-->
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Highlights

Kalender Tanam
WBK
TV-TANI
PPID
Pakar Kopi
Lapor.go.id
WBS
satu-layanan
perpus_digital
Sigap UPG
SKM
pui-balittri
Ejurnal
Saber Pungli

Kalender Kegiatan

Video

Social Media

Download

Online

Terdapat 24 Tamu online

Polling

Apakah Situs Web Ini Informatif ?
 

Statistik

Jumlah Kunjungan Konten : 1151387
UJI INSEKTISIDAL MATERIAL ASAP CAIR UNTUK PENGENDALIAN HAMA PENGGEREK BUAH KOPI PDF Cetak E-mail
Info Teknologi
Oleh Arifa Chan   
Jumat, 17 Mei 2019 11:31

Hama penggerek buah kopi (PBKo) Hypothenemus hampei (Coleoptera: Curculionidae) merupakan hama utama tanaman kopi. H. hampei menginfeksi buah dari semua tingkat umur. Hama ini masuk ke dalam buah kopi dengan cara membuat lubang di sekitar diskus dan berkembang biak dalam buah. Hal ini terjadi sejak biji mulai membentuk endosperma, bila endosperma sudah cukup keras, serangga betina membuat lubang kecil pada permukaan kulit luar kopi (mesokarp) buah untuk meletakkan telur. Serangan pada buah muda menyebabkan gugur buah dan serangan pada buah yang cukup tua menyebabkan biji kopi cacat berlubang-lubang dan bermutu rendah.

Salah satu insektisida nabati yang berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai pengendali hama PBKo adalah asap cair. Asap cair telah digunakan sebagai fungisida, herbisida, dan insektisida yang bersifat penolak datang (repelent) bagi serangga dan penolak makan (antifeedant). Bahan yang digunakan untuk pembuatan asap cair adalah limbah tanaman dari kulit buah kakao, serbuk gergaji, tempurung kelapa, dan sekam padi. Proses pembuatan asap cair dilakukan menggunakan alat yang didesain khusus untuk mendapatkan asap cair melalui proses kondensasi. Kondensasi dilakukan dengan menggunakan drum sebagai tempat pembakaran bahan limbah tanaman untuk menghasilkan asap. Asap ditangkap oleh sungkup dari alat penyuling, lalu disalurkan melalui kondensor. Selanjutnya asap tersebut dikondensasikan pada kondensor menggunakan media pendingin air. Dari proses tersebut keluar cairan berwarna coklat tua hingga hitam yang dikenal sebagai asap cair. Asap cair yang dihasilkan ditampung dalam botol dan selanjutnya disimpan hingga saat digunakan.

Hasil uji toksisitas asap cair terhadap imago H. hampei dengan metode residu menunjukkan perlakuan asap cair menyebabkan mortalitas imago PBKo. Peningkatan konsentrasi menyebabkan persentase mortalitas imago PBKo semakin tinggi. Mortalitas imago PBKo pada perlakuan asap cair dengan metode kontak, pada perlakuan asap cair dari tempurung kelapa menghasilkan mortalitas paling tinggi dibandingkan asap cair yang berasal dari kulit buah kakao, serbuk gergaji, dan sekam padi.  Perlakuan asap cair dari kulit buah kakao, serbuk gergaji, tempurung kelapa, dan sekam padi pada konsentrasi 2,5% menimbulkan mortalitas imago PBKo berturut-turut 42,22%; 42,22%; 48,87%; dan 28,87%.

Semua asap cair yang digunakan pada semua konsentrasi mampu menurunkan serangan PBKo sebesar 9,08%–70,00%. Asap cair dari tempurung kelapa dan serbuk gergaji pada konsentrasi 2,5% mampu menurunkan serangan PBKo yang lebih besar daripada penggunaan insektisida kimia.  Mortalitas imago PBKo pada perlakuan asap cair dari sekam padi paling rendah, hal ini diduga terkait dengan kandungan senyawa fitokimianya yang sebagian besar berupa senyawa volatile (fenol) yang bersifat  lebih mudah menguap.

Kandungan senyawa kimia terbesar dari asap cair yang diduga bersifat insektisidal terhadap imago PBKo adalah benzenesulfonic acid 4-hydroxy dan acetic acid.  Asap cair dari tempurung kelapa pada konsentrasi 2,5% menyebabkan mortalitas imago PBKo tertinggi yaitu 48,87%, dengan tingkat serangan 20% dan penurunan serangan 70%. Asap cair dari tempurung kelapa paling berpotensi untuk digunakan sebagai pengendali PBKo. Pengujian lebih lanjut masih sangat diperlukan untuk mengetahui efisiensi penggunaan asap cair dalam pengendalian hama dan penghitungan skala ekonomi dari penggunaan asap cair.


Sumber: Potensi Asap Cair sebagai Insektisida Nabati Pengendali Penggerek Buah Kopi Hypothenemus hampei/Gusti Indriati dan Samsudin (J. TIDP 5(3), 123-134 November, 2018)

 

Artikel terkait