-->
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Highlights

Kalender Tanam
SKM
TV-TANI
Saber Pungli
WBS
WBK
Lapor.go.id
perpus_digital
PPID
Sigap UPG
satu-layanan
Ejurnal

Kalender Kegiatan

Social Media

Video

Download

Online

Terdapat 37 Tamu online

Polling

Apakah Situs Web Ini Informatif ?
 

Statistik

Jumlah Kunjungan Konten : 897460
SISTEM PEREMAJAAN TEBANG BERTAHAP, TINGKATKAN PENDAPATAN PETANI KARET PDF Cetak E-mail
Info Teknologi
Oleh Arifa Chan   
Sabtu, 18 Juni 2016 01:49

Perkebunan karet di Indonesia pada tahun 2012 telah mencapai 3.506.201 ha dengan produksi 3.012.254 kg sehingga dengan volume tersebut, Indonesia menjadi negara penghasil karet terbesar kedua di dunia setelah Thailand. Permasalahan utama yang dihadapi hingga saat ini adalah produktivitas yang masih rendah, yaitu 1 ton/ha/tahun dibandingkan negara produsen karet lainnya. Secara nasional rata-rata produktivitas karet Indonesia pada tahun 2012 sudah mencapai 1.073 kg/ha/tahun, tetapi pada perkebunan rakyat baru mencapai 991 kg/ha/tahun. Penyebab rendahnya produktivitas tanaman karet rakyat antara lain karena tingginya jumlah tanaman yang sudah tua/rusak dan sebagian besar (60%) masih menggunakan klon asalan. Rendahnya tingkat produktivitas yang dicapai perkebunan karet rakyat tersebut berdampak pada rendahnya pendapatan petani.

Salah satu upaya untuk meningkatkan produktivitas karet adalah melakukan peremajaan pada perkebunan karet rakyat yang sudah tua dan rusak dengan klon-klon unggul. Upaya tersebut mengalami kendala karena sebagian petani karet tidak bersedia melakukan peremajaan dengan alasan modal dan khawatir adanya kekosongan pendapatan selama tanaman karet masih muda atau belum menghasilkan (TBM). Untuk mengatasi masalah ini secara cepat diperlukan bantuan dari pemerintah serta dukungan pihak lainnya. Namun demikian, bantuan dari pemerintah terbatas anggarannya, sedangkan percepatan peremajaan dengan klon unggul pada perkebunan karet rakyat perlu segera dilakukan. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu teknologi peremajaan yang dapat dilakukan petani secara mandiri sesuai kemampuan dan tidak menghilangkan pendapatan serta tidak mengandalkan bantuan pemerintah.

Teknologi peremajaan tersebut adalah sistem peremajaan tebang bertahap, yaitu sistem peremajaan yang dilakukan secara terstruktur dengan tahap-tahap penebangan dan membiarkan sebagian tanaman tua untuk sementara tetap tumbuh. Pada sistem peremajaan tebang bertahap, petani masih memperoleh pendapatan dari penyadapan karet yang masih tegak, penjualan kayu dari sebagian tanaman yang ditebang, dan panen tanaman sela yang ditanam di antara tanaman karet muda. Penyadapan karet tua yang dilakukan pada cabang primer setinggi 2,75 m dengan menggunakan tangga/para-para bambu masih memberikan pendapatan Rp.125.000,00 per minggu/ha.

Sumber pendapatan petani lainnya adalah dari penjualan kayu karet. Permintaan kayu karet di pasar Internasional diperkirakan akan terus meningkat dengan semakin berkurangnya ketersediaan kayu hutan alam. Sumber pendapatan petani yang potensial pada masa peremajaan, yaitu dari penanaman tanaman sela di antara karet TBM yang  memberikan pengaruh positif terhadap pertumbuhan karet. Pola tanam karet + jagung - kedelai - kacang hijau dapat memberikan nilai pendapatan Rp.2.136.250,00/ha/tahun. Tanaman sela tidak saja memberikan pendapatan bagi petani pada awal peremajaan, tetapi sampai tanaman karet mulai menghasilkan. Pada peremajaan karet rakyat peran tenaga kerja dalam keluarga sangat penting karena dapat menghemat biaya. Melalui sistem peremajaan tebang bertahap petani tetap memperoleh pendapatan selama tanaman karet belum menghasilkan dan biaya dapat disesuaikan dengan kemampuan petani. (Arifa Chan)

Sumber:
Analisis Pendapatan Petani Karet pada Sistem Peremajaan Bertahap (Dewi Listyati, Yulius Ferry)
Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 1, No 3 (2014): 157-166

 

Artikel terkait