Warning: Wrong parameter count for array_unique() in /var/home/vhosts/balittri/public/plugins/content/facebooklikeandshare.php on line 1111

Warning: Invalid argument supplied for foreach() in /var/home/vhosts/balittri/public/plugins/content/facebooklikeandshare.php on line 1112
PERSIAPAN DAN KESESUAIAN LAHAN TANAMAN KOPI
PERSIAPAN DAN KESESUAIAN LAHAN TANAMAN KOPI Cetak
Info Teknologi
Oleh Handi Supriadi   
Senin, 20 Maret 2017 20:50

Pemilihan Lahan

Ketinggian tempat, suhu udara, dan curah hujan  yang sesuai untuk pertumbuhan dan produksi tanaman kopi kondisinya disesuaikan dengan jenis kopi yang akan ditanam.  Ketinggian tempat untuk kopi Robusta, Arabika dan Liberika bervariasi yaitu masing-masing berkisar: 100 – 600; 1.000 – 2.000 dan 0 – 900 m dpl.  Kondisi tersebut menyebabkan suhu udara untuk ke tiga jenis kopi berbeda sama sama lainnya yaitu masing-masing berkisar 21 – 24;  15 – 25 dan 21 – 30°C. Curah hujan yang dibutuhkan kopi Robusta dan Arabika sama yaitu berkisar 1.250 – 2.500 mm/tahun sedangkan untuk kopi Liberika nilainya lebih tinggi yaitu berkisar 1.250 – 3.500 mm/tahun.  Bulan kering (curah hujan kurang dari 60 mm/bulan) untuk kopi Robusta dan Liberika sama yaitu sekitar 3 bulan/tahun sedangkan untuk kopi Arabika berkisar 1- 3 bulan/tahun.

Secana umum lahan (tanah) untuk tanaman kopi Robusta, Arabika maupun Liberika mempunyai karakteristik/sifat yang hampir sama yaitu : (1) kemiringan tanah kurang dari 30 %, (2) kedalaman tanah efektif lebih dari 100 cm, (3) tekstur tanah berlempung (loamy) dengan struktur tanah lapisan atas remah, (4) kadar bahan organik di atas 3,5 % atau kadar karbon(C)di atas 2 %, (5) nisbah C dan nitrogen (N) antara 10 — 12, (6) kapasitas tukarkation (KTK) di atas 15 me/100 g, (6) kejenuhan basa (KB)di atas 35 %, (7) kemasaman (pH) tanah berkisar 5,5 — 6,5 dan (8) kadar unsur hara N, posfor (P), kalium (K), kalsium (Ca) serta magnesium(Mg) cukup sampai tinggi.



Kesesuaian Lahan

Menurut Ritung et al (2007) Kesesuaian lahan adalah tingkat kecocokan sebidang lahan untuk penggunaantertentu.Kesesuaian lahan tersebut dapat dinilai untuk kondisi saat ini(kesesuaian lahan aktual) atau setelah diadakan perbaikan (kesesuaian lahanpotensial). Secara kuantitatif kriteria teknis kesesuaian lahan untuk kopi Arabika, Robusta dan Liberika tercantum pada Tabel 1.

Tabel 1. Kriteria teknis kesesuaian lahan untuk kopi Robusta, Arabika dan Liberika

No

Parameter

Klas Kesesuaian

N

S1

S2

S3

1

2

3

4

5

6


Iklim


- Curah hujan

tahunan (mm)

1.500-2.000

1.250

1.250

< 1.000




2.000-2.500

2.500‑3.000

> 3.000


- Lama bulan

Kering(<60 mm/bl)

2-3

3-4

4-5

> 5



1-2

< 1

2

Ketinggian tempat (m dpl)


- Robusta

300-500

500-600

600-700

> 700




100-300

0-100



- Arabika

1.000-1.500

850-1.000

650-850

< 650




1.500-1.750

1.750‑2.000

>2.000


- Liberika

300-500

600-800

800-1.000

> 1.000




0-300



3

Lereng (%)

0-8

8-25

25-45

> 45

4

Sifat fisik tanah


- Kedalaman

efektif (cm)

> 150

100-150

60-100

< 60


- Tekstur

Lempung berpasir;

Pasir berlempung,

Liat

Pasir



Lempung berliat;

Liat berpasir;


Liat berat



Lempung berdebu;

Liat berdebu





Lempung liat berdebu;





- Persentase batu

dipermukaan (%)

-

0-3

3-15

> 15







5

Genangan



1-7 hari

> 7 hari


- Klas drainase

Baik

Agak baik

Agak buruk

Berlebihan





Buruk

Sangat buruk





Agak
berlebihan


6

Sifat kimia tanah (0 -30 cm)


- pH

5,5-6

6,1-7,0

7,1-8,0

> 8,0




5,0-5,4

4,0-4,9

< 4,0


- C-Organik (%)

2-5

1-2

0,5-1

< 0,5




5-10

10-15

> 15


- KTK (me/100 g)

> 15

10-15

5-10

< 5


- KB (%)

> 35

20-35

< 20

-


- N (%)

> 0,21

0,1-0,2

<0,1

-


- P2O5 tersedia (ppm)

> 16

10-15

< 10

-


- Kdd (me %)

> 0,3

0,1-0.3

< 0,1

-

7.

Toksitas


- Salinitas (mm hos/cm)

< 1

1-3

3-4

> 4


- Kejenuhan Al (%)

< 5

5-20

20-60

> 60














Sumber : Ditjenbun, 2014

Kelas kesesuaian lahan pada suatu wilayah ditentukan berdasarkan kepada tipe penggunaan lahan, yaitu :

Kelas S1       : Sangat sesuai (Highly Suitable)

Lahan dengan klasifikasi ini tidak mempunyai pembatas yang serius untuk menerapkan pengelolaan yang dibutuhkan atau hanya mempunyai pembatas yang tidak berarti dan tidak berpengaruh nyata terhadap produktivitas lahan serta tidak akan meningkatkan keperluan masukan yang telah biasa diberikan.

Kelas S2       : Sesuai (Suitable)

Lahan mempunyai pembatas-pembatas yang agak serius untuk mempertahankan tingkat pengelolaan yang harus diterapkan. Faktor pembatas yang ada akan mengurangi produktivitas lahan serta mengurangi tingkat keuntungan dan meningkatkan masukan yang diperlukan.

Kelas S3       : Sesuai marginal (Marginally Suitable)

Lahan mempunyai pembatas-pembatas serius untuk mempertahankan tingkat pengelolaan yang harus diterapkan. Tingkat masukan yang diperlukan melebihi kebutuhan yang diperlukan oleh lahan yang mempunyai tingkat kesesuaian S2, meskipun masih dalam Batas-batas kebutuhan yang normal.

Kelas N         : Tidak sesuai (Not Suitable)

Lahan dengan faktor pembatas yang permanen, sehingga mencegah segala kemungkinan pengembangan lahan untuk penggunaan tertentu.  Faktor pembatas ini tidak dapat dikoreksi dengan tingkat masukan yang normal.



Pembukaan Lahan

Langkah awal dari pembukaan lahan adalah melakukan penebangan dan pembongkaran terhadap pohon, perdu dan tunggul beserta perakarannya. Kayu dan serasah (sisa-sisa tanaman, perdu dan tunggul)  hasilnya ditumpuk di satu tempat di pinggir kebun. Pembukaan lahan harus dilakukan tanpa adanya pembakaran (zero burning) dan penggunaan herbisida dilakukan secara terbatas bijaksana.

Menurut Majid (1997), manfaat pembukaan lahan tanpa bakar antara lain (1) melindungi humus dan mulsa yang telah terbentuk bertahun-tahun, (2) mempertahankan kelembabam tanah, (3) meningkatkan kandungan bahan organic, (4) mempertahankan kelestarian lingkungan, terutama tidak menyebabkan polusi udara, (5) menjaga kemasaman (pH) tanah dan mengurangi biaya pemeliharaan setelah penanaman

Tanaman kayu-kayuan yang mempunyai nilai ekonomi tinggi seperti eucalyptus, suren dan  sengon yang diameternya kurang dari 30 cm,  dapat dijadikan sebagai penaung tetap dengan populasi 200-500 pohon/ha dan ditata dalam arah utara-selatan.

Pembersihan gulma dapat dilakukan secara manual menggunakan cangkul, arit dan parang maupun kimiawi menggunakan herbisida sistemik maupun kontak tergantung jenis gulmanya secara terbatas dan bijaksana.Untuk memudahkan kontrol kebun dibuat  jalan produksi (jalan setapak) dan agar kebun tidak tergenang air dibuat saluran drainase.Lahan yang mempunyai kemiringan lebih dari 30% dibuat teras.



Pengajiran

Pengajiran bertujuan untuk  (1) mengatur jarak tanam di lapangan, (2) mempermudah pembuatan lubang tanam, (3) membantu agar benih yang ditanam membentuk garis lurus  sehingga mempermudah dalam pengelolaan dan pemeliharaan tanaman.  Pada lahan datar  pengajiran dilakukan secara larikan  dengan arah barisan mengikuti arah mata angin.  Ajir induk/kepala  ditempatkan pada arah utara – selatan sedangkan ajir anakan (pengisi) pada arah timur – barat.  Ajir induk ditempatkan di tengah apabila lahannya luas dan diletakkan di pinggir apabila luasnya kurang dari 1 ha. Pada lahan miring (kemiringan lahan di atas 30%) pemancangan ajir dilakukan sesuai kontur dengan mengikuti prinsip titik-titik pada ketinggian yang sama.  Alat yang dipakai untuk tanah datar adalah bambu-bambu yang telah dibelahdengan ukuran panjang sekitar 1 m, sedangkan pada tanah berkontur menggunakan segitiga kontur. (Budi et al., 2008; Wibawa, 2008). Kegiatan pengajiran di lapang dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Kegiatan pengajiran di lapang




Jarak tanam untuk tanaman kopi bervariasi tergantung kepada jenis kopi dan kondisi lahan.   Jarak tanam kopi Arabika untuk tipe katai, agak katai dan jangkung terdapat pada Tabel 2.

Tabel 2. Jarak tanam kopi Arabika untuk tipe katai, agak katai dan jangkung

Tipe kopi

Jarak tanam

Katai

(Kartika 1 dan Kartika 2)

2,0 x 1,5 m

Agak Katai

(Andung Sari (AS) 1, AS 2k, Komposit Andung Sari Tiga (Komasti), dan Sigarar Utang)

2,5 x 2 m

Jangkung

(Gayo 1, Gayo 2, Kopyol, S 795, Abessinia (AB 3), USDA 762)

2,5 x 2,5 m atau 3,0 x 2,0 m

Sumber : Ditjenbun, 2014

Pada lahan miring,  jarak tanam dalam teras untuk kopi Arabika tipe katai berkisar 2,00 – 2,25 m sedangkan untuk tipe jangkung 2,50 – 2,75 m. Jarak tanam kopi Robusta pada lahan datar 2,5 m x 2,5 m atau 3,0 m x 2,0 m, sedangkan pada lahan miring 2,0 x 2,5 m.Jarak tanam kopi Liberika 3,0 m x 3,0 m atau 4,0 m x 2,5 m (Gambar 2).

Gambar 2.  Tata tanam kopi pada lahan berkontur

Keterangan :

Ο : tanaman kopi

— : jarak tanam

Sumber : Ditjenbun, 2014



Lubang Tanam

Lubang tanam untuk tanaman kopi sebaiknya dibuat 6 bulan sebelum tanam. Ukuran lubang tanam tergantung kepada kondisi tanah (tekstur dan struktur tanah), makin berat tanah maka  ukuran lubang tanam makin besar. Lubang tanam yang baik untuk tanaman kopi berukuran 60 x 60 cm pada bagian permukaan dan 40 x 40 cm pada bagian dasar dengan kedalaman 60 cm.  Pada lahan miring yang dibuat teras kontur, lubang tanam dibuat dekat sisi miring sebelah atas. Makin terjal kemiringan tanah, makin dekat sisi miring sebelah atasnya.

Tanah galian lapisan atas (top soil) dengan kedalaman 20 cm dari permukaan tanah,  dipisahkan dari tanah lapisan bawah (sub soil).  Tanah lapisan atas di sebelah barat, sedangkan tanah lapisan bawah di sebelah timur supaya tanah lapisan bawah dapat tersinari cahaya matahari dengan tujuan untuk mematikan mikroorganisme.  Tanah bekas galian dibiarkan minimal selama 1 bulan. Tanah lapisan atas dapat dicampur dengan pupuk organik.

Kebun yang  tanahnya  kurang subur dan kadar bahan organiknya rendah (di bawah 3%), ke dalam lubang tanam ditambahkan pupuk organik (pupuk hijau dan pupuk kandang), 4 – 5 bulan sebelum penanaman kopi dengan dosis 5 – 10 kg per lubang. Lubang tanam sebaiknya ditutup dengan tanah lapisan atas, 3 bulan sebelum tanam kopi. Ajir harus berada pada posisi di tengah lubang tanam.


Pemanfaatan Lahan

Lahan yang telah disiapkan untuk penanaman kopi dapat dimanfaatkan dengan ditanami beberapa jenis tanaman semusim sebagai pre-cropping, seperti talas, ubi jalar, jagung, kacang­-kacangan dan sayuran. Jenis tanaman disesuaikan dengan kebutuhan petani, peluang pasar dan kondisi lingkungan setempat.


Pengendalian Erosi

Erosi adalah hilangnya atau terkikisnya tanah atau bagian-bagian tanah dari suatu tempat yang diangkut oleh air atau angin ke tempat lain.  Erosi menyebabkan hilangnya lapisan atas tanah yang subur dan baik untuk pertumbuhan tanaman serta berkurangnya kemampuan tanah untuk menyerap dan menahan air (Arsyad, 1989). Kondisi ini menyebabkan tanah di perkebunan kopi menjadi terdegradasi (berkurang kesuburannya), terutama pada kebun yang mempunyai kemiringan lereng cukup tinggi (di atas 8%)

Tingkat erosi paling tinggi terjadi pada periode persiapan lahan dan tanaman belum menghasilkan (TBM). Tingkat erosi akan semakin berkurang setelah tanaman dewasa, karena air hujan di tahan oleh tajuk tanaman yang sudah menutupi hampir seluruh permukaan tanah.

Upaya untuk mengatasi erosi dapat dilakukan sebagai  berikut :

  1. Jika kebun kopi mempunyai tingkat kemiringan kurang dari  8 % maka perlu dibuat rorak.
  2. Jika lereng lapangan lebih dari 8 % perlu dibuat teras bangku dan rorak. Teras bangku  dibuat dengan cara memotong panjang lereng dan meratakan tanah di bagian bawahnya, sehingga terjadi suatu deretan bangunan yang berbentuk seperti tangga.  Fungsi utama teras bangku adalah ; (1) memperlambat aliran permukaan, (2) menampung dan menyalurkan aliran permukaan dengan kekuatan yang tidak merusak, (3) meningkatkan laju infiltrasi dan (4) mempermudah pengolahan tanah.
  3. Lahan yang mempunyai kemiringan lebih dari 45 % sebaiknya tidak dipakai untuk budidaya tanaman kopi. Lahan tersebut sesuai untuk digunakan tanaman kayu-kayuan atau sebagai hutan cadangan/hutan lindung. Namun demikian dalam kondisi tertentu areal yang curam (kemiringan lahan lebih dari 45%) dapat dimanfaatkan untuk penanaman kopi, dengan syarat harus dilengkapi dengan teras individu.



Pembuatan teras bangku

Pembuatan teras bangku dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :

  1. Teras bangku dapat dibuat dengan interval vertikal 0,5 sampai 1 m.
  2. Pembuatan teras dimulai dari lereng atas dan terus ke lereng bawah untuk menghindarkan kerusakan teras yang sedang dibuat oleh air aliran permukaan bila terjadi hujan.
  3. Tanah bagian atas digali dan ditimbun ke bagian lereng bawah sehingga terbentuk bidang olah baru. Tampingan teras dibuat miring; membentuk sudut 200% (630 ) dengan bidang horizontal. Kalau tanah stabil tampingan teras bisa dibuat lebih curam (sampai 300% atau 710 ).
  4. Kemiringan bidang olah berkisar 0 sampai 3 % mengarah ke saluran teras.
  5. Guludan (bibir teras) dan bidang tampingan teras ditanami dengan tanaman berakar rapat, cepat tumbuh, dan menutup tanah dengan sempurna. Untuk petani yang memiliki ternak ruminansia dapat ditanami rumput pakan ternak. Seperti  rumput bahia (Paspalum notatum),  rumput bede (Brachiaria decumbens), rumput gajah (Penisetum purpureum) atau akar wangi (Vetiveria zizanioides) dan serai wangi. Guludan teras dapat juga ditanami dengan salah satu tanaman legum  seperti gamal (Gliricidia sepium) dan lamtoro yang sekaligus berfungsi sebagai penaung tetap tanaman kopi. Pada tanah Latosol, teras bangku yang diperkuat dengan rumput bede dapat menurunkan erosi dari 1,2 ton/ha menjadi 0,4 ton/ha.
  6. Sebagai kelengkapan teras perlu dibuat saluran teras dengan ukuran  lebar 15-25 cm, dalam 20-25 cm.
  7. Untuk mengurangi erosi dan meningkatkan infiltrasi, rorak bisa dibuat di dalam saluran teras.

Sketsa dan kondisi teras bangku di lapang terdapat pada Gambar 3.

Gambar 3. Sketsa dan kondisi teras bangku di lapang


Pembuatan teras individu

Teras individu adalah teras yang dibuat secara terpisah-pisah; satu teras untuk satu pohon (tanaman tahunan). Teras dividu tidak perlu searah garis kontur, tetapi menurut arah yang paling cocok untuk penanaman tanaman (misalnya arah timur-barat untuk mendapatkan cahaya matahari maksimal).

Teknik Pembuatan Teras Individu

  1. Ratakan bidang teras pada titik-titik tempat penanaman dengan luas sama atau lebih kecil dari proyeksi tajuk pohon,sesuai kondisi lapangan.Buat lubang tanam di bagian tengah teras.
  2. Tanami areal kosong di antara barisan tanaman dengan rumput/legum penutup tanah.



Pembuatan rorak

Rorak adalah lubang atau penampung yang ditujukan untuk : (1) menampung dan meresapkan air aliran permukaan ke dalam tanah, (2) memperlambat laju aliran permukaan, (3) pengumpul sedimen yang memudahkan untuk mengembalikannya ke bidang olah dan (4)  media penampung bahan organik, yang merupakan sumber hara bagi tanaman. Rorak dibuat setelah benih di tanam di lapangan, dan pada tanaman yang sudah produktif dibuat setiap tahun.

Pembuatan rorak pada lahan datar dilakukan pada jarak 40 – 60 cm dari batang tanaman kopi, dengan ukuran panjang 120 cm, lebar 40 cm dan dalam 40 cm.  Jarak rorak dari batang tanaman kopi dapat berubah sesuai dengan pertumbuhan tanaman (Gambar 4). Pada lahan miring rorak dibuat memotong lereng, atau searah dengan terasan (sejajar garis kontur), dibuat pada bidang olah atau di saluran teras. Serasah kebun, hasil pangkasan ranting kopi dan penaung, hasil penyiangan gulma, kompos, serta pupuk kandang dapat dimasukkan ke dalam rorak untuk dijadikan pupuk organik.

Gambar 4. Pembutan rorak di kebun kopi




Penanaman Penaung

Tanaman penaung sementara dan penaung tetap sebaiknya ditanam satu tahun sebelum penanaman kopi, dengan tujuan agar tanaman penaung sudah tumbuh cukup lebat, sehingga dapat menaungi tanaman kopi.  Tanaman penaung sementara ditanam dalam barisan pada selang jarak 2 — 4 m atau mengikuti kontur, sedangkan tanaman penaung tetap di tanaman dengan jarak tanam 2 x 2,5 m, 4 x 5 m atau 5 x 5 m. Tanaman penaung sementara yang dapat digunakan antara lain : Moghania sp. (di dataran rendah), Teprosia sp. dan Crotalaria sp. (didataran tinggi). Sedangkan untuk tanaman penaung tetap dapat digunakan gamal (glirisidia), lamtoro dan lain-lain (Gambar 5).

Gambar 5. Tanaman penaung Teprosia sp. dan gamal/glirisidia