Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Ejurnal
Kalender Tanam
TV-TANI
WBS
pui-balittri
satu-layanan
PPID
Saber Pungli
WBK
Sigap UPG
Lapor.go.id
Pakar Kopi
perpus_digital
SKM
LPSE

Kalender Kegiatan

Video

Social Media

Download

Online

Terdapat 15 Tamu online

Polling

Apakah Situs Web Ini Informatif ?
 

Statistik

Jumlah Kunjungan Konten : 1590515
PELUANG EKONOMI KULIT KAKAO MENJADI PEKTIN PDF Cetak E-mail
Info Teknologi
Oleh Elsera BR Tarigan   
Senin, 26 Desember 2016 13:24

Potensi ekonomi buah kakao cukup banyak tetapi yang menjadi pendapatan utama petani baru bagian bijinya, kulit buahnya belum dimanfaatkan secara optimal. Kulit buah kakao mengandung protein 9,69%, glukosa 1,16%, sukrosa 0,18%, pektin 5,30%, dan theobromin 0,20%. Sedangkan kompos dari kulit buah kakao memiliki kandungan hara 1,81% N, 26,61% C-organik, 0,31% P O , 6,08% K O, 1,22%, CaO, 1,37% MgO, dan 44,85% cmol/kg KTK. Adanya kandungan tersebut maka kulit kakao berpeluang untuk menghasilkan pektin yang bernilai ekonomi tinggi. Pektin merupakan senyawa alami yang dapat ditemukan di dinding sel primer tanaman. Pektin bermanfaat dalam mengubah sifat fungsional produk seperti kekentalan, emulsi dan gel oleh karena itu pektin menjadi komponen tambahan penting yang digunakan pada industri farmasi, kosmetik dan tata boga (makanan).

Kandungan pektin dari berbagai jenis tanaman
Kandungan pektin dari berbagai jenis tanaman

Hasil penelitian limbah berupa kulit kakao segar sebanyak 20 kg dapat menghasilkan tepung pektin 2,68 kg. Apabila harga eceran tepung pektin sekitar Rp 500.000/kg, maka pemanfaatan kulit kakao menjadi pektin dapat memberikan keuntungan secara ekonomi pada petani sebesar Rp 339.700,- per bulan (R/C=1,34).

Perkembangan kebutuhan pektin di Indonesia
Perkembangan kebutuhan pektin di Indonesia

Kebutuhan pektin Indonesia selama ini masih dipenuhi dari impor. Hal ini merupakan peluang bagi petani karena kulit buah kakao sebagai bahan dasar pektin tersedia melimpah di sentra-sentra produksi kakao.

Sumber:
Dewi Lestiyati. Medkom Perkebunan 5 Mei 2015, Page 39