setempat.


Untuk meningkatkan nilai tambah hasil tanaman kopi, perlakuan panen dan pasca panen perlu dilakukan secara cermat agar hasil kopi yang di peroleh memiliki aroma dan citarasa yang baik. Oleh karena itu dalam kegiatan ini Balittri telah melengkapi alat mesin pengolahan kopi yang standart dan juga merencanakan untuk memproduksi kopi luwak.

Disamping dua model polatanam kopi tersebut, Balittri juga mengembangkan model pola tanam dengan berbagai jenis tanaman penaung produktif, antara lain : (1) Kayu manis + kopi, (2). Belimbing wuluh + kopi, (3). Keluwak + kopi, (4). Salam + kopi, (5). Cermai + kopi, (6). Kelapa Salak + Kopi, (7). Kenari + kopi, (8). Asam kandis + Kopi, Panili + kopi dan (10). Pongamia + kopi. Berikut keragaan tanaman kopi arabika kartika-1 dengan beberapa jenis tanaman penaung


Keragaan tanaman kopi kartika-1 pada berbagai jenis penaung menunjukkan pertumbuhan yang baik, kondisi ini memberikan peluang untuk mengembangkan model usahatani secara terintegrasi dengan menanam tanaman yang lebih bermanfaat dalam usahataninya. Keterintegrasian dari model ini adalah dengan menghadirkan tanaman penaung produktif yang sinergi, pemanfaatan lahan diantara kopi muda dengan tanaman semusim, maupun dengan tanaman lainnya yang dapat berfungsi ganda seperti serai wangi dan didukung dengan ternak domba/sapi serta bak fermentasi untuk produksi pupuk organik. Dengan menerapkan model ini usahatani kopi yang dilakukan akan lebih stabil, ragam produksi lebih banyak sehingga pendapatan lebih terjamin dan berkelanjutan (Dewi Lityati/dewi_listyati@yahoo.com).