Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Highlights

satu-layanan
WTP
TV-TANI
WBS
Kalender Tanam
Ejurnal
WBK
PPID
perpus_digital

Kalender Kegiatan

Social Media

Video

Download

Online

Terdapat 70 Tamu online

Polling

Apakah Situs Web Ini Informatif ?
 

Statistik

Jumlah Kunjungan Konten : 603744
Formula

1. Formula biofungisida dengan bahan aktif Trichoderma untuk pengendalian penyakit jamur akar putih (JAP) pada karet.

Penyakit jamur akar putih (JAP) yang disebabkan oleh Rigidoporus microporus dan Rigidoporus lignosus menginfeksi sejak di pembibitan sampai tanaman karet di lapang. Pengendalian dengan menggunakan formula biofungisida berbahan aktif Trichoderma dapat mencegah dan menekan infeksi JAP di pembibitan sampai 90%, serta menekan infeksi pada pohon karet di lapang.

Pembuatan formula biofungisida: Biakan murni Trichoderma virens dan Trichoderma amazonicum pada media potato dextrose agar (PDA) disiapkan sebagai inokulum. Lima potong inokulum diameter 0,4 cm diinokulasikan pada media ekstrak kentang gula (EKG) steril 5 liter dalam galon ukuran 10 liter. Perbanyakan Trichoderma pada media cair menggunakan rangkaian fermentor sederhana, dan diinkubasi selama 5-7 hari. Sebanyak 500 ml dengan kerapatan 108 spora/ml dicampurkan pada 1 kg talc steril pada loyang (1:2), dan dikeringanginkan.

Cara aplikasi formula biofungisida pada bibit karet adalah dengan membuat lubang disekeliling bibit dengan kedalaman ± 7 cm. Kemudian formula ditaburkan sebanyak 50 g dan ditutup kembali dengan media tanam. Sedangkan pada pohon karet diaplikasikan dengan membuat lubang alur disekeliling pohon karet dengan kedalaman ± 10 cm dan berjarak 50 cm dari leher akar. Formula ditaburkan disekeliling pohon dan lubang alur ditutup kembali. Untuk tindakan pencegahan terhadap penyakit JAP, formula biofungisida dapat diaplikasikan sebelum tanam, baik di pembibitan maupun di lapang.

2. Formula pestisida nabati untuk hama pengerek buah kakao (PBK).

Penggerek buah kakao  merupakan hama yang sangat merusak karena menyebabkan biji kakao tidak berkembang, biji saling melekat dan berwarna hitam.  Stadia larva tinggal di dalam buah sampai menjelang berkepompong.  Hal inilah yang menyebabkan PBK lebih sulit dikendalikan dibandingkan hama kakao lainnya.  Rata-rata persentase serangan PBK berkisar 92,82 sampai 99,68%, dengan persentase kehilangan hasil berkisar 38,11% sampai  81,19%.

Pestisida nabati berbahan dasar daun babadotan (Ageratum conizoides) adalah pestisida yang relatif murah karena bahan dasarnya mudah diperoleh sebab  banyak tumbuh disekitar kita sebagai gulma.  Ekstrak kasar daun bandotan dengan pelarut metanol dapat menurunkan tingkat kehilangan hasil panen kakao sebesar 36,1%. Kemudian ekstrak bandotan-metanol ini diformulasi dengan menambahkan minyak serai wangi (Gambar 13).  Formula bandotan-serai wangi (BMS)  telah diuji pada perkebunan kakao yang terserang PBK. Formula dengan kosentrasi  5% yang disemprotkan pada buah kakao dengan interval  setiap 2 minggu mampu menurunkan persentase dan intensitas serangan PBK  sebesar 24,53% dan  30,22% lebih rendah dibandingkan dengan kontrol.  Formula BMS juga dapat menekan kehilangan hasil 27,34%.  Sifat pestisida nabati ini bersifat repelent sehingga dapat melindungi buah kakao dari serangan PBK, terutama mencegah hama ini bertelur di permukaan buah.

3. Biofungisida untuk mengendalikan P. Palmivora pada kakao.

Formula Biofungisida ini merupakan formula berbahan spora Trichoderma viride. Perbanyakan massal spora menggunakan media molase 5% pada suhu kamar. Kandungan spora dalam formula sekitar 1 x 106 cpu/gram. Dosis aplikasi pada buah kakao sekitar 10 gram/liter.  Aplikasi di lapangan dengan cara disemprotkan pada seluruh permukaan buah, terutama buah yang masih pentil berukuran antara 5 - 10 cm. Formula Biofungisida ini juga dapat diaplikasikan pada tanah dan dicampur dengan pupuk organik untuk mengendalikan patogen tular tanah dan sekaligus berfungsi sebagai pupuk hayati.