-->
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Highlights

SKM
TV-TANI
Saber Pungli
WBS
WBK
Lapor.go.id
perpus_digital
PPID
Sigap UPG
satu-layanan
Ejurnal
Kalender Tanam

Kalender Kegiatan

Social Media

Video

Download

Online

Terdapat 22 Tamu online

Polling

Apakah Situs Web Ini Informatif ?
 

Statistik

Jumlah Kunjungan Konten : 899982

Warning: copy() [function.copy]: php_network_getaddresses: getaddrinfo failed: Name or service not known in /var/home/vhosts/balittri/public/plugins/content/mavikthumbnails.php on line 674

Warning: copy(http://balittri.litbang.deptan.go.id/images/stories/Kurva%20Fungsi%20Produksi(1).png) [function.copy]: failed to open stream: No such file or directory in /var/home/vhosts/balittri/public/plugins/content/mavikthumbnails.php on line 674

Warning: copy(http://balittri.litbang.pertanian.go.id/images/stories/Kurva%20Fungsi%20Produksi(1).png) [function.copy]: failed to open stream: Connection refused in /var/home/vhosts/balittri/public/plugins/content/mavikthumbnails.php on line 674
PERTANIAN ORGANIK ATAU PERTANIAN SEHAT ? PDF Cetak E-mail
Info Teknologi
Oleh Administrator   
Selasa, 19 Juli 2011 19:43
Prolog
Revolusi hijau merupakan jawaban terhadap permasalahan penyediaan bahan pangan yang ditengarai oleh Malthus akan selalu tertinggal dari kebutuhannya.  Penyediaan bahan pangan tumbuh mengikuti deret hitung dan kebutuhannya mengikuti deret ukur. Pasca Perang Dunia II gerakan revolusi hijau semakin meluas dan memang secara nyata dapat menepis hipotesis Malthus tersebut.  Revolusi hijau mengandalkan teknologi biologi-kimia yang ditunjang dengan teknologi mekanisasi di berbagai belahan dunia.  
 
Teknologi Biologi-Kimia
Teknologi biologi yang utama menjadi inovasi merupakan pengembangan dan aplikasi dari prinsip genetika Mendel, yang mana individu atau varietas unggul (VU) dapat diperoleh melalui persilangan antar individu yang membawa karakter tertentu (hibridisasi). Karakter dari varietas hibrida yang dihasilkan pada umumnya adalah produksi responsif terhadap penggunaan input (terutama pupuk kimia) dan potensi produktivitas yang dapat dicapai, berlipat dari tanaman asalnya (TA).
Secara grafis karakter VU yang responsif tersebut dapat diperlihatkan pada kurva fungsi produksi yang lebih tegak daripada TA dan potensi produktivitasnya diperlihatkan oleh kurva fungsi produksi yang lebih tinggi dan lebih panjang tingkat penggunaan inputnya.  Implikasi teoritik dari kurva fungsi produksi VU dan TA adalah penanaman VU menuntut penggunaan input (terutama pupuk kimia) yang jauh lebih tinggi daripada TA dan minimum harus mencapai titik ambang (tresh hold) ( titik potong pada Gambar).  Bila penggunaan pupuk kurang dari titik A, maka lebih baik menanam TA karena dapat memperoleh produksi yang lebih tinggi.
Dalam jangka panjang penggunaan pupuk dengan dosis tinggi dapat berakibat buruk pada sifat fisik dan kimia tanah, yang pada gilirannya produktivitas tanah dapat menurun. Lebih jauh tanpa upaya perbaikan, kerusakan tersebut bersifat tidak dapat kembali (irreversible). Selain itu ada juga kekhawatiran bahwa konsumsi produk pertanian yang menggunakan bahan kimia (pupuk dan pestisida) dalam proses produksinya dapat berakibat buruk pada kesehatan (kanker dan menurunnya ketahanan tubuh). Kekhawatiran semakin menguat dengan berkembangnya GMO (genetic modified organisms) atau tanaman transgenik sebagai respon dari berkembangnya ancaman hama dan penyakit serta mendorong produksi yang lebih tinggi. 
 
Pertanian organik
Pertanian organik merupakan arus balik dari berbagai akibat dan kekhawatiran dari yang dikemukakan di atas.  Secara umum pertanian organik tidak menggunakan tanaman GMO, pupuk dan pestidida kimia; dan disubstitusi dengan pupuk organik dan pestisida hayati. Dengan kata lain, tingkat penggunaan input pertanian organik, bila diproyeksikan pada kurva fungsi produksi, maka cenderung akan berada dibawah ambang batas, sehingga lebih tinggi produksinya bila digunakan TA.
Mengingat pertanian organik memiliki karakter demikian maka akan lebih sesuai untuk menghasilkan produk bermerek (branded products) yang mana melalui pemasaran yang tepat dapat diperoleh nilai jual yang berlipat daripada komoditas (brandless products). Dengan demikian pertanian organik tidak berorientasi untuk mengejar produksi, tetapi untuk memperoleh nilai tambah yang tinggi.
Penelitian pertanian organik harus diarahkan pada seleksi tanaman yang memiliki karakter spesifik dan memiliki nilai yang tinggi bagi konsumen dan relatif tahan terhadap serangan hama dan penyakit.  Selain itu perlu pengembangan pupuk organik yang dapat menyediakan unsur hara secara tepat terutama dengan penambahan mikroba tanah spesifik untuk peningkatan ketersediaan hara tertentu. Pengembangan pestisida hayati juga menjadi kunci keberhasilan pertanian organik. 
 
Pertanian Sehat
Pertanian sehat atau sering dikaitkan dengan GAP (Good Agricultural Practices) merupakan jalan tengah yang mana aplikasi input kimia tidak hanya mempertimbangkan capaian tingkat produksi semata, tetapi juga daya dukung tanah dan lingkungan bahkan disertai dengan konservasi sehingga sumberdaya tanah dan lingkungan tidak mengalami degradasi untuk dapat digunakan secara berkelanjutan. Dengan demikian dalam penerapan pertanian sehat input kimia masih dapat digunakan sebatas daya dukung tanah dan lingkungan serta daya dukung tanah dan lingkungan harus dipertahankan bahkan diperbaiki. 
Pertanian sehat mengisyaratkan bahwa varietas unggul yang dipilih haruslah yang sangat responsif terhadap penggunaan input kimia sehingga ambang minimumnya semakin sedikit, yang pada gilirannya upaya konservasi yang harus dilakukan juga lebih ringan. Selain itu input kimia yang digunakan juga harus yang secara efektif mampu tersedia bagi tanaman tepat waktu sehingga tidak banyak yang terbuang kepada lingkungan.
Penelitian yang disarankan  dilaksanakan untuk menyusun rekomendasi  pertanian sehat adalah pemuliaan untuk memperoleh varietas unggul yang sangat responsif terhadap paket input yang diberikan baik varietas hibrida maupun GMO. Paket input yang diberikan harus secara total berimbang antar komponen, seperti komponen pupuk kimia, pupuk organik, pestisida hayati, dan perlakuan-perlakuan fisik yang sebaiknya diberikan. Indikator penelitian pun tidak hanya produksi yang dapat dicapai tetapi juga dampak perlakukan terhadap kestabilan daya dukung dalam hal ini sifat fisik dan kimia tanah secara komprehensif.
 
Epilog  
Berdasarkan atas pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa pertanian organik memiliki tujuan yang berbeda dengan pertanian sehat. Pertanian organik terutama ditujukan untuk menghasikan produk spesifik yang memiliki nilai tinggi bagi konsumen yang membutuhkannya. Segmen pasar produk organik relatif terbatas dibandingkan pasar secara menyeluruh. Sedangkan pertanian sehat masih diutamakan untuk menyediakan bahan pangan dan baku industri dengan tujuan kuantitas yang mencukupi. Walaupun demikian karena tuntutan agar produksi pertanian dapat berkelanjutan maka upaya-upaya konservasi harus dilaksanakan sebagai satu paket pertanian sehat. (Agus Wahyudi; agus_w@lycos.com)