-->
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Highlights

Saber Pungli
SKM
WBS
Ejurnal
WBK
PPID
Kalender Tanam
Sigap UPG
perpus_digital
TV-TANI
satu-layanan
Lapor.go.id

Kalender Kegiatan

Social Media

Video

Download

Online

Terdapat 38 Tamu online

Polling

Apakah Situs Web Ini Informatif ?
 

Statistik

Jumlah Kunjungan Konten : 976911
PRETREATMENT LIMBAH BIOMASSA PERKEBUNAN DALAM PRODUKSI BIOETHANOL PDF Cetak E-mail
Info Teknologi
Oleh Nendyo Adhi Wibowo   
Jumat, 01 Februari 2019 07:30

Bioethanol dapat digunakan sebagai energi alternatif yang menjanjikan yang dapat diproduksi dari limbah biomassa perkebunan. Bioethanol dapat digunakan untuk mengurangi emisi CO2 dan sebagai alternatif energi yang menjanjikan sehingga menunjang pertumbuhan ekonomi yang ramah lingkungan. Proses pembuatan bioetanol berbahan baku biomassa perkebunan dapat melalui beberapa tahap, antara lain: pretreatment (pretreatmen), hidrolisis (sakarifikasi), fermentasi, distilasi, dan purifikasi. Pretreatmen merupakan tahapan awal yang memegang peranan penting dalam proses produksi bioetanol dari biomassa perkebunan. Pretreatmen yang baik dapat mengurangi jumlah enzim yang digunakan dalam proses hidrolisis dan juga dapat meningkatkan hasil gula yang diperoleh. Gula yang diperoleh tanpa pretreatmen kurang dari 20%, sedangkan dengan pretreatmen dapat meningkat menjadi 90% dari hasil teoritis . Tujuan dari pretreatmen adalah untuk membuka struktur lignoselulosa agar selulosa menjadi lebih mudah diakses oleh enzim yang memecah polymer polisakarida menjadi monomer gula.

Pretreatmen secara biologis memiliki beberapa keunggulan dan kekurangan dibandingkan dengan pretreatmen kimia atau fisika. Keunggulan bio-pretreatmen adalah:

  1. Energi yang dibutuhkan relatif rendah,
  2. Membutuhkan investasi yang rendah,
  3. Tidak atau sedikit membutuhkan tambahan bahan kimia,
  4. Dilakukan pada kondisi lingkungan yang rendah (mild cindition),
  5. Spesifik terhadap substrat,
  6. Proses dan peralatan yang dibutuhkan sederhana.

Sedangkan kekurangan bio-pretreatmen adalah waktu yang dibutuhkan relatif lama (hingga 8 minggu) dan membutuhan tempat yang lebih luas.

Pengaruh bio-pretreatmen pada perubahan biomassa perkebunan antara lain adalah: penurunan kandungan lignin, penurunan derjat polimerisasi selulosa, dan penurunan derajat kristalisasi selulosa. Beberapa bio-pretreatmen yang sudah dilakukan diantaranya penggunaan Jamur Pelapuk Putih (JPP).  JPP adalah satu-satunya mikroba yang dapat mendegradasi lignin secara sempurnya menjadi CO2. JPP menghasilkan enzim lignin peroksidase (LiP), mangan peroksidase (MnP), versatile peroksidase (VP) dan lakase (Lac) yang berperan di dalam degradasi lignin.  JPP yang potensial diantaranya Pleurotus ostreatus, Phanerochaete sp dan Pycnoporus cinnaboarinus. JPP (Phanerochaeta chrysosporium, Tremetes versicolor, Ceriporiopsis subvermispro, dan Pleorotus ostreatus) untuk hidrolisis enzimatik. JPP dapat berkembang baik pada proses bio-pretreatmen limbah perkebunan tandan kosong sawit seperti terlihat pada gambar 2 dengan fermentasi kultur padat. Bio-pretreatmen juga dapat diperlakukan pada limbah residu kopi (LRK) yang mengandung  gula fermentasi sekitar 37-42% sehingga dapat dimanfaatkan sebagai sumber untuk produksi bioetanol. Glukosa dan mannose pada LRK dapat difermentasi oleh S. cerevisiae melalui jalur Embden-Meyerhof, sedangkan galaktosa difermentasi melalui jalur Leloir.