-->
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Highlights

Kalender Tanam
WBK
TV-TANI
PPID
Pakar Kopi
Lapor.go.id
WBS
satu-layanan
perpus_digital
Sigap UPG
SKM
pui-balittri
Ejurnal
Saber Pungli

Kalender Kegiatan

Video

Social Media

Download

Online

Terdapat 29 Tamu online

Polling

Apakah Situs Web Ini Informatif ?
 

Statistik

Jumlah Kunjungan Konten : 1151377
PEMANFAATAN TANAH GAMBUT UNTUK PERKEBUNAN PDF Cetak E-mail
Info Teknologi
Oleh Nursilan   
Kamis, 20 Juni 2019 08:15

Tanah gambut terbentuk karena pengenangan lahan yang bervegatasi dalam jangka waktu yang lama, atau lahan dengan drainase yang terhambat. Tanah gambut mengandung bahan organik yang sangat tinggi, selalu lembab, jika tanah gambut kering maka dia tidak dapat kembali sperti semula, tanah tersebut tidak akan menyerap air dan kembali lembab, tetapi malah mengapung dan hanyut. Pemanfaatan tanah gambut harus mengikuti kaedah-kaedah seperti tanah harus tetap lembab,selalu digenangi air dan perlu pembenahan tanah, karena pH yang rendah dan miskin unsur hara. Oleh sebab itu perlu pengaturan tata air yang sesuai, pembenahan tanah dan polatanam agar lahan tertutupi oleh vegetasi. Tata air disesuaikan dengan tanaman yang akan ditanam, untuk tanaman perkebunan seperti karet dan kopi tinggi aras air minimal 50 cm, kalau kurang dari 50 cm perakaran tanaman akan sulit berkembang.


Perbedaan Topsoil Tanah Gambut dan Tanah Mineral

Lahan gambut kurang mengandung mineral tanah, pH rendah, penambahan zeolit dan dolomit dapat memberikan mineral tanah dan menaikan pH, sedangkan agar tanah tetap lembap dan tidak menjadi kering ditambahkan pupuk kandang, atau bahan organik yang sifatnya berbeda dengan bahan organik pada lahan gambut. Zeolit adalah mineral tanah yang berasal dari batuan, ukuran zeolit yang digunakan kurang lebih seperti granular. Zeolit tidak dapat menyerap air sehingga tesktur menjadi agak lepas. Dolomit adalah semacam kapur pertanian untuk menaikkan pH, jika pH naik diharapkan pengikatan unsur hara oleh Fe dapat dikurangi, sehingga menjadi tersedia bagi tanaman. Sedangkan pupuk kandang, bahan organik yang dapat menyerap air beberapa kali lipat jauh lebih besar dari beratnya, dengan demikian walaupun aras air tinggi, tanah gambut masih mampu mempertahankan kelembabannya, sehingga  tidak menjadi kering. Lahan gambut dapat dibagi menjadi beberapa Zona yaitu Zona 1, Zona 2 dan Zona 3. Zona 1 adalah wilayah yang lebih dekat dengan pantai, Zona 2 lebih mendekati daratan dan Zona 3 lebih ke darat lagi. Zona 1 sangat dipengaruhi oleh air laut sehingga airnya asin, untuk lahan pangan, zona 2 lebih ke pangan, sedangkan zona 3 lebiih banyak air tawarnya dan kurang dipengaruhi oleh pasang surut. Ketebalan gambut pada tiap-tiap zona juga berbeda, zona 1 mempunyai ketebalan gambut paling tebal dapat mencapai > 1 m, zona 2 antara 30-100 cm, dan zona 3 antara 0-50 cm. Zona yang banyak diusahakan adalah zone 3 dimana ketebalan gambutnya tipis dan pengaruh air laut sangat kecil, pada daerah ini tidak ada salin.

Lapisan Tanah Gambut yang Terbakar

Kesalahan dalam mengelola tanah gambut lebih berbahaya dibandingkan dengan pembakaran dan ilegal loging pada hutan. Tanah gambut mudah terbakar dan baranya berada dalam tanah yang suatu waktu akan muncul ke permukaan, kebakaran dalam tanah mengakibatkan perakaran tanaman rusak dan akan mati. Selain itu kekeringan pada gambut akan mengakibatkan gambut tak kembali lagi seperti semula, gambut tidak akan menyerap air, menahan unsur hara dan mudah terbakar, jika air banjir akan mengapung dan hanyut.

 Tanaman Karet di Lahan Gambut 

Tanaman karet merupakan salah satu tanaman yang dapat dikembangkan dilahan gambut. Areal tanaman karet telah mencapai 3,6 juta hektar, sebagian besar berbentuk perkebunan rakyat dengan luas kepemilikan hanya sekitar 1 ha/KK. Tanaman karet dapat ditanam secara tumpang sari dengan tanaman lain. Peluang penanaman sela lebih besar jika digunakan rekayasa jarak tanam seperti 2 x 10 m, sehingga tanaman yang tidak tahan naungan juga dapat dikembangkan di bawah tanaman karet.

 Sumber : Yulius Ferry ( Media Komunikasi Perkebunan, Vol 6 No 1, Januari 2018 )