-->
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Highlights

PPID
TV-TANI
satu-layanan
pui-balittri
Pakar Kopi
WBS
Sigap UPG
SKM
Ejurnal
Lapor.go.id
perpus_digital
Saber Pungli
Kalender Tanam
WBK

Kalender Kegiatan

Video

Social Media

Download

Online

Terdapat 23 Tamu online

Polling

Apakah Situs Web Ini Informatif ?
 

Statistik

Jumlah Kunjungan Konten : 1145581
PETANI DI BABEL MASIH MENGGUNAKAN TAWAS SEBAGAI KOAGULAN LATEKS PDF Cetak E-mail
Info Teknologi
Oleh Administrator   
Jumat, 14 Maret 2014 14:16

Anjloknya harga karet  Indonesia akhir-akhir ini berkaitan erat dengan   kualitas bokar  (bahan olah  karet)  yang  diproduksi  oleh  petani,  dimana dalam  pengolahan  bokar-nya  masih  banyak petani  karet  yang  mempergunakan  bahan koagulan lateks yang tidak dianjurkan pemerintah sepert i   tawas,   pupuk  TSP,   air  perasan gadung/nenas  dan  sejenisnya  yang  dapat merusak kualitas karet.

Seperti halnya pada bokar asal Provinsi Babel yang disebut-sebut berkualitas jelek   lantaran  dalam  pengolahannya menggunakan  tawas  sebagai  koagulan  untuk menggumpalkan  lateksnya. Pada  prinsipnya  proses  penggumpalan lateks terjadi karena rusaknya kemantapan sistim koloid  lateks,  dimana  kerusakan  dapat  terjadi dengan  jalan penetralan muatan protein dengan penambahan asam, sehingga muatan negatif dan muatan  positif  seimbang  pada  titik  isoelektris.

Lateks  segar  yang mempunyai  pH  6,4-6,9  yang bermuatan  negatif,  dengan  penambahan  asam hingga titik isoelektrisnya pada pH sekitar 4,7-5,1 menjadi bermuatan netral, sehingga daya  interaksi karet  dengan  pelindungnya  menjadi  hilang, selanjutnya  partikel-partikel  karet  yang  sudah bebas  tersebut  akan  bergabung  menyatu membentuk  gumpalan.  Oleh  karena  itu,  bahan koagulan  haruslah  merupakan  senyawa  asam ataupun  senyawa  yang  bersifat  asam  yang berkemampuan menurunkan nilai pH  lateks.

Pemerintah melalui Menteri  Pertanian  pada tahun  2008  menerbitkan  Peraturan  Menteri Pertanian  No:  38/Permentan/OT.140/8/2008 tentang  Pedoman  Pengolahan  dan  Pemasaran. Bahan  Olah  Karet ,   yang  diantaranya mengharuskan  pemakaian  asam  semut/asam formiat  (CHOOH)  atau  bahan  lain  yang direkomendasikan  seperti  asap  cair  sebagai koagulan  untuk  penggumpal  lateks.  Sehingga dengan  pemakaian  koagulan  anjuran  tersebut, akan didapatkan kualitas bokar yang baik sesuai SNI 06-2047-2002  yaitu dicerminkan oleh Kadar Kering  Karet  (K3)  dan  tingkat  kebersihan  yang tinggi.

Senyawa  tawas yang banyak dipergunakan petani karet di Provinsi Babel merupakan senyawa aluminium  sulfat  [Al2(SO4)3.18H2O]  yang mempunyai  sifat  asam,  dimana  senyawa  ini biasanya  dipergunakan  sebagai  penjernih  air.   Senyawa  tawas  mudah ditemukan pada  toko-toko bahan bangunan di Provinsi Babel dengan harga berkisar  Rp.  6.000,-  sampai  Rp.7.500,-/kg, bandingkan dengan harga asam semut atau asap cair yang dijual dengan harga Rp. 12.500,- hingga Rp.15.000,-/liter.

Dengan  harga  yang  lebih murah  dan  mudah  didapat,  maka  hal  ini merupakan salah satu alasan mengapa banyak petani  karet  di  Babel  mempergunakan  tawas ketimbang asam semut.   Adapun alasan lainnya pemilihan  tawas  adalah  (1)  dikarenakan  asam semut  sulit  didapatkan  apalagi  asap  cair  yang belum akrab ditelinga petani, beda dengan tawas yang mudah didapat sampai di pelosok-pelosok desa; dan  (2)   harga bokar yang menggunakan bahan penggumpal  tawas maupun asam semut dibeli dengan harga yang sama. Oleh karena itu, tak heran bila harian Bangka Pos yang terbit di kota Bangka melaporkan bahwa baru sekitar 5% saja petani karet di Babel yang mempergunakan asam  semut  dalam  pengolahan  bokar,  adapun sisanya  sebanyak  95%  petani  karet  masih mempergunakan  tawas.

Petani  karet  tidak menyadari  atau  bahkan tidak  peduli  (mengingat  bahwa  kualitas  bokar bagaimanapun pada  tingkat pengepul/tengkulak tetap  dibeli  dengan  harga  yang  sama)  bahwa  sifat  karet  yang  digumpalkan  dengan  tawas kurang  baik,  karena  dapat mempertinggi  kadar abu  dan  kotoran  karet,  begitupun  kondisi gumpalan  tidak  sempurna  dan  akan  berbau busuk selama penyimpanan (Tabel 1).

Bau busuk terjadi  akibat  pertumbuhan  bakteri  pembusuk yang melakukan  biodegradasi  protein  di  dalam bokar menjadi amonia dan sulfida  yang berbau busuk, hal tersebut terjadi dikarenakan senyawa tawas  tidak  mempunyai  sifat  antibakteri. Bandingkan  dengan  penggunaan  asam  semut dan  asap  cair  yang  membentuk  gumpalan sempurna  yang  akan  mempertinggi  nilai elastisitas maupun nilai  kadar  karet  kering  (K3) (Tabel 2).

Begitupun  tidak  terjadinya bau busuk selama  penyimpanan  pada  penggunaan koagulan  asap  cair,  mengingat  asap  cair mempunyai   si fat   ant ibakteri   kuat   yang menghambat    pertumbuhan  bakteri  pembusuk.   Walaupun  asam  formiat  juga  mempunyai  sifat antibakteri,  tetapi  tidak  sekuat  sifat  antibakteri pada asap cair sehingga bokar yang dihasilkan dengan  koagulan  asam  formiat   masih mengeluarkan  bau  busuk  yang  lemah  selama penyimpanan.

Selain  itu  penggunaan  tawas  akan   meningkatkan konsentrasi logam (Aluminium/Al) pada  bokar  yang  akan  mempercepat  oksidasi karet oleh udara yang dapat menyebabkan  terjadi pengusangan  karet  dan  menurunkan  nilai  Po (Plastisitas  awal)  maupun  PRI  (Plastisity Retention  Index)  (Tabel  2).

Disamping  itu, senyawa  tawas  di  dalam  larutan  lateks  akan terhidrolisa  oleh  air  membentuk  asam  sulfat (H2SO4) yang berperan sebagai oksidator yang dapat merusak lapisan protein (selubung partikel karet)  yang  berfungsi  sebagai  antioksidan, sebagai  akibatnya  molekul  karet  mudah teroksidasi  sehingga  semakin  menurunkan  nilai Po dan PRI ke nilai dibawah standar SIR  (Standard Indonesia Rubber).

Dari Tabel 1 dan 2  terlihat bahwa koagulan asam formiat dan asap cair menghasilkan kualitas bokar  yang  tinggi,  terutama  koagulan  asap  cair yang menghasilkan kualitas bokar paling baik dan tidak  menimbulkan  bau  busuk  (hanya  berbau asap),  sehingga  asap  cair merupakan  koagulan yang  ramah  lingkungan.

Pemanfaatan  asam formiat  maupun  asap  cair  sebagai  koagulan lateks,  disamping  mempunyai  tingkat  koagulasi yang sempurna, juga hasil dari penggumpalannya memiliki  tingkat  kekenyalan  yang  baik  sekali, sehingga  bokar  yang  dihasilkan  akan  dapat diaplikasikan ke berbagai macam  olahan industri berbahan  baku  karet.  Disamping  itu  beberapa penelitian  mendapatkan  bahwa  bokar  yang dihasilkan oleh koagulan asam  formiat dan asap cair semakin  lama disimpan mempunyai nilai K3 yang semakin meningkat hingga ± 85%.

Perkembangan  konsumsi  karet  alam  dunia cenderung mengalami peningkatan  rata-rata 9% pertahun, adapun sekitar 70% produksi karet alam dunia diserap oleh  industri ban, dimana  saat  ini semua  pabrik  ban  terkenal  seperti  Bridgestone, Goodyear,  Michellin,  Dunlop,  Pirelli,  Toyo, Yokohama  dan  lainnya  mempergunakan  bahan baku karet alam, apalagi setelah  FAA (Federation Aviation  Administration/federasi  keamanan penerbangan  internasional)  mensyaratkan penggunaan ban yang berbahan baku karet alam pada  semua  pesawat  terbang,  bahkan  FIA (Federation  International  Automobile/federasi otomotif  internasional) mewajibkan  penggunaan ban dari karet alam sebagai standar dalam balap mobil  Formula  1.

Oleh  karena  itu,  Indonesia sebagai  penghasil  karet  alam  kedua  terbesar  di dunia harus menangkap peluang pasar tersebut, dan  harus  semakin  meningkatkan  kuantitas maupun  kualitas  produk  karetnya,  terutama kualitas  bokar  dengan  terus  mendorong penerapan  penggunaan  asam  semut  maupun asap  cair  sebagai  koagulan  lateks,  disamping menjamin  kemudahan  perolehannya,  berikut memberikan  harga  yang  pantas  bagi  kualitas bokar  yang  baik.  Dengan  demikian,  diharapkan kedepan akan semakin meningkatkan daya saing karet  alam  Indonesia  di  pasar  internasional (Juniaty  Towaha  dan  Iing  Sobari/email  : juniaty_tmunir@yahoo.com)